Makna Tambak Karang dalam Tradisi Erau Kutai

Makna Tambak Karang dalam Tradisi Erau Kutai

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 22 Sep 2026 06:00 WIB
Prosesi saat Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura Melakukan Seluang Mudik atau Melemparkan Beras ke Peserta yang Hadir. (Dok Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara)
Foto: Prosesi saat Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura Melakukan Seluang Mudik atau Melemparkan Beras ke Peserta yang Hadir. (Dok Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara)
Tenggarong -

Perhelatan Erau di digelar selama sebulan lamanya, dengan rangkaian acara selama satu minggu dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Berbagai prosesi adat dilakukan meriah dilengkapi ornamen dan kesenian khas Kutai.

Salah satu seni yang turut menyempurnakan rangkaian acara adat Erau adalah tambak karang, beras warna-warni yang disusun menjadi berbagai motif. Bentuk, warna, dan posisi motif tambak karang tidak sembarangan, ada aturan tertentu yang harus diperhatikan.

Tambak karang sebenarnya adalah dekorasi yang dibuat di lantai dari beras yang telah diberi berbagai macam warna. Beras disusun membentuk gambar atau motif tertentu dan berfungsi sebagai alas balai tempat pelaksanaan ritual adat Erau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aturan Motif Tambak Karang

Pembuatan tambak karang membutuhkan ketelitian karena setiap bagian tidak boleh ditempatkan secara sembarangan. Dalam publikasi berjudul Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong (Kajian Semiotika), dijelaskan ketika membuat tambak karang untuk Prosesi Adat Beluluh Sultan, pembuat tambak karang terlebih dahulu mendapatkan arahan dari Pemangku Adat.

Aturan itu termasuk penempatan bentuk dan keseimbangan warna. Beberapa motif juga memiliki warna yang tidak boleh diganti. Misalnya kolam menggunakan warna biru untuk menggambarkan air, motif pelangi berwarna dasar merah, kuning, dan hijau. Motif jembatan juga menggunakan warna yang sama dengan pelangi.

Soal penempatan bentuk juga memiliki makna tersendiri. Motif taman digambarkan di bagian depan, menghadap ke luar halaman kedaton. Hal ini karena taman sebagai halaman rumah dan tempat seseorang menerima tamu. Sebaliknya, motif kolam ditempatkan di bagian belakang karena menggambarkan sungai.

Motif Tambak Karang dan Kisah Putri Karang Melenu

Motif-motif tambak karang juga punya kisah menarik di baliknya. Dalam publikasi sebelumnya disebutkan bahwa motif-motif itu berkaitan dengan kisah kelahiran Putri Karang Melenu.

Dua naga yang berasal dari kisah Putri Karang Melenu digambarkan dalam tambak karang, lengkap dengan alur kelahiran sang Putri. Motif tangga, kolam, gelembung, pelangi, dan taman juga ikut menjadi pelengkap.

Naga sendiri menggambarkan naga dalam kisah Putri Karang Melenu, sedangkan tangga menggambarkan jalan yang digunakan naga untuk turun menuju sungai. Kolam menggambarkan sungai tempat naga diturunkan, sementara gelembung menggambarkan naga yang sudah masuk ke sungai. Pelangi dan taman menggambarkan latar ketika Putri Karang Melenu muncul pertama kali dari dalam Sungai Mahakam.

Adapun beberapa motif tambak karang lain dalam Erau di antaranya Lembuswana, Karang Genta, Karang Dungkul, Karang Indra Geni, Karang Terate, Karang Daulan, dan Karang Paoh.

Tambak Karang di Berbagai Prosesi Erau

Salah satu ritual Erau yang menggunakan tambak karang adalah Mendirikan Tiang Ayu sebagai prosesi awal dimulainya rangkaian Erau. Dalam prosesi ini, terlebih dulu dihamparkan jalik, kemudian di atasnya disusun tambak karang. Motif yang digunakan adalah empat naga dan seluang mas berwarna-warni.

Di atas tambak karang kemudian diletakkan kasur berwarna kuning yang dilapisi kain kuning bermotif merah atau Tapak Liman. Tiang Ayu atau tombak pusaka Sangkoh Piatu ditempatkan di atas kain. Keempat naga tambak karang mengarah ke sudut luar. Pisang dan telur ayam ditaruh di bagian mulut naga.

Selain itu, tambak karang juga ditemukan saat prosesi Beluluh Sultan. Dalam prosesi ini, Sultan duduk di atas balai bambu yang dikenal sebagai Balai 41 karena menggunakan 41 batang bambu. Tambak karang ditempatkan di bawah balai tersebut.

Ketika prosesi Beluluh selesai, beras tambak karang dikumpulkan dan dibawa keluar area kedaton. Warga yang telah menunggu akan memperebutkan beras itu karena dipercaya membawa berkah atau peruntungan.

Pembuatan tambak karang dulunya termasuk pekerjaan khusus. Motifnya pun dibuat oleh petugas dalam abdi kedaton yang keahliannya diwariskan turun-menurun.

Seiring berjalannya waktu, pembuatan tambak karang saat ini dibantu dengan pola atau cetakan agar lebih praktis. Walaupun tekniknya mengalami perubahan, fungsi tambak karang dalam Erau masih tetap dipertahankan.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads