Memulai Erau dengan Merangin, Undang Makhluk Gaib dari Langit dan Bumi

Memulai Erau dengan Merangin, Undang Makhluk Gaib dari Langit dan Bumi

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 20 Sep 2026 19:50 WIB
Prosesi Merangin dalam Erau.
Prosesi Merangin dalam Erau/Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Kutai Kartanegara -

Sebelum rangkaian Erau Adat Kutai dimulai, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura terlebih dulu menjalankan sejumlah ritual adat. Salah satunya adalah Merangin, ritual yang menjadi penanda bahwa pelaksanaan Erau akan segera dimulai.

Merangin termasuk dalam tahapan pra-Erau dan dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut. Ritual ini berlangsung di Serapo Belian dengan melibatkan para Belian dan Dewa melalui pembacaan memang atau mantra, diiringi pula oleh musik tradisional kelentangan.

Dalam publikasi Kelentangan Dalam Ritual Merangin Pada Upacara Erau di Tenggarong Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, Merangin disebut sebagai salah satu tahapan yang wajib dilaksanakan sebelum Erau dimulai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuan Merangin adalah mengabari kepada roh/makhluk gaib yang dipercaya menjaga Kutai Kartanegara bahwa upacara Erau akan segera dilaksanakan. Komunikasi tersebut sekaligus dimaksudkan untuk memohon agar rangkaian upacara berlangsung dengan selamat.

Selain itu, Merangin merupakan ritual pendahuluan wajib menjelang Erau yang bertujuan mengundang makhluk gaib agar ikut hadir dalam rangkaian upacara. Ritual ini melibatkan tujuh Belian, terdiri dari seorang ahli mantra, dan tujuh Dewa yang merupakan perempuan ahli mantra.

Tahapan Merangin

Merangin dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut. Di ketiga malam itu sebenarnya ritual yang dilakukan hampir sama, tetapi memang yang dibacakan ketua Belian memiliki tujuan yang berbeda. Pembagian tujuan itu berdasarkan tempat keberadaan makhluk gaib yang hendak diberitahu.

Pada malam pertama, pemberitahuan ditujukan kepada makhluk gaib yang berada di langit. Malam kedua ditujukan kepada yang berada di tanah, sedangkan malam ketiga untuk makhluk gaib yang berada di air. Pada malam ketiga pula makhluk-makhluk tersebut dipercaya dikumpulkan untuk mengikuti rangkaian Erau.

Sebelum ritual dimulai, berbagai perlengkapan dipersiapkan di Serapo Belian. Serapo memiliki ruang utama yang menjadi tempat Binyawan berdiri di tengahnya. Disiapkan juga seperangkat musik dan sesajen yang digunakan selama ritual berlangsung.

Sesajen terdiri dari kelapa, ketan, ayam, telur, jajak atau kue, beras kuning, kain merah, putih, hitam dan kuning, tepong tawar, dan bara api yang digunakan untuk membakar kemenyan. Ketika ritual dimulai, ketua Belian bersama enam Belian laki-laki duduk mengelilingi tiang Binyawan. Ketua Belian kemudian membacakan memang atau mantra.

Setelah pembacaan memang selesai, musik kelentangan berkumandang. Para Belian kemudian bergerak mengitari Binyawan. Tujuh Dewa ikut membakar kemenyan dan menghamburkan atau melempar beras kuning. Taburan beras kuning dilakukan bersamaan dengan gerakan para Belian dan iringan musik yang terus mengalun.

Proses selanjutnya para Belian laki-laki bergerak mengitari Binyawan, rangkaian kemudian ditutup dengan tarian para Dewa atau Belian Bini. Tujuh Dewa menari mengelilingi Binyawan sebanyak tujuh kali dengan gerakan yang lebih lembut.

Binyawan Jadi Pusat Ritual

Unsur penting dalam Merangin adalah Binyawan. Tiang ini adalah pusat pergerakan para Belian selama ritual berlangsung. Bentuk Binyawan berupa tiang bambu yang dibalut janur kuning. Di bagian atasnya terdapat replika burung enggang dan bagian bawahnya terdapat replika kura-kura.

Para Belian melakukan beberapa gerakan dengan mengitari Binyawan. Gerakan tersebut antara lain peninsing, seotan, pusing, bekijong, dan pensar. Gerakan peninsing dilakukan dengan berjalan perlahan mengitari tiang sambil memegang Binyawan.

Para Belian bergerak dipimpin oleh ketua Belian. Awalnya mereka lebih dulu berputar berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali, lalu satu kali searah jarum jam, kemudian ditambah tiga putaran yang lebih cepat.

Selanjutnya ada gerakan seotan. Para Belian mengitari Binyawan dengan gerakan meliuk seperti ular. Gerakan dilakukan tiga kali searah jarum jam dan tiga kali berlawanan arah jarum jam.

Gerakan berikutnya adalah pusing, di mana tubuh para Belian berputar sambil tetap mengelilingi tiang. Setelah itu terdapat bekijong, yaitu gerakan mengitari Binyawan dengan posisi berjinjit.

Tahapan terakhir adalah pensar. Di gerakan ini, Belian yang masih kuat menaiki Binyawan yang diputar. Setelah pensar selesai, ritual Merangin pun berakhir.

Musik Kelentangan yang Mengiringi dari Awal hingga Akhir

Di tengah pembacaan memang, suara kelentengan terus terdengar, tidak boleh putus hingga akhir prosesi. Kelentangan dimainkan bersama dua buah gendang dan ankgung. Kelentangan sendiri mirip gamelan di Jawa, jumlahnya ada lima buah yang dimainkan.

Dua gendang yang digunakan memiliki bentuk berbeda. Salah satunya berukuran lebih besar, sedangkan yang satu lagi ukurannya lebih kecil. Musik yang dimainkan mungkin terdengar sederhana dan nadanya diulang-ulang. Namun, ada tempo yang dimainkan dengan berubah-ubah dari lambat ke cepat yang juga akan menuntun gerakan para Belian.

Bunyi dan pola musik yang hadir di dalam ruangan dipercaya membantu membawa Belian menuju alam gaib melalui Binyawan untuk menyampaikan maksud ritual. Tiga malam Merangin pun menjadi satu hal penting sebelum Erau dimulai. Ritual ini menjadi bentuk persiapan adat yang diwariskan dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads