Legenda Tiga Bersaudara dan Keajaiban Alam Sungai Mahakam

Cerita Rakyat

Legenda Tiga Bersaudara dan Keajaiban Alam Sungai Mahakam

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Rabu, 07 Okt 2026 10:30 WIB
Legenda Sayus dan Siluq, terbentuknya keajaiban alam Sungai Mahakam Kaltim. (Gemini AI)
Foto: Legenda Sayus dan Siluq, terbentuknya keajaiban alam Sungai Mahakam Kaltim. (Gemini AI)
Balikpapan -

Indonesia menyimpan warisan legenda yang turun temurun, salah satunya cerita rakyat yang berasal dari Kalimantan Timur. Di hulu Sungai Mahakam, ada kisah yang membawa kita pada petualangan tiga bersaudara, Siluq yang sakti, Sayus si raksasa ceroboh, dan Songo yang pemalas.

Dari perselisihan di antara mereka, tanpa disadari justru melahirkan berbagai keajaiban di daerah tersebut, mulai dari terciptanya satwa endemik hingga terbentuknya jeram dan pulau-pulau di Sungai Mahakam.

Berikut Legenda Tiga Bersaudara dan Keajaiban Alam Sungai Mahakam yang dikutip dari buku Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur terbitan Kemdikbud.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Tiga Bersaudara

Di hulu Sungai Mahakam, tinggallah tiga bersaudara yang memiliki sifat sangat bertolak belakang. Sang kakak tertua bernama Siluq, perempuan cantik yang setiap hari hanya sibuk berbelian atau memuja dewa untuk mencari ilmu kesaktian.

Adik pertamanya adalah Sayus, raksasa kuat yang mampu membesar dan mengecilkan tubuh, namun sifatnya ceroboh dan suka mencampuri urusan orang. Sementara itu, si bungsu Songo sangat pemalas karena kerjanya setiap hari hanyalah makan dan tidur mendengkur.

Suatu malam, badai hebat merusak atap pondok mereka sehingga semua tikar dan kelambu menjadi basah kuyup. Keesokan paginya, Sayus memutuskan pergi ke hutan mencari daun serdang untuk memperbaiki atap tersebut.

Sayus meminta Siluq untuk menjaga rumah dan memasak karena persediaan ikan mereka sudah habis. Siluq pun menuruti permintaan itu meski hatinya kesal karena ritual kesaktiannya terpaksa harus diulang dari awal.

Pantangan yang Dilanggar

Saat hendak memasak, Siluq baru menyadari bahwa wadah beras di dapur mereka sudah benar-benar kosong. Ia akhirnya menggunakan sihir untuk merebus tujuh helai daun padi agar berubah menjadi nasi yang lezat.

Sebelum pergi ke sungai untuk mencuci, Siluq berpesan keras kepada Sayus agar menjaga api tungku. Ia memberi pantangan atau tuhing agar Sayus tidak membuka tutup periuk itu sebelum dirinya kembali.

Tak lama kemudian, Sayus pulang dari hutan membawa daun serdang dan seekor babi hasil buruannya. Karena sudah terlalu lapar menunggu kakaknya, rasa penasaran Sayus pun mengalahkan kepatuhannya pada pesan Siluq.

Sayus nekat membuka tutup periuk itu dan sangat terkejut melihat isinya yang aneh. Akibat pantangan yang dilanggar, sihir Siluq pun hancur sehingga separuh isi periuk tetap berupa daun padi.

Kepergian Siluq ke Pusat Air

Siluq yang baru pulang sangat marah melihat kelakuan adiknya yang ceroboh dan tidak bisa dipercaya. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah menuju pusat air agar bisa tenang beribadah tanpa gangguan.

Saat bergegas pergi, sarung belah atau tapeh silaq milik Siluq tersangkut pada ikatan babi di halaman. Siluq menendang babi berbalut daun serdang itu dengan penuh amarah hingga luapan sihirnya mengubah hewan tersebut menjadi badak bercula tebal.

Setelah itu, Siluq melompat ke atas rakit bersama ayam jantannya dan meluncur deras mengikuti arus sungai. Sayus yang tersadar dari rasa kagetnya segera berlari menyusuri tepi sungai untuk mencegah kepergian kakaknya.

Sayus berkali-kali melempar batu raksasa maupun lumpur untuk membendung sungai, namun semuanya hancur lebur saat ayam jantan Siluq berkokok. Bendungan batu yang hancur itu kini menjadi jeram atau keham di hulu sungai, sedangkan bendungan lumpurnya berubah menjadi delta di Kuala Mahakam.

Siluq terus melaju dan berpesan agar adik-adiknya tidak perlu mencemaskan urusan makanan di masa depan. Ia berjanji akan mengirimkan burung kangkaput sebagai pertanda datangnya musim panen yang berlimpah bagi mereka.

Petualangan Sayus Menuju Pulang

Sayus duduk termenung menyesali kecerobohannya, lalu bertekad untuk kembali pulang demi mendidik Songo dengan lebih baik. Di tengah perjalanan pulang, ia mengubah wujudnya menjadi anak kecil agar bisa menumpang perahu seorang kakek menuju muara.

Kakek itu membawa banyak ikan asap atau jukut salai untuk ditukar dengan beras di sebuah festival. Karena sangat lapar, Sayus diam-diam menghabiskan semua ikan itu di balik tirai bilik perahu tanpa ketahuan sang kakek.

Saat tiba di kampung yang sedang mengadakan upacara perayaan adat atau erau, sang kakek kebingungan karena barang dagangannya habis tak bersisa. Sayus menenangkannya dan berjanji akan mencari beras sebagai ganti rugi dengan cara mengikuti lomba di keramaian tersebut.

Sayus menantang pria terbesar di sana dalam lomba adu tendang betis atau bebenteh dengan taruhan nyawa melawan beras. Hanya dengan sekali tendangan kuat, Sayus berhasil merobohkan lawannya dan memenangkan seribu kaleng beras untuk kakek tersebut.

Setelah membuatkan rakit agar kakek itu bisa membawa pulang berasnya, Sayus kembali mengubah tubuhnya menjadi raksasa. Ia memancing banyak ikan di sungai dan menjemur pakaiannya di atas akar pohon besar yang sengaja dicabutnya.

Pulau yang Terbelah

Setibanya di pondok, Sayus membangunkan Songo yang masih tertidur pulas dan mengajaknya pergi mencari Siluq. Mereka akhirnya sepakat membuat perahu besar yang diisi banyak perbekalan untuk mengarungi Sungai Mahakam.

Saat tiba di perairan yang sangat lebar, nyali Songo tiba-tiba menyusut karena takut menghadapi lautan luas. Songo bersikeras ingin memutar arah untuk pulang, sementara Sayus tetap teguh dengan pendiriannya melanjutkan pencarian.

Keduanya saling beradu tenaga mendayung perahu ke arah yang berlawanan hingga perahu kayu itu patah menjadi dua bagian. Patahan perahu yang tenggelam itu perlahan tertimbun tanah, lalu wujudnya berubah menjadi Pulau Yupa dan Pulau Tenggarong.

Sayus dan Songo akhirnya berenang menepi lalu berjalan kaki kembali menuju desa asal mereka. Mereka sepakat untuk hidup rukun membangun kampung bersama warga, sambil membiarkan Siluq bahagia dengan pilihannya di pusat air.

Pesan Moral

Kisah ini kaya akan nilai-nilai budi pekerti yang sangat pas untuk disampaikan kepada audiens anak-anak maupun keluarga, karena mengajarkan pentingnya kesabaran dan kerukunan lewat elemen fantasi. Berikut adalah pesan moral dalam cerita tersebut:

Pentingnya Menjaga Amanah dan Bersabar

Bagian ini muncul saat Sayus melanggar larangan atau pantangan dari Siluq. Karena tidak sabar menahan lapar, ia nekat membuka tutup periuk sebelum waktunya. Akibatnya, sihir kakaknya hancur dan separuh isi periuk batal menjadi nasi.

Saling Menghargai dan Tidak Memaksakan Kehendak

Terlihat dari sikap Sayus yang terus mencampuri dan mengeluhkan kebiasaan kakaknya yang gemar berbelian (memuja dewa). Ketidakmampuan Sayus menghargai ruang pribadi kakaknya membuat Siluq habis kesabaran dan memutuskan pergi dari rumah.

Berani Mengakui Kesalahan dan Tanggung Jawab

Momen ini terjadi setelah Siluq menghilang di lautan. Sayus duduk termenung meratapi perselisihan mereka, lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki sikap. Ia bangkit dan mengambil alih tanggung jawab penuh untuk menjaga serta mendidik adiknya, Songo.

Akibat Buruk dari Sifat Keras Kepala dan Egois

Adegan ini berada di akhir petualangan saat Sayus dan Songo menaiki perahu besar. Songo yang ketakutan memaksa ingin memutar balik perahu, sementara Sayus berkeras mendayung maju. Karena tidak ada yang mau mengalah, perahu mereka akhirnya patah terbelah dua dan menenggelamkan harapan mereka.

Menghindari Sifat Pemalas

Pesan ini ditunjukkan melalui karakter Songo di awal cerita yang kerjanya hanya makan dan tidur. Namun, cerita ditutup dengan perkembangan karakter Songo yang sadar, lalu setuju dengan ajakan kakaknya untuk mulai hidup rukun dan rajin membangun desa bersama warga.

Halaman 2 dari 3
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads