Bunyi Mantra Minum Pengasih Dayak Bulusu di Tana Tidung

Bunyi Mantra Minum Pengasih Dayak Bulusu di Tana Tidung

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 28 Okt 2026 06:05 WIB
Budaya Ginum Pengasih di Kabupaten Tanah Tidung (KTT) saat pesta pernikahan warga. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Foto: Budaya Ginum Pengasih di Kabupaten Tanah Tidung (KTT) saat pesta pernikahan warga. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tana Tidung -

Tradisi unik datang dari Suku Dayak Bulusu di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Penghormatan kepada tamu dilakukan dengan menyuguhkan minum pengasih atau Ginum Pengasih.

Tradisi minuman pengasih berakar dari rangkaian pernikahan adat Dayak Bulusu. Pelaksanaannya juga mengikuti sejumlah tahapan yang harus dilakukan dengan runtut. Prosesi diawali dengan kedatangan pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan untuk meminang atau melamar. Dalam tahapan ini, pihak laki-laki membawa purut sebagai persyaratan. Kedua keluarga lalu menyepakati tanggal pernikahan dan jumlah purut atau mahar yang akan dipenuhi.

Dalam publikasi berjudul Mantra pada Tradisi Minuman Pengasih dalam Pernikahan Suku Dayak Belusu: Kajian Folklor oleh Sulistriani dkk., disebutkan bahwa jumlah yang lazim dipenuhi mencapai 30 tempayan, ditambah uang minimal Rp 30 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjelang hari pernikahan, keluarga pihak laki-laki berkumpul sehari sebelumnya. Saat berkumpul inilah minuman pengasih dihidangkan sebagai bentuk penghormatan kepada rombongan dan tamu yang datang. Selanjutnya, mempelai laki-laki bersama rombongan naik ke rumah mempelai perempuan dalam prosesi yang disebut masak ngandu, maknanya adalah naik untuk menikah.

Setelah itu, rombongan menuju balai atau rumah adat. Keluarga pihak perempuan berbaris untuk menyambut rombongan laki-laki, biasanya diiringi tari perang. Setiap anggota rombongan laki-laki yang memasuki balai wajib mengikuti tradisi minum pengasih yang disuguhkan oleh pihak perempuan. Sebelum dibagikan, minuman tersebut terlebih dulu dibacakan mantra atau doa yang disebut ngangkab.

Mantra Minuman Pengasih dalam Pernikahan Dayak Bulusu

Mantra minuman pengasih dibacakan oleh pemangku adat atau orang penting di keluarga yang ditunjuk. Dari publikasi Sulistriani dkk., ngangkab terdiri dari satu bait dan lima baris. Berikut bunyi mantra yang digunakan dalam tradisi minuman pengasih:

"Yadu lawang yaki bugang, maya'klangkang belawan. Aku gencakai diyun manuk kenawai, aku ngangkab da'engkupu mai duo ala so engkupu mai duo tu ntamu hal da'odou pio. Sino masala'no hal lidue berantakan, mino okou manuk mampas so, ko manuk itu languat so".

Secara umum, isi ngangkab adalah permohonan kepada Tuhan untuk memberikan perlindungan dari bahaya, melancarkan kegiatan yang akan dilaksanakan, dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berumah tangga.

Terjemahannya berbunyi:

"Tuhan Allah turun ke bumi melalui keranjang (palungan). Saya mempersembahkan seekor ayam putih untuk menghindari segala macam bahaya yang tidak diinginkan agar tidak ada masalah, serta diberi kelancaran setiap kegiatan yang dilaksanakan, dan rukun dalam setiap berumah tangga".

Budaya Ginum Pengasih di Kabupaten Tanah Tidung (KTT) saat pesta pernikahan warga. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantanBudaya Ginum Pengasih di Kabupaten Tanah Tidung (KTT) saat pesta pernikahan warga. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan.

Mantra Diucapkan Sebelum Minuman Disuguhkan

Masyarakat Dayak Belusu percaya mantra yang dibacakan sebelum meneguk minuman pengasih bisa menolak bala sekaligus memohon kepada leluhur (yakibuk) agar dihindarkan dari hal-hal buruk yang dapat mengganggu jalannya upacara adat.

Mantra ini konon masih sama karena dijaga secara turun-menurun. Ada tuturan khusus juga saat membacakannya, sebagian berbahasa Dayak Bulusu, sebagian lainnya berbahasa Indonesia. Perpaduan ini dimaksudkan agar mudah dipahami para tamu yang berasal dari luar daerah.

Pembacaannya juga tidak mensyaratkan sesajen khusus. Alasannya karena fokus pembacaan mantra adalah sebagai bentuk penghormatan dan meminta pertolongan kepada roh leluhur. Harapannya tak lain agar masyarakat terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan selama upacara berlangsung.

Pegurungan, Makan Bersama Kedua Mempelai

Setelah acara penyambutan dan minum pengasih, acara berlanjut ke tahap puncak yang disebut pegurungan atau makan bersama. Dalam prosesi ini, kedua mempelai duduk di atas gong, lengkap mengenakan pakaian adat Dayak Bulusu. Di bagian tengah balai, makanan disusun memanjang dan ditata rapi untuk dinikmati bersama, mirip dengan liwetan.

Kedua mempelai makan bersama sambil mendengarkan nasihat orang tua untuk bekal menjalani kehidupan rumah tangga. Setelah makan bersama, kedua mempelai juga diwajibkan meminum pengasih. Dengan demikian, tradisi ini juga harus diikuti oleh pasangan yang menikah.

Di waktu yang sama, kedua keluarga membicarakan waktu untuk mengantar mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki. Tahapannya disebut ngatod giwan. Kesepakatan pengantaran sendiri biasanya dilaksanakan tidak lama setelah pernikahan, paling lama sekitar satu minggu. Setelah prosesi ngatod giwan selesai, mempelai perempuan secara adat mengikuti suaminya untuk membangun kehidupan rumah tangga baru.

Itulah bunyi mantra dan fungsinya sebagai doa pertolongan. Prosesi ini harus diikuti tiap calon pengantin Dayak Bulusu yang akan menempuh hidup baru. Dengan pembacaan mantra dan minum pengasih, harapannya rumah tangga pengantin akan berjalan di bawah lindungan yakibuk atau roh leluhur.



(sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads