Sebagai negara kepulauan, Indonesia punya keragaman budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat pesisir. Setiap tahunnya, banyak kegiatan budaya yang diselenggarakan untuk merayakan sekaligus melestarikan adat istiadat dari daerah masing-masing.
Di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kotabaru, setiap tahun digelar Festival Budaya Saijaan yang mengangkat cerita kehidupan pesisir Kotabaru. Pada tahun ini, Festival Budaya Saijaan telah digelar ke-12 kalinya pada bulan Juni-Juli lalu. Lalu, apa sebetulnya Saijaan itu?
Makna Saijaan
Menurut cerita, saijaan merupakan gambaran dari nilai seiya, sekata, sejalan, dan setujuan. Pemerintah Kabupaten Kotabaru menggunakan semangat itu untuk menggambarkan kebersamaan masyarakatnya yang berasal dari latar belakang suku dan budaya yang beragam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna Saijaan juga berkaitan dengan Hikayat Saijaan dan Ikan Todak, cerita rakyat dari Kotabaru. Dalam hikayat tersebut dikisahkan Datu Mabrur yang bertapa di tengah laut dan memohon sebuah pulau sebagai tempat tinggal bagi keturunannya.
Dalam cerita itu, Datu Mabrur kemudian berhadapan dengan Raja Ikan Todak. Mereka pun membuat kesepakatan untuk saling membantu. Raja Ikan Todak bersama penghuni laut membantu mewujudkan permintaan Datu Mabrur hingga muncul sebuah daratan yang kemudian dikenal sebagai Pulau Halimun dan selanjutnya disebut Pulau Laut.
Hikayat itu memiliki makna untuk terus semangat berjalan bersama meskipun masyarakat Kotabaru memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Nah, semangat inilah yang dijaga dan dirayakan setiap tahunnya dalam Festival Budaya Saijaan.
Festival Budaya Saijaan Suku Bajau Samah ke-12
Acara penutupan Festival Budaya Saijaan ke-12 (6/6/2026). (Dok Pemkab Kotabaru) |
Masyarakat Bajau di Kotabaru, khususnya di kawasan Desa Rampa, memiliki kehidupan yang sangat dekat dengan laut. Suku Bajau, yang juga dikenal sebagai Sama-Bajau atau Bajo tersebar di banyak kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Bajau kerap disebut sebagai sea nomads atau sea gypsies karena secara historis sebagian dari mereka sangat bergantung pada laut, bahkan tinggal dan berpindah menggunakan perahu.
Di Indonesia, pesebarannya banyak di daerah Sulawesi dan Kalimantan. Masyarakat Bajau di Kotabaru, mereka sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada laut dan menetap di Desa Rampa.
Meskipun begitu, mereka tetap dekat dengan laut. Kedekatan itu masih dibuktikan salah satunya dengan upacara adat Selamatan Leut. Pelaksanaan upacara adat Selamatan Leut Suku Bajau Samah di Desa Rampa termasuk dalam kegiatan kebudayaan daerah yang rutin digelar.
Selamatan Leut ini sendiri masuk ke dalam rangkaian Festival Budaya Saijaan. Tujuan dilakukannya adalah sebagai bentuk penghormatan akan hasil laut selama satu tahun ke belakang.
Prosesi iring-iringan Selametan Leut. (Instagram @festivalbudayaseijaan) |
Memasuki penyelenggaraan ke-12, Festival Budaya Saijaan (FBS) 2026 mengangkat tema: Magic From The Sea, Merajut Budaya, Menyapa Dunia. Festival ini berlangsung pada 22-26 Juli 2026 di kawasan Siring Laut, Kotabaru sebagai pusatnya.
Selain untuk melestarikan budaya Bajau, tujuannya juga untuk memperkuat posisi budaya Bajau Samah sebagai daya tarik wisata budaya Kotabaru. FBS 2026 juga termasuk dalam rangkaian expo untuk memeringati Hari Jadi Kotabaru ke-76.
Banyak kegiatan dilakukan selama festival berlangsung. Rangkaian FBS 2026 mencakup pawai budaya, gelar seni, pameran budaya, bazar ekonomi kreatif dan UMKM, parade lagu Banjar, lomba drum band, lomba musik, dan fashion karnaval dari bahan-bahan bekas.
Kegiatan-kegiatan di dalam festival juga menyasar banyak kalangan. Lomba drum band, misalnya, dibuka untuk pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK sederajat. Ada pula pawai yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat se Kalimantan Selatan.
Konsep ini masih sama dengan penyelenggaraan FBS sebelumnya yang melibatkan peserta dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, bahkan daerah luar provinsi.
Dari Siring Laut, Saijaan kembali membawa pesan keberagaman tradisi pesisir Kalimantan yang dirangkai menjadi satu festival di Kotabaru.


