Nusantara memiliki kekayaan dongeng dan legenda yang sarat akan pesan moral kehidupan, salah satunya berasal dari tanah Kalimantan. Kisah penuh hikmah tentang asal-usul burung yoog uung ini diadaptasi dari buku Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Legenda Burung Yoog Uung
Sebelum matahari terbit, dua pemuda suku Bahau bernama Hembang dan Lewing sudah terbangun meski mata mereka masih mengantuk berat. Mereka sibuk memperbaiki keranjang rotan dan tombak yang rusak akibat amukan babi hutan di hulu Sungai Maboh sehari sebelumnya.
Suara riuh babi hutan di balik bukit terdengar bersahut-sahutan, membuat kedua pemuda itu tidak sabar menunggu pagi datang. Sambil menunggu, Hembang menanak nasi untuk sarapan, sedangkan Lewing pergi ke tepian sungai memeriksa perahu sambil menggulung rokok daun nipah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah perut kenyang, Hembang dan Lewing segera mengayuh perahu mereka menyusuri aliran air Sungai Mahakam. Sepanjang jalan, perjalanan mereka ditemani riuhnya suara burung dan kera yang sedang berpesta buah baraan masak di dahan pepohonan.
Arus sungai hari itu cukup deras hingga memunculkan buih putih di tengah ombak, tempat ikan-ikan seluang berloncatan dengan riang. Perahu mereka akhirnya tiba di kawasan berbatu yang membelah tebing gunung hingga ke hilir Kampung Memahak Tebo.
Hembang dan Lewing singgah sejenak di tempat bersejarah itu, mengamati bekas lahan rumah sebuah keluarga kaya raya yang melegenda. Di sanalah Kakek Ibau, Nenek Mujaan, dan anak tunggal mereka pernah hidup makmur bergelimang harta.
"Dulu Kakek Ibau sering duduk di bangku ulin ini untuk mengukir gagang pedang mandaunya," kata Lewing sambil menunjuk sebuah bangku kayu tua. Hembang pun mengangguk setuju sambil mengorek tanah yang konon dahulu bercampur dengan serbuk tulang ukiran sang kakek.
Lewing lalu bercerita bahwa Kakek Ibau dan Nenek Mujaan adalah pasangan suami istri yang sangat rajin bekerja tanpa kenal lelah. Mereka selalu berangkat ke ladang sebelum fajar dan baru pulang setelah matahari terbenam, sehingga panen mereka selalu melimpah ruah.
Kekayaan yang menggunung itu membuat mereka sering menggelar pesta besar, termasuk saat memberi nama anak tunggal mereka, Tingang. Sayangnya, karena terlalu dimanjakan dan tidak pernah ditegur, Tingang tumbuh menjadi pemuda pemalas yang hanya gemar berfoya-foya.
Hari demi hari dihabiskan Tingang untuk berjudi dan mabuk bersama teman-temannya tanpa peduli pada keadaan keluarganya. Suatu hari, Kakek Ibau jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Nenek Mujaan yang mulai menua.
Sepeninggal suaminya, Nenek Mujaan terpaksa menggarap ladang sendirian karena Tingang hanya tahu tidur dan bermalas-malasan di rumah. Lama-kelamaan tubuh rentanya tidak sanggup lagi bertani, sehingga ia beralih menjadi buruh penumbuk padi demi menyambung hidup.
Harta warisan pun kian menipis karena terus-menerus dicuri dan dijual oleh Tingang untuk kesenangannya sendiri. Pernah suatu hari Nenek Mujaan membawakan sisa makanan yang didapatnya dari bekerja, tetapi Tingang malah membuangnya sambil memaki sang ibu.
Hati Nenek Mujaan sangat hancur melihat kelakuan kasar anaknya, hingga akhirnya ia jatuh sakit parah tanpa ada biaya untuk berobat. Satu-satunya harta yang tersisa hanyalah kalung manik pusaka warisan suaminya, yang selalu ia simpan sebagai kenang-kenangan yang berharga.
Bukannya merawat sang ibu yang sedang sekarat, Tingang justru tega mencuri kalung pusaka kesayangan ibunya tersebut. Penderitaan lahir batin yang tak tertahankan akhirnya membuat Nenek Mujaan menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan nelangsa.
Kematian ibunya sama sekali tidak membuat Tingang bersedih, karena ia justru merasa bebas untuk menjual sisa harta pusaka. Pemakaman ibunya pun sengaja ia abaikan, sehingga hanya diurus oleh warga kampung yang merasa iba.
Pada suatu malam yang gelap gulita, Tingang diam-diam kabur menggunakan perahu menuju kota untuk menjual kalung berharga itu. Ia terus mengayuh perahunya mengikuti arus deras Sungai Mahakam yang kebetulan saat itu sedang meluap karena banjir besar.
Rupanya para dewa murka atas kedurhakaan Tingang, sehingga perahunya dijebak dalam pusaran air mengerikan di kawasan Lirung Makalaang. Perahu itu pun karam berkeping-keping, menenggelamkan kalung pusaka curian itu jauh ke dasar sungai yang pekat.
Tingang yang kedinginan dan kelaparan akhirnya terdampar di sebuah dahan pohon mati, lalu pingsan tak sadarkan diri. Ketika siuman, ia melihat secercah cahaya lampu dari kejauhan dan terus berteriak meminta tolong hingga wujudnya tiba-tiba berubah.
Pemuda durhaka itu dikutuk menjadi seekor burung yang terus berbunyi "mamaaq kuung" dan kini dikenal sebagai burung yoog uung. Keturunan burung ini mewarisi sifat asli Tingang, selalu hidup menyendiri di hutan dan enggan berkumpul dengan kawanannya.
Pesan Moral
Berikut beberapa pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas:
- Menghormati dan Menyayangi Orang Tua: Kasih sayang ibu sangatlah besar dan tidak bersyarat, sehingga seorang anak wajib berbakti serta merawat orang tuanya, terutama saat mereka sedang sakit. Sikap durhaka dan menyakiti hati orang tua hanya akan mendatangkan kesengsaraan dalam hidup.
- Pentingnya Bekerja Keras dan Tidak Bermalas-malasan: Kesuksesan dan kemakmuran keluarga Kakek Ibau diraih melalui kerja keras tanpa kenal lelah. Sebaliknya, sifat pemalas yang hanya mengandalkan harta orang tua justru akan membawa kehancuran di kemudian hari.
- Menjauhi Sifat Serakah dan Berfoya-foya: Harta benda seharusnya digunakan dengan bijak untuk hal-hal yang bermanfaat. Keserakahan hingga tega mencuri barang berharga milik keluarga sendiri adalah perbuatan tercela yang akan berujung pada malapetaka.
- Setiap Perbuatan Memiliki Konsekuensi: Kisah ini menjadi pengingat yang kuat bahwa segala tindakan, baik maupun buruk, pasti akan menerima balasan yang setimpal. Hukuman yang menimpa Tingang mengajarkan bahwa perbuatan jahat tidak akan pernah membawa kedamaian.
