Kisah Mistis di Balik Motif Saung Seling, Topi Bangsawan Dayak Kenyah

Kisah Mistis di Balik Motif Saung Seling, Topi Bangsawan Dayak Kenyah

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 03 Agu 2026 07:01 WIB
Limbang perajin saung seling dari Long Kemuat Malinau sedang menunjukkan motif Hantu Petir.
Limbang perajin saung seling dari Long Kemuat Malinau sedang menunjukkan motif Hantu Petir. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Motif pada mahkota atau topi tradisional masyarakat Dayak Kenyah, yang dikenal dengan nama saung seling, bukan sekadar ukiran seni biasa. Di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, terdapat sebuah motif sakral berwujud manusia yang diyakini lahir dari kisah mistis dan legenda Hantu Petir.

Hal ini dituturkan oleh Limbang, seorang perajin saung seling asal Desa Long Kemuat keturunan suku Dayak Kenyah Lepo' Ke. Menurut Limbang, motif yang menghiasi saung (topi tradisional dan Gendongan (alat gendong bayi) kaum bangsawan (paren) ini memiliki cerita turun-temurun yang sangat dijaga oleh masyarakat adat.

"Sepertinya motif ini asalnya dari Hantu Petir dan seorang anak gadis. Cerita orang tua saya dulu, ada seorang gadis yang sangat cantik," tutur Limbang menceritakan awal mula legenda tersebut kepada detikKalimantan. Minggu (2/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena kecantikannya, gadis tersebut memikat hati banyak laki-laki. Banyak yang datang meminang, bahkan orang tuanya sendiri berusaha menjodohkannya. Namun, sang gadis menolak semua tawaran pernikahan tersebut.

"Hingga akhirnya, sesosok gaib yang dikenal sebagai Hantu Petir mengetahui bahwa ibu sang gadis terus memaksa anaknya untuk menikah. Hantu Petir tersebut kemudian mendekati sang gadis. Singkat cerita, gadis tersebut akhirnya mengandung," ucapnya.

Limbang perajin saung seling dari Long Kemuat Malinau sedang menunjukkan motif Hantu Petir.Limbang perajin saung seling dari Long Kemuat Malinau sedang menunjukkan motif Hantu Petir. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Memasuki usia kehamilan enam bulan, sang ibu mulai curiga melihat perubahan fisik putrinya. Mengetahui anaknya hamil tanpa suami, sang ibu marah besar dan berniat mengusir gadis itu dari rumah untuk tinggal di sebuah pondok di dekat kuburan seberang.

"Gadis itu menangis pasrah. Namun malam harinya, Hantu Petir hadir memperingatkan sang ibu lewat mimpi," ungkapnya

"Hantu berkata kepada ibu sang gadis. kan kamu jodohkan anakmu sama aku. Mangkanya saya mendatangi dia. Pesan saya, mohon jangan tempatkan dia di kuburan. Nanti kalau dia melahirkan saya akan datang'," jelas Limbang.

Benar saja, menjelang proses persalinan, Ibu tersebut melihat ada sosok berwujud manusia tanpa wajah yang jelas masuk ke dalam kamar gadis tersebut pada malam hari.

"Mamaknya melihat manusia masuk kamar, tapi wajahnya tidak kelihatan. Sebelum bayi itu lahir, kilatan petir menyambar di luar rumah diiring munculnya bayi laki-laki." tutur Limbang dengan nada halus.

Tiga hari setelah kelahiran sang anak yang kemudian diberi nama Manggau, Hantu Petir kembali datang membawa hadiah berupa saung dan gendongan yang telah dihiasi motif khusus berbentuk manusia.

"Ketiga harinya dia datang lagi membawa saung dan gendongan itu. Dari situlah manusia mulai meniru motifnya sampai sekarang. Keturunan Manggau inilah yang memakai motif tersebut," tambah Limbang.

Karena nilai sejarah dan mistisnya yang kuat, pembuatan dan penggunaan motif Hantu Petir ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Di masa lampau, motif ini adalah identitas eksklusif kaum bangsawan.

"Selain motif Hantu Petir, sebenarnya ada juga motif Hantu Air dengan bentuk kaki terbalik, namun motif tersebut sangat sulit untuk ditiru oleh manusia, sehingga motif Hantu Petirlah yang terus dilestarikan hingga saat ini," imbuhnya.

Diketahui, Limbang sendiri mulai belajar membuat saung seling sejak usia 18 tahun langsung dari orang tuanya, karena kekhawatiran tradisi ini akan punah. Namun, ia menegaskan bahwa karya ini tidak dijual kepada sembarang orang.

"Nggak sembarang juga jualnya. Kalau ada orang datang ke rumah mau beli, mereka harus jelaskan dulu, Keluarga saya dari sini. Kalau saya tahu latar belakang orang tuanya dan memang berhak, baru saya kasih," tegas Limbang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads