Pulau Kalimantan memiliki kekayaan tradisi lisan dan cerita rakyat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari sekadar dongeng dan legenda, cerita ini sering kali memuat nilai-nilai moral dan pandangan hidup masyarakat setempat yang masih relevan hingga saat ini.
Salah satu tema yang kerap muncul dalam berbagai cerita rakyat Nusantara, termasuk dari Kalimantan, adalah tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dari sekian banyak kisah yang ada, legenda mengenai anak yang durhaka selalu memiliki tempat tersendiri sebagai sarana edukasi agar menjadi pengingat betapa pentingnya berbakti kepada orang tua.
Berikut ini terdapat tiga cerita rakyat populer dari berbagai provinsi di Kalimantan yang mengangkat tema serupa, mulai dari mitos Burung Yoog-Uung di Kalimantan Timur, Legenda Batu Menangis di Kalimantan Barat, hingga kisah di balik terbentuknya Gua Batu Hapu di Kalimantan Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Legenda Burung Yoog Uung
Sebelum matahari terbit, dua pemuda suku Bahau bernama Hembang dan Lewing sudah terbangun meski mata mereka masih mengantuk berat. Mereka sibuk memperbaiki keranjang rotan dan tombak yang rusak akibat amukan babi hutan di hulu Sungai Maboh sehari sebelumnya.
Suara riuh babi hutan di balik bukit terdengar bersahut-sahutan, membuat kedua pemuda itu tidak sabar menunggu pagi datang. Sambil menunggu, Hembang menanak nasi untuk sarapan, sedangkan Lewing pergi ke tepian sungai memeriksa perahu sambil menggulung rokok daun nipah.
Setelah perut kenyang, Hembang dan Lewing segera mengayuh perahu mereka menyusuri aliran air Sungai Mahakam. Sepanjang jalan, perjalanan mereka ditemani riuhnya suara burung dan kera yang sedang berpesta buah baraan masak di dahan pepohonan.
Arus sungai hari itu cukup deras hingga memunculkan buih putih di tengah ombak, tempat ikan-ikan seluang berloncatan dengan riang. Perahu mereka akhirnya tiba di kawasan berbatu yang membelah tebing gunung hingga ke hilir Kampung Memahak Tebo.
Hembang dan Lewing singgah sejenak di tempat bersejarah itu, mengamati bekas lahan rumah sebuah keluarga kaya raya yang melegenda. Di sanalah Kakek Ibau, Nenek Mujaan, dan anak tunggal mereka pernah hidup makmur bergelimang harta.
"Dulu Kakek Ibau sering duduk di bangku ulin ini untuk mengukir gagang pedang mandaunya," kata Lewing sambil menunjuk sebuah bangku kayu tua. Hembang pun mengangguk setuju sambil mengorek tanah yang konon dahulu bercampur dengan serbuk tulang ukiran sang kakek.
Lewing lalu bercerita bahwa Kakek Ibau dan Nenek Mujaan adalah pasangan suami istri yang sangat rajin bekerja tanpa kenal lelah. Mereka selalu berangkat ke ladang sebelum fajar dan baru pulang setelah matahari terbenam, sehingga panen mereka selalu melimpah ruah.
Kekayaan yang menggunung itu membuat mereka sering menggelar pesta besar, termasuk saat memberi nama anak tunggal mereka, Tingang. Sayangnya, karena terlalu dimanjakan dan tidak pernah ditegur, Tingang tumbuh menjadi pemuda pemalas yang hanya gemar berfoya-foya.
Hari demi hari dihabiskan Tingang untuk berjudi dan mabuk bersama teman-temannya tanpa peduli pada keadaan keluarganya. Suatu hari, Kakek Ibau jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Nenek Mujaan yang mulai menua.
Sepeninggal suaminya, Nenek Mujaan terpaksa menggarap ladang sendirian karena Tingang hanya tahu tidur dan bermalas-malasan di rumah. Lama-kelamaan tubuh rentanya tidak sanggup lagi bertani, sehingga ia beralih menjadi buruh penumbuk padi demi menyambung hidup.
Harta warisan pun kian menipis karena terus-menerus dicuri dan dijual oleh Tingang untuk kesenangannya sendiri. Pernah suatu hari Nenek Mujaan membawakan sisa makanan yang didapatnya dari bekerja, tetapi Tingang malah membuangnya sambil memaki sang ibu.
Hati Nenek Mujaan sangat hancur melihat kelakuan kasar anaknya, hingga akhirnya ia jatuh sakit parah tanpa ada biaya untuk berobat. Satu-satunya harta yang tersisa hanyalah kalung manik pusaka warisan suaminya, yang selalu ia simpan sebagai kenang-kenangan yang berharga.
Bukannya merawat sang ibu yang sedang sekarat, Tingang justru tega mencuri kalung pusaka kesayangan ibunya tersebut. Penderitaan lahir batin yang tak tertahankan akhirnya membuat Nenek Mujaan menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan nelangsa.
Kematian ibunya sama sekali tidak membuat Tingang bersedih, karena ia justru merasa bebas untuk menjual sisa harta pusaka. Pemakaman ibunya pun sengaja ia abaikan, sehingga hanya diurus oleh warga kampung yang merasa iba.
Pada suatu malam yang gelap gulita, Tingang diam-diam kabur menggunakan perahu menuju kota untuk menjual kalung berharga itu. Ia terus mengayuh perahunya mengikuti arus deras Sungai Mahakam yang kebetulan saat itu sedang meluap karena banjir besar.
Rupanya para dewa murka atas kedurhakaan Tingang, sehingga perahunya dijebak dalam pusaran air mengerikan di kawasan Lirung Makalaang. Perahu itu pun karam berkeping-keping, menenggelamkan kalung pusaka curian itu jauh ke dasar sungai yang pekat.
Tingang yang kedinginan dan kelaparan akhirnya terdampar di sebuah dahan pohon mati, lalu pingsan tak sadarkan diri. Ketika siuman, ia melihat secercah cahaya lampu dari kejauhan dan terus berteriak meminta tolong hingga wujudnya tiba-tiba berubah.
Pemuda durhaka itu dikutuk menjadi seekor burung yang terus berbunyi "mamaaq kuung" dan kini dikenal sebagai burung yoog uung. Keturunan burung ini mewarisi sifat asli Tingang, selalu hidup menyendiri di hutan dan enggan berkumpul dengan kawanannya.
2. Asal-usul Gua Batu Hapu: Kutukan Nini Kudampai
Di pedalaman Kalimantan Selatan, hiduplah seorang ibu bernama Nini Kudampai bersama putra tunggalnya yang bernama Angui. Keseharian mereka yang amat sederhana senantiasa ditemani oleh tiga ekor hewan peliharaan berbulu putih, yakni anjing, ayam, dan babi.
Ketenangan keluarga kecil itu berubah ketika seorang saudagar bergelimang harta bernama Keling datang untuk menjadikan Angui sebagai anak angkatnya. "Izinkan aku merawat Angui dan memberinya masa depan yang gemilang di negeriku," ujar Keling.
Walaupun hatinya berat melepaskan sang buah hati, Nini Kudampai akhirnya merelakan putranya dibawa berlayar demi masa depan yang lebih cerah. Di negeri seberang, limpahan kasih sayang dan kemewahan dari ayah angkatnya justru mengubah Angui menjadi pemuda yang sangat pemalas.
Karena kehabisan kesabaran melihat tabiat buruk yang tak kunjung membaik itu, saudagar Keling akhirnya mengusir anak angkatnya tanpa belas kasihan. "Pergilah dari rumahku jika kau terus menjadi benalu!"
Kerasnya hidup di jalanan memaksa Angui membanting tulang hingga ia perlahan berhasil menjelma menjadi pedagang yang jauh lebih kaya dari ayah angkatnya. Kesuksesan gemilang tersebut berujung pada pernikahannya dengan putri seorang Sultan, yang secara otomatis semakin melipatgandakan harta kekayaannya.
Bertahun-tahun kemudian, Angui memutuskan berlayar menengok kampung halamannya dengan menumpangi sebuah kapal laut yang sangat megah. Mendengar kabar kedatangan putranya, Nini Kudampai bergegas menyambut ke pelabuhan dengan perasaan gembira setelah bertahun-tahun dilanda kecemasan.
Alih-alih membalas kerinduan sang ibu, Angui justru dikuasai rasa gengsi dan malu melihat sosok wanita tua yang miskin di hadapannya. Meskipun Nini Kudampai telah menunjukkan ketiga hewan putih peliharaan mereka sebagai bukti, saudagar sombong itu tetap angkuh dan memerintahkan pengawalnya untuk mengusir sang ibu.
Hancur lebur hati Nini Kudampai menerima perlakuan keji dari darah dagingnya sendiri, sehingga meluncurlah sebuah kutukan dari bibirnya yang bergetar menahan tangis. Dalam sekejap mata, kapal megah beserta seluruh isinya itu berubah wujud menjadi batu besar seperti gunung.
Di batu besar ini terdapat gua yang kini menjadi salah satu objek wisata. Cerita rakyat ini abadi dikenang masyarakat sebagai asal-usul Gua Batu Hapu.
3. Legenda Batu Menangis
Dikisahkan di sebuah daerah di Kalimantan Barat, hidup seorang janda yang tinggal bersama anak perempuannya bernama Darmi. Ibunya adalah sosok pekerja keras yang membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup keduanya.
Namun Darmi sangat berbeda dengan ibunya. Anak ini memang cantik tetapi sombong, manja, dan hanya memikirkan cara untuk menjaga kecantikannya.
Darmi sama sekali tidak mau membantu ibunya bekerja. Dia takut kulitnya menjadi gelap jika bekerja di kebun, dan takut jika badannya bau karena berkeringat.
Ibunya hanya berharap anaknya bisa bahagia, tidak seperti yang dialaminya selama ini. Darmi pun terus dimanja penuh kasih sayang. Saking sayangnya, ibunya rela membelikan baju bagus dan perhiasan anaknya meski harus bekerja lebih berat.
Kulit ibu yang awalnya cerah, kini menjadi gelap karena terpapar sinar matahari setiap hari. Berat badannya menyusut, wajahnya semakin tua, karena tak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri.
Sementara kegiatan Darmi hanya mandi, menggunakan lulur, bercermin, menyisir rambut, dan mengagumi kecantikannya sendiri.
Rupanya tindakan yang terlalu memanjakan anak itu berbuah buruk. Darmi semakin merasa dirinya berhak atas semua yang selama ini dia dapatkan, tanpa tahu kewajiban yang seharusnya dilakukan.
Suatu hari ibu lupa memasak sayur untuk pelanggannya di desa. Ibu meminta tolong Darmi untuk memasak, sementar ibu harus mengurus pekerjaan lainnya.
Saat ibu pulang, ternyata Darmi masih saja bersolek. Bahkan kamarnya masih berantakan seperti saat ibu tinggalkan. Bukannya merasa bersalah, Darmi malah marah karena ibunya dianggap mengganggunya berdandan.
Darmi juga marah karena tidak ada makanan yang bisa dia makan saat ibunya pergi. Ibunya mengalah dan kemudian memasak sayur untuk pelanggan dan Darmi. Setelah itu, ibu juga membereskan kamar Darmi.
Lama-kelamaan, Darmi semakin keenakan. Bahkan untuk minum saja dia harus memanggil ibunya. Saat minta uang, Darmi juga terus merengek dan tak segan mengatakan dirinya menyesal lahir di keluarga miskin.
