FSGI Rangkum Kasus Kekerasan di Sekolah Januari-Maret 2026: Ada di Kaltim

FSGI Rangkum Kasus Kekerasan di Sekolah Januari-Maret 2026: Ada di Kaltim

Novia Aisyah - detikKalimantan
Selasa, 07 Apr 2026 13:00 WIB
Illustrator 10 with Transparencies. Tight vector background illustration of a stop sign with the graffiti word rape. Add a headline and body copy or take out the background and make spot art. Check out my “Conceptual Signs” light box for more.
Ilustrasi setop pemerkosaan/Foto: iStock
Balikpapan -

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan temuan mereka terkait kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang Januari sampai Maret 2026. Ada dari Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam 3 bulan pertama 2026 telah terjadi 22 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Mayoritas (91%) kasus kekerasan seksual (KS). Sedangkan lainnya berupa kekerasan fisik (9%). Data itu bersumber dari pemberitaan di media massa dan jaringan FSGI di berbagai daerah.

FSGI menemukan 68% kasus kekerasan terjadi di satuan pendidikan naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan 32% di satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung menyebut kasus kekerasan seksual di satuan pendidikan lingkungan Kemenag didominasi kejadian di pondok pesantren, yakni sebanyak 6 kasus dan 1 kasus di madrasah tsanawiyah (MTs).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan lokasinya, FSGI menemukan kekerasan di lingkungan pendidikan terjadi di 10 provinsi dengan 19 kabupaten/kota yang rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Pamekasan dan Jember (Jawa Timur)
  2. Sukabumi, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Cianjur (Jawa Barat)
  3. Kebumen (Jawa Tengah)
  4. Kota Yogyakarta (DIY)
  5. Kota Tangerang (Banten)
  6. DKI Jakarta
  7. Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Samarinda, dan Balikpapan (Kalimantan Timur)
  8. Kota Pekanbaru (Riau)
  9. Lombok Tengah dan Lombok Timur (NTB)
  10. Sabu Timur dan Sikka (NTT)

FSGI menilai sejak Permendikbudristek No 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan dinyatakan tidak berlaku dan digantikan Permendikdasmen No 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, maka penanganan kekerasan di sekolah jadi tidak jelas dan perlindungan terhadap anak di lembaga pendidikan menurun.

"Permendikdasmen No 6/2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman tidak sama sekali menyebutkan jenis kekerasan di satuan pendidikan dan rinciannya, tidak mengatur alur penanganan kasus kekerasan, bahkan tidak mengatur sanksi bagi pelaku kekerasan," ungkapnya melalui keterangan yang diterima detikEdu, ditulis Selasa (7/4/2026).

FSGI membandingkan, pada 2025, terdapat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan. Pihaknya memprediksi, angka kekerasan di lingkungan pendidikan akan terus bertambah sampai akhir 2026.

Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti mengatakan dari 22 kasus yang telah ditemukan, artinya dalam sebulan rata-rata terjadi 7 kasus kekerasan. "Kekerasan fisik serta bully justru menurun dalam 3 bulan pertama tahun 2026, sementara kekerasan seksual meningkat tajam," ujarnya.

Pelaku dan Korban Kekerasan Seksual

FSGI menemukan korban kekerasan seksual berjumlah 83 orang. Sebagai rincian, korban terdiri dari 41 anak laki-laki, 40 anak perempuan, dan 2 tenaga kependidikan perempuan. Kemudian, korban kekerasan fisik ada 3 orang, yang pelakunya juga sesama peserta didik.

"Data ini menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual tidak hanya anak perempuan tetapi juga anak laki-laki, bahkan dengan jumlah yang hampir sama dan korban KS anak laki-laki lebih banyak," kata Retno.

Di sisi lain, FSGI menemukan pelaku kekerasan seksual didominasi guru sebanyak 54,5%. Pelaku kekerasan seksual terbanyak kemudian diikuti oleh pelaksana tugas kepala sekolah 4,5%, pimpinan ponpes 18%, sesama siswa 14%, tenaga kependidikan 4,5%, dan pelatih Pramuka 4,5%.

Baca selengkapnya di sini.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads