Kalimantan tidak hanya kaya akan pesona alam dan kisah legenda, tetapi juga menyimpan warisan aneka permainan tradisional yang tak lekang oleh waktu. Bagi suku Dayak, aneka permainan rakyat ini bukan sekadar sarana hiburan, melainkan elemen penting yang sarat akan nilai kehidupan.
Permainan-permainan ini kental dengan nilai kebersamaan, pembentukan karakter, hingga muatan spiritual sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sebagian besar alatnya memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar, sehingga sangat menyatu dengan keseharian masyarakat setempat.
Aktivitas bermain ini dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat, baik di kawasan pesisir sungai maupun di wilayah pedalaman hutan belantara. Mari kita kenali tujuh permainan tradisional khas suku Dayak yang unik dan patut untuk terus dilestarikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Sepak Sawut
Sejumlah warga bermain sepak sawut atau sepak bola api dalam rangkaian perlombaan Festival Palangka Raya 2025 di halaman kantor BPBD Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (24/4/2025). Foto: ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN |
Dilansir dari situs MMC Kalteng, sepak sawut adalah olahraga sekaligus permainan tradisional ekstrem suku Dayak berupa sepak bola yang menggunakan bola api menyala. Bola khusus ini terbuat dari buah kelapa tua yang telah dikupas menyisakan kulit serabutnya, lalu dilumuri minyak tanah dan dibakar.
Setelah api berkobar secara merata, bola tersebut langsung dimainkan di lapangan terbuka oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan lima orang. Karena bola terus bergulir dalam keadaan menyala, Sepak sawut umumnya dimainkan pada malam hari sehingga menciptakan pemandangan yang sangat eksotis.
Para pemain dituntut memiliki keberanian dan ketangkasan tingkat tinggi untuk menggiring si kulit bundar berapi dengan menggunakan kaki telanjang. Pada masa lampau, permainan ini erat kaitannya dengan ritual adat sakral untuk mengusir roh-roh jahat sebelum akhirnya berkembang menjadi tontonan budaya.
2. Habayang
Bagasing atau dalam bahasa Dayak Ngaju disebut habayang adalah permainan tradisional menggunakan gasing yang sudah sangat terkenal di Kalimantan Tengah. Media utamanya biasa diolah dari bahan batang pohon kayu keras yang dibentuk mengerucut dan diputar menggunakan lilitan tali yang kuat.
Bagi masyarakat Dayak, gasing terbagi menjadi dua jenis berdasarkan cara bermainnya, yaitu gasing balanga dan gasing pantau. Gasing balanga yang bentuknya menyerupai guci digunakan untuk permainan saling bentur, sedangkan gasing pantau difokuskan untuk adu ketahanan putaran berdesing.
Alat putar ini umumnya dibuat dengan ukuran standar, yakni berdiameter 8-9 sentimeter dengan tinggi sekitar 7-8 sentimeter. Secara historis, habayang kerap dimainkan sebagai hiburan di sela-sela ritual adat usai panen sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa.
3. Balogo
Permainan Balogo. Foto: Media Center Kalteng/Pemkab Banjar |
Balogo merupakan permainan anak hingga remaja yang sudah sangat akrab dengan keseharian masyarakat Dayak di berbagai pelosok. Nama permainan ini diambil dari alat yang digunakan yaitu 'logo', yang terbuat dari bahan batok kelapa berukuran garis tengah sekitar 5-7 sentimeter.
Batok kelapa ini dibentuk dengan ketebalan 1-2 sentimeter dalam berbagai wujud, seperti layang-layang, segitiga, maupun bundar. Untuk meluncurkan logo tersebut, para pemain menggunakan sebuah tongkat pemukul khusus yang lazim dikenal dengan sebutan panapak.
Permainan balogo dapat dilakukan secara satu lawan satu maupun beregu dengan misi merobohkan deretan logo sasaran milik lawan. Selain dipercaya mampu mengukur tingkat keberuntungan hidup pada zaman dahulu, permainan ini juga sangat kental menanamkan nilai-nilai kejujuran dan sifat pantang menyerah.
4. Sebumbun
Sebumbun adalah permainan anak tradisional khas pesisir dan tepian sungai di Kalimantan yang merupakan variasi seru dari permainan petak umpet. Namun, cara memainkannya sedikit berbeda karena berlokasi di area perairan dengan mengandalkan sebuah benda yang disembunyikan di dasar sungai.
Benda yang disembunyikan biasanya memiliki tekstur keras dan mudah dikenali, misalnya seperti ranting pohon, batu yang unik, atau potongan kayu. Permainan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak saat mereka sedang mandi di sungai agar suasana bermain menjadi jauh lebih menyenangkan.
Satu anak akan bertugas menyembunyikan benda tersebut, sementara teman-temannya harus berebut menyelam ke dasar sungai untuk menemukannya terlebih dahulu. Selain menghadirkan kegembiraan, permainan ini secara alami melatih kemampuan berenang dan ketahanan napas anak-anak yang hidup berdampingan dengan perairan.
5. Tembak Tutus
Tembak tutus merupakan simulasi permainan perang-perangan yang biasa dilakukan secara berkelompok dengan jumlah anggota sekitar lima hingga enam orang. Para pesertanya rata-rata adalah anak-anak yang berusia antara 10 sampai 15 tahun dan sangat menyukai tantangan di alam terbuka.
Anak-anak ini dituntut untuk berpikir kreatif karena mereka harus membuat sendiri alat permainannya menggunakan bahan bambu kecil dan batang pendorong. Nama permainan ini sengaja diambil dari senjata mainan yang digunakan, yang pelurunya biasanya memanfaatkan kertas basah atau buah-buahan liar dari hutan.
Penggunaan peluru alami ini memastikan permainan tetap aman dan tidak akan membahayakan para peserta saat mereka sedang asyik saling tembak. Aktivitas seru ini sangat efektif untuk melatih kekompakan sebuah tim, strategi menghindar dari bidikan lawan, serta kelincahan fisik saat berlari.
6. Kesepung
Dikutip dari buku Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Timur (1982) dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kesepung merupakan salah satu jenis permainan air dari daerah Kalimantan Timur, terutama suku Dayak Tunjung di hulu sungai Mahakam.
Cara bermainnya cukup unik, yakni dilakukan di dalam air setinggi dada (kedalaman 1 hingga 1,5 meter). Tak ada peralatan yang dibutuhkan, melainkan hanya mengandalkan keterampilan telapak tangan.
Untuk menghasilkan bunyi bernada tinggi, pemain menepukkan telapak tangan secara datar ke permukaan air. Sementara itu, untuk menghasilkan bunyi yang besar atau bas, telapak tangan dibentuk agak cekung lalu dihempaskan ke air seperti gerakan menyendok (semakin dalam, semakin keras bunyinya).
Apabila dimainkan secara berkelompok (biasanya terdiri dari tiga orang), paduan tepukan tangan ini akan menghasilkan alunan bunyi berirama yang harmonis. Oleh karena itu, permainan kesepung mengandung dua nilai sekaligus, yakni nilai seni dari irama musik air, serta nilai olahraga yang didapat dari gerakan aktif memukul air.
7. Manyipet
Perlombaan manyipet dalam ajang Festival Budaya Isen Mulang 2026. Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman |
Manyipet atau menyumpit merupakan tradisi adu ketangkasan suku Dayak yang menggunakan senjata tiup bernama sipet beserta anak panahnya yang disebut damek. Permainan ini memiliki fleksibilitas tinggi karena dapat dilakukan sendirian untuk melatih fokus maupun bersama-sama dalam bentuk sebuah ajang pertandingan.
Jika dilakukan di alam terbuka, sasaran sumpit biasanya disesuaikan dengan kesepakatan target para pemain yang terlibat pada hari itu. Misalnya jika sasarannya adalah burung, mereka akan beramai-ramai pergi ke tempat kawanan burung berkumpul lalu membagi giliran untuk mulai membidik.
Pada masa kini, Manyipet telah banyak bergeser fungsinya dari sekadar aktivitas berburu menjadi salah satu cabang olahraga tradisional yang bergengsi. Sasaran hewan hidup pun kini telah diganti dengan papan target, di mana ketenangan, teknik pernapasan, dan tingkat akurasi menjadi penentu kemenangan.



