Kalimantan Tengah memiliki batik khas yang dikenal dari suku Dayak. Benang Bintik namanya. Kain ini memiliki ragam motif yang diambil dari kehidupan, alam, rumah adat, senjata, dan kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju.
Motif-motif tersebut di antaranya ada Batang Garing, Huma Betang, ukiran Dayak, senjata, naga, Balanga, dan berbagai motif campuran. Ada pula motif yang terinspirasi dari alam seperti Talawang, Kalalawit, Bajakah Kalalawit, Tabiku atau Kantong Semar, dan Burung Enggang.
Dilihat dari warnanya, Benang Bintik punya karakter yang cukup berani. Warna yang banyak digunakan adalah merah, biru, kuning, dan hijau, yang dipadukan dengan warna gelap seperti hitam dan cokelat. Kain yang biasa digunakan adalah katun, sutera, ataupun campuran sutera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuk, lihat berbagai macam motif Benang Bintik khas Kalimantan Tengah!
Batang Garing
Motif Batang Garing. Foto: Dok. Istimewa (Rahmawati et al.) |
Motif yang paling menonjol dari Benang Bintik adalah motif Batang Garing atau Batang Haring. Motif ini hampir ada di semua Benang Bintik. Maknanya juga sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju, berkaitan dengan kepercayaan spiritual mereka.
Dalam kepercayaan Dayak Ngaju, Batang Garing adalah simbolisasi dari Ranying Hatalla Langit atau Tuhan yang Maha Esa. Bentuk pohonnya yang menjulang seperti tombak melambangkan alam atas atau hubungan dengan Tuhan, sementara bagian lainnya menggambarkan hubungan dengan dunia bawah atau kehidupan manusia.
Daun pada pohon digambarkan juga dengan ekor burung Enggang, sedangkan buah adalah simbol dari manusia. Batang Garing sebenarnya merepresentasikan tiga tingkatan, mulai dari tingkatan alam atas sebagai tempat Ranying Hatalla Langit, bumi atau Pantai Danum Kalunen sebagai bumi tempat manusia, dan alam bawah atau air yang berkaitan dengan Jata Balawang Bulau atau pasangan dari Ranying Hatalla Langit.
Huma Betang dan Talawang
Motif Talawang. Foto: Dok. Istimewa (Rahmawati et al.) |
Motif Huma Betang terinspirasi dari rumah panjang tradisional Dayak Kalimantan Tengah. Motif ini merepresentasikan kehidupan bersama, kebersamaan, kesetaraan, kejujuran, dan toleransi.
Nilai tersebut juga berkaitan dengan falsafah Belom Bahadat. Dalam bahasa Dayak, Belom berarti kehidupan, sedangkan Bahadat berarti beradat atau sopan santun. Jadi, motif ini bersimbolkan masyarakat Dayak yang menjunjung kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupannya.
Sementara itu, motif Talawang diambil dari bentuk tameng atau perisai khas Dayak. Talawang adalah simbol dari keberanian, perlindungan, kekuatan, dan identitas masyarakat Dayak. Ada juga motif Mandau, senjata tradisional Dayak, yang menjadi pelengkap dari motif-motif utamanya. Selain Mandau, ada pula motif ukiran Dayak, Bajakah, Huma Betang, dan Balanga yang sering tampil di kain Benang Bintik.
Balanga, Tabiku, dan Burung Enggang
Motif Bajakah Kalalawit. Foto: Dok. Istimewa (Rahmawati et al.) |
Motif Balanga diambil dari guci atau tempayan. Motif ini disimbolkan sebagai harapan kepada Tuhan dan leluhur, serta harapan untuk kebaikan manusia dan makhluk lain di bumi maupun di alam gaib.
Selain Balanga, ada juga motif Tabiku atau Kantong Semar yang tak lain terinspirasi dari tumbuhan kantong semar (Nepenthes) yang memang banyak ditemukan di Kalimantan. Motif ini sekaligus menggambarkan keanekaragaman hayati yang dimiliki Kalimantan.
Sementara motif Enggang atau Tinggang juga menjadi motif yang banyak digunakan karena keberadaan burung ini sendiri sangat penting dalam kebudayaan Dayak. Burung Enggang adalah simbol kebangsawanan dan perlindungan yang hampir selalu ada di tiap acara tradisional Dayak di Kalimantan. Keberadaan hewan ini sangat sakral karena melambangkan kebesaran, kemuliaan, perdamaian, persatuan, serta kekuatan.
Motif tumbuhan lainnya ada Kalalawit dan Bajakah Kalalawit. Keduanya merupakan simbol keterikatan antara manusia satu dengan lainnya. Sebagai manusia, kita tidak bisa hidup sendiri dan bergantung pada manusia lain di sekitar kita.
Banyaknya ragam motif Benang Bintik menunjukkan bagaimana alam, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Dayak Ngaju yang saling berhubungan satu sama lain, dan hubungan itu diterjemahkan ke dalam selembar kain. Keunikan ini membuat Benang Bintik menjadi identitas dan warisan budaya dari Kalimantan Tengah, termasuk dalam ragam motif batik khas Nusantara.