Suatu hari sisir kesayangan Darmi patah. Dia pun minta ibunya untuk membelikan sisir baru. Karena tak percaya selera ibunya, Darmi ingin ikut ke pasar agar bisa memilih sendiri sekaligus melihat barang bagus yang bisa dia miliki.
Darmi yang jarang keluar rumah merasa kepanasan di jalan, sehingga membawa daun besar agar kulitnya tetap putih. Sementara ibunya menarik gerobak berisi sayur dengan tubuh yang sudah renta.
Beberapa orang melihat mereka sambil berpandangan sinis karena tingkah Darmi yang berlebihan. Namun di pikiran Darmi, orang-orang merendahkannya karena sosok ibunya yang berpenampilan kurus dan lusuh seperti pengemis.
Darmi lantas memilih berjalan lebih cepat menjauh dari ibunya agar orang-orang tidak tahu mereka adalah ibu dan anak. Di tengah jalan, Darmi bertemu dengan temannya dan berbincang sebentar.
Melihat Darmi berbincang dengan orang, ibu pun cepat-cepat mendekat karena ingin menyapa teman anaknya. Rupanya Darmi malah memperkenalkan ibu sebagai pembantunya.
Hati ibunya pun hancur seketika. Dia hanya bisa menahan tangis sambil terus berjalan. Bukannya menyesal, Darmi malah kembali mengulangi kata-katanya tiap ada orang menyapa.
Saat di pasar, Darmi juga tidak mau mendekati ibunya yang menjual sayuran. Namun dia tetap memantau dari kejauhan agar mengetahui penghasilan ibunya.
Saat sudah sepi, Darmi mendekat untuk minta uang. Ibunya memberikan uang untuk membeli sisir. Namun Darmi marah karena tahu ibunya punya uang lebih yang bisa dia pakai untuk membeli barang lainnya.
Karena sudah kesal, ibu memberikan semua uangnya kepada Darmi. Padahal uang itu sebetulnya digunakan ibu sebagai modal untuk menjalankan usahanya esok hari.
Setelah berbelanja, Darmi didekati sejumlah pria yang tertarik kepadanya. Bahkan ada yang mau mengantarkannya pulang. Ibu yang khawatir dengan keselamatan Darmi tetap mengikuti dari belakang.
Saat para pemuda terlihat makin dekat dengan Darmi, ibu memperingatkannya. Para pemuda itu lantas bertanya kepada Darmi siapakah sosok wanita itu. Darmi tak segan berkata bahwa wanita itu adalah pembantunya.
Sambil tertawa, Darmi malah berbohong bahwa ibunya adalah seorang yang cantik dan sedang menunggu di rumah. Para pemuda itu percaya dan ikut tertawa.
Ibu yang sudah tersayat hatinya hanya bisa terduduk dan bersimpuh sambil menangis. Dia merasa semua pengorbanannya selama ini dibalas dengan kejahatan.
Dia berdoa agar Tuhan memberikan hukuman kepada Darmi. Sontak langit berubah menjadi gelap dan angin berembus kencang.
Darmi tiba-tiba merasa kakinya kaku dan berat. Ternyata tubuhnya perlahan menjadi batu. Darmi langsung menyadari dirinya terkena kutukan karena durhaka kepada ibunya.
Darmi menangis ketakutan, dan meminta maaf kepada ibunya. Namun tubuhnya semakin berat dan membuatnya bersimpuh. Kini kakinya sudah menjadi batu, dan dia terus menangis sampai seluruh tubuhnya menjadi batu.Anehnya, air mata Darmi terus keluar dari dalam batu.
Penduduk sekitar kemudian menyebutnya sebagai Batu Menangis. Batu diletakkan di tepi tebing dan menghadap ke langit oleh masyarakat. Batu ini menjadi pengingat agar anak selalu berbakti kepada ibunya.
Itulah tadi tiga dongeng tentang anak durhaka yang dapat menjadi pengingat serta untuk mengajarkan kepada anak-anak agar berbakti kepada orang tua.
