5 Hal Diketahui dari Kasus Deepfake Untan, Pelaku Manfaatkan Folder Foto Ijazah

Round Up

5 Hal Diketahui dari Kasus Deepfake Untan, Pelaku Manfaatkan Folder Foto Ijazah

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 15 Mei 2026 08:00 WIB
Dugaan pelecehan oleh mahasiswa Untan Pontianak yang mengedit foto teman menjadi vulgar menggunakan AI. (Dok. Istimewa)
Foto: Dugaan pelecehan oleh mahasiswa Untan Pontianak yang mengedit foto teman menjadi vulgar menggunakan AI. (Dok. Istimewa)
Pontianak -

Kasus edit foto vulgar menggunakan AI yang dilakukan mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Universitas Tanjungpura (Untan) tengah diusut pihak universitas. Yang menjadi korban bukan hanya mahasiswi di lingkungan Untan, tetapi juga teman-teman SMA pelaku hingga mahasiswi universitas lain di Kalbar.

Selagi investigasi internal berjalan, pemuda berinisial RY tersebut untuk sementara diberhentikan kuliah. Mirisnya, perkuliahan juga dihentikan untuk semua mahasiswa yang satu angkatan dengan terlapor dan para korban.

Awal Mula Deepfake Terungkap

Salah seorang korban berinisial S menceritakan bagaimana kasus foto editan AI vulgar atau deepfake ini akhirnya terungkap. Awalnya RY dan teman-temannya di angkatan 2025 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sedang melakukan praktikum mata kuliah Sistematika Mikroba pekan lalu. Saat itu, teman RY meminjam ponselnya untuk keperluan dokumentasi praktikum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu teman sekelasnya lagi praktikum sistematika mikroba. Mereka minjam HP dia buat dokumentasi," ujar S kepada detikKalimantan, Kamis (14/5/2026).

Setelah selesai memotret, teman RY disebut membuka galeri untuk mengecek hasil dokumentasi praktikum. Namun, mereka justru menemukan banyak foto perempuan yang dikenal tersimpan di dalam ponsel tersebut.

"Pas buka galeri, temannya heran kok banyak muka orang yang dia kenal. Pas dicek ternyata banyak sekali foto-foto tidak senonoh yang sudah diedit pelaku," tuturnya.

Meski sudah mengetahui kasus tersebut sejak awal, S dan korban lain awalnya memilih diam sembari menunggu teman-teman RY mengumpulkan bukti.

"Jadi pada saat itu, karena waktu itu saya juga lagi capek banget, banyak kegiatan dan lain-lain, saya mau marah juga nggak bisa, mau nangis juga kayak sudah capek, jadi saya brush it off lah masalah itu, berusaha buat melupakan. Karena kalau misalnya ingin dipikirkan lebih lama, dipikirkan lebih lanjut, itu hanya akan merusak mental saya sendiri," kata S.

Korban Tak Cuma Mahasiswi Untan

Menurut S, kasus tersebut kemudian viral setelah sejumlah foto hasil editan tak senonoh beredar luas di media sosial dan grup percakapan mahasiswa. Bahkan salah satu teman laki-laki S yang marah karena ada foto pacarnya, padahal pacarnya tidak pernah berinteraksi dengan pelaku.

"Banyak sekali foto teman-teman saya, bahkan foto pacarnya sendiri juga diubah menjadi konten vulgar yang tidak senonoh," katanya.

S dan pelaku pernah satu SMA di Singkawang. S menyebut hampir semua teman satu SMA menjadi korban.

"Teman dari SMA hampir semuanya jadi korban. Ada juga korban yang teman kuliah, bahkan ada yang nggak satu sekolah juga kena edit fotonya," beber S.

Ambil dari Medsos hingga Google Drive Foto Ijazah

S menilai tindakan pelaku sangat melanggar privasi para korban. Sebab, sejumlah foto disebut diambil dari media sosial hingga Google Drive bersama yang digunakan untuk keperluan ijazah SMA.

"Foto-foto itu ada yang diambil dari Google Drive bersama untuk penyimpanan foto ijazah, ada juga yang di-screenshot dari media sosial kami," ujarnya.

Meski kasus ini berujung viral, S menyebut pelaku masih aktif meski perangkat elektroniknya dikabarkan telah diamankan pihak kampus. Ia juga menyayangkan adanya upaya menutupi kasus ini dari pihak pelaku.

"Karena seperti yang kami tahu, pihak Untan dan orang tua pelaku masih berusaha mendiamkan dan meredupkan kasus ini secara perlahan. Bahkan walaupun HP dan gadget dia disita kampus, dia masih terlihat aktif di Instagram dan TikTok," katanya.

Tanggapan Universitas dan BEM FMIPA

Terpisah, Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Untan Emilya Kalsum memastikan kasus tersebut sedang diproses. Kendati begitu, Emilya tidak bisa menyampaikan hasil pendataan jumlah korban karena masih dalam proses penanganan.

"Sudah ditangani dan sedang dalam proses," kata Emilya saat dikonfirmasi detikKalimantan.

BEM FMIPA Untan turut mengecam keras dugaan tindakan pelecehan seksual di lingkungan kampus. Mereka berharap pelaku dapat dijatuhi sanksi berat sesuai aturan yang berlaku.

"Kami berharap pelaku mendapatkan sanksi yang berat karena dalam kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, kami BEM FMIPA sangat mengecam keras tindakan tersebut," ujar salah satu pengurus BEM FMIPA Untan yang enggan disebutkan namanya.

Perkuliahan Satu Angkatan Dihentikan Sementara

Emilya mengatakan pihaknya telah memberikan arahan kepada pimpinan FMIPA untuk menghentikan sementara aktivitas perkuliahan terlapor. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka proses investigasi sekaligus menciptakan ruang aman bagi korban maupun terlapor selama penanganan kasus berlangsung.

"Dalam rangka pelaksanaan proses investigasi serta penciptaan ruang aman bagi korban dan terlapor, Satgas PPKPT Untan telah memberikan arahan kepada pimpinan FMIPA agar menghentikan sementara perkuliahan," kata Emilya saat dikonfirmasi detikKalimantan, Kamis (14/5/2026).

Ia menambahkan, pemberhentian sementara perkuliahan ini berlaku untuk satu angkatan terlapor dan korban.

"Satu angkatan dihentikan sementara perkuliahannya," jelasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Teror Deepfake Vulgar di Untan, 9 Orang Jadi Korban"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads