Suku Dayak Kalimantan memiliki berbagai jenis permainan tradisional. Salah satunya adalah tengkuyung berambeh dari Kalimantan Barat (Kalbar) yang memiliki keunikan dalam cara memainkannya.
Tengkuyung berambeh ini bukan jenis permainan yang memerlukan ketangkasan dan kekuatan fisik, melainkan ketangkasan otak, kecermatan, dan fokus. Peralatan yang digunakan pun unik, yang merupakan gabungan dari seni dan pemanfaatan limbah alam.
Yuk ketahui lebih jauh apa itu tengkuyung berambeh, mulai dari peralatan, cara memainkan, hingga statusnya sebagai warisan budaya takbenda nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Tengkuyung Berambeh
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, tengkuyung merupakan penyebutan siput air tawar. Sedangkan kata 'berambeh' berarti berkumpul, sehingga tengkuyung berambeh bisa diartikan sebagai siput yang berkumpul.
Penamaan ini sesuai dengan visual permainan tersebut, karena menggunakan sejumlah cangkang siput. Cangkang-cangkang ini dipasang pada seutas tali sehingga terlihat seperti sedang berkumpul.
Bagi masyarakat setempat, siput ini mudah ditemukan di sekitar sungai. Sebagian masyarakat juga sering berburu tengkuyung. Bahkan ada tradisi nikuyukng atau berburu tengkuyung di Mempawah hulu untuk dimasak.
Cangkang yang sudah kosong ini pun sebagian dimanfaatkan untuk berbagai hal agar tidak sekadar jadi sampah. Selain dimanfaatkan untuk pertanian dan kerajinan, cangkang juga bisa dibuat menjadi alat permainan tradisional tengkuyung berambeh.
Cara Bermain Tengkuyung Berambeh
Dikutip dari Instagram Pemprov Kalbar, tengkuyung berambeh merupakan permainan tradisional yang unik. Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah cangkang tengkuyung, kayu dan seutas tali. Permainan dapat dimainkan sendiri maupun adu cepat dengan dua orang atau lebih.
Permainannya adalah memindahkan satu persatu cangkang tengkuyung dari satu sisi ke sisi lain. Siapa yang paling cepat memindahkan, dialah yang menang.
Sekilas, perangkat tengkuyung berambeh tampak sederhana. Yang membuatnya rumit adalah keberadaan simpul tali induk tengkuyung pada satu lubang kecil di bagian tengah sebagai pemisah sisi kiri dan kanan.
Orang yang belum mengenal tali-temali mungkin tidak akan mengira tengkuyung itu bisa dipindah ke sisi lain. Namun ada trik yang bisa membuat cangkang bisa 'menembus' batas.
Jika pemain hanya mengandalkan gerakan acak dan tergesa-gesa, cangkang akan tersangkut. Permainan ini memaksa para pemainnya bersabar dan fokus.
Jadi Tradisi dan Menembus WBTb Nasional
Dalam tatanan sosial masyarakat Dayak, seperti Dayak Pesaguan di Kabupaten Ketapang, tengkuyung berambeh bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Permainan ini memegang peranan esensial dalam Tentebus, yakni ritual perayaan syukur pascapanen padi kepada roh leluhur dan Jubata (Tuhan).
Ketika ritual sakral telah ditunaikan, pelataran rumah adat akan riuh oleh gelak tawa masyarakat yang berlomba memainkan tengkuyung berambeh. Melalui perayaan komunal ini, permainan tersebut bertransformasi menjadi medium yang merekatkan kembali ikatan persaudaraan antarwarga.
Puncak kebanggaan eksistensi budaya ini tercapai pada Oktober 2025. Berkat sinergi yang kuat antara masyarakat adat, pemerintah desa, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ketapang, tengkuyung berambeh resmi ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat nasional.
