Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak masih mendalami kasus deepfake vulgar yang diduga dilakukan mahasiswanya. Terlapor berinisial RY kini masih belum diizinkan ikut perkuliahan.
"Senin, 18 Mei 2026 kami sudah mengaktifkan kembali perkuliahan tanpa kehadiran terduga pelaku," kata Ketua Satgas PPKPT Untan, Emilya Kalsum saat diwawancarai langsung di ruangannya, Senin (18/5/2026).
Ia menerangkan, dugaan kasus ini terbongkar pada Senin (11/5) lalu saat para mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2025 melakukan praktikum. Sehari kemudian, Satgas PPKPT Untan langsung bergerak menangani dugaan tersebut setelah viral di media sosial dan menjadi perhatian publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Emiliya, Satgas telah memanggil terduga pelaku untuk mencegah penyebaran lebih luas terhadap konten yang beredar sekaligus menciptakan ruang aman bagi para korban.
"Sebelum itu kami juga sudah memanggil terduga pelaku agar konten tersebut tidak beredar di mana-mana sehingga menciptakan ruang aman bagi korban. Korban juga kami minta untuk istirahat dulu dan tidak mengikuti kuliah sementara waktu," kata Emilya.
Tak hanya terhadap korban dan terlapor, satu angkatan juga diliburkan karena masalah ini. Setelah beberapa hari melakukan penanganan intensif, pihak kampus kembali mengaktifkan perkuliahan pada Senin (18/5). Namun, perkuliahan berlangsung tanpa kehadiran terduga pelaku.
Meski begitu, Emiliya menegaskan proses penanganan kasus masih terus berjalan. Hingga saat ini, Satgas baru melakukan satu kali gelar perkara untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan sanksi terhadap terlapor.
"Nah, ini belum bisa kami sampaikan," ungkapnya.
Kasus ini sebelumnya viral setelah sejumlah mahasiswa menemukan banyak foto perempuan yang diduga telah diedit menjadi konten vulgar di ponsel milik RY saat kegiatan praktikum berlangsung.
Korban disebut berasal dari lingkungan kampus, teman SMA pelaku hingga mahasiswi dari luar Kalbar.
