Kenapa Ada Dua Naga dalam Erau? Ini Makna Naga Laki dan Naga Bini

Kenapa Ada Dua Naga dalam Erau? Ini Makna Naga Laki dan Naga Bini

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 10 Sep 2026 11:30 WIB
Mengulur Naga atau Ngulur Naga
Mengulur Naga atau Ngulur Naga/Foto: Istimewa (dok Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara)
Kutai Kartanegara -

Salah satu tradisi dalam Upacara Adat Erau di Kutai Kartanegara adalah Mengulur Naga atau Ngulur Naga. Dalam tradisi ini, ada dua replika naga yang diarak dari Tenggarong menuju Kutai Lama, yakni Naga Laki dan Naga Bini.

Sepasang naga ini bukanlah naga sembarangan. Keduanya merupakan representasi dari legenda Putri Karang Melenu, permaisuri raja pertama Kesultanan Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Lantas, mengapa ada dua naga dan apa maknanya?

Naga Jantan dan Naga Betina

Naga Laki adalah naga jantan, sedangkan Naga Bini merupakan naga betina. Keduanya dibuat sebagai sepasang replika yang digunakan dalam prosesi Mengulur Naga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir buku Erau Adat Pelas Benua, pasangan naga ini merepresentasikan hubungan laki-laki dan perempuan sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Karena itu, Naga Laki dan Naga Bini juga sering disebut sebagai simbol pasangan atau suami istri, sekaligus menggambarkan keseimbangan dalam kehidupan.

Kedua naga itu juga melambangkan keselarasan, kesuburan, kebaikan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Dalam Erau, adanya naga dan Mengulur Naga merupakan harapan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan memperoleh keberkahan.

Selain itu, ada juga cerita di balik Naga Laki dan Naga Bini yang berkaitan dengan legenda Putri Karang Melenu. Dalam legenda tersebut, Putri Karang Melenu dikisahkan muncul dari pusaran Sungai Mahakam. Dirinya berada di atas sebuah gong yang diangkut oleh seekor naga yang keluar dari pusaran air.

Kisah itu turut menjadi alasan dilakukannya prosesi Mengulur Naga, untuk menghormati cerita kelahiran Putri Karang Melenu. Jadi, adanya dua naga saat Mengulur Naga bisa menjadi representasi pasangan yang melambangkan keseimbangan dalam hidup, dan juga sebagai simbol legenda asal-usul Putri Karang Melenu.

Mengulur Naga atau Ngulur NagaMengulur Naga atau Ngulur Naga/ Foto: Istimewa (dok Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara)

Kenapa Naga Diulur ke Kutai Lama?

Naga Laki dan Naga Bini bukan pajangan selama prosesi Erau. Keduanya akan dibawa saat prosesi Mengulur Naga dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong menuju Kutai Lama.

Mengapa Kutai Lama? Jawabannya karena Kutai Lama punya posisi penting dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Kutai Lama, khususnya kawasan Jaitan Layar atau Tepian Batu merupakan lokasi awal Kerajaan Kutai Kartanegara.

Walaupun pusat pemerintahan dan kerajaan telah berpusat di Tenggarong, kisah awal Kesultanan Kutai Kartanegara disebut bermula dari kawasan Kutai Lama. Di sana juga dipercaya sebagai tempat lahirnya Putri Karang Melenu.

Maka dari itu, dalam prosesi Mengulur Naga, Naga Laki dan Naga Bini dibawa dari Keraton menuju Kutai Lama. Setelah tiba di Jaitan Layar, tubuh naga dipisahkan dari kepala dan ekornya. Kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton untuk digunakan pada Erau berikutnya, sedangkan bagian tubuh naga dihanyutkan ke Sungai Mahakam.

Replika naga itu ukurannya cukup besar. Di tahun 2025, panjangnya mencapai sekitar 31,5 meter. Bagian kepala dan ekor terbuat dari kayu, sementara tubuhnya dibuat dari rotan dan bambu yang dibungkus kain kuning yang dilapisi kain perca untuk sisiknya.

Dengan Mengulur Naga, cerita tentang legenda Putri Karang Melenu turut dilestarikan dan diwujudkan dalam sebuah ritual adat yang terus dilakukan hingga saat ini. Pada 2026, ritual Mengulur Naga akan dilakukan pada Minggu, 20 September pukul 10.00 Wita.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads