Asa Melestarikan Permainan Tradisional Dayak dari Kotawaringin Barat

Kalimantan Tengah

Asa Melestarikan Permainan Tradisional Dayak dari Kotawaringin Barat

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 03 Jul 2026 16:00 WIB
Warga Pangkalan Bun bermain balogo, salah satu permainan tradisional paling diminati saat diperkenalkan kepada masyarakat. (Sigit Pamungkas)
Foto: Warga Pangkalan Bun bermain balogo, salah satu permainan tradisional paling diminati saat diperkenalkan kepada masyarakat. (Sigit Pamungkas)
Kotawaringin Barat -

Permainan digital yang makin marak digemari anak-anak tak menyurutkan semangat para pegiat budaya di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Mereka masih punya misi ingin menghidupkan kembali permainan tradisional khas Dayak.

Ketua Komunitas Penggiat Permainan Tradisional Kabupaten Kotawaringin Barat, Adut, mengatakan permainan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang harus terus diwariskan kepada anak-anak.

"Permainan tradisional bukan hanya untuk bersenang-senang. Anak-anak belajar bekerja sama, menghargai lawan, melatih kesabaran, dan mengenal budaya leluhur mereka. Kalau tidak kita kenalkan sekarang, dikhawatirkan suatu saat nanti hanya tinggal cerita," ujar Adut kepada detikKalimantan, Jumat (3/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beragam permainan warisan leluhur seperti balogo, bagasing, hingga manyipet terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Di balik setiap gerak dan aturannya tersimpan nilai kebersamaan, sportivitas, ketelitian, serta penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat Dayak Kalimantan Tengah.

Menurutnya, balogo menjadi salah satu permainan yang paling diminati saat diperkenalkan kepada masyarakat. Permainan yang menggunakan kepingan kayu berbentuk bulat pipih itu mengajarkan strategi dan ketepatan dalam mengarahkan sasaran.

Selain balogo, terdapat bagasing, permainan memutar gasing kayu yang melatih ketangkasan dan ketelitian. Ada pula menyipet, tradisi menggunakan sumpit yang dahulu menjadi keterampilan penting masyarakat Dayak saat berburu dan kini berkembang menjadi olahraga budaya yang dipertandingkan dalam berbagai festival.

Adut menjelaskan, komunitasnya rutin menggelar demonstrasi permainan tradisional di sekolah, ruang publik, hingga berbagai kegiatan budaya. Antusiasme anak-anak, kata dia, cukup tinggi karena sebagian besar baru pertama kali mengenal permainan tersebut.

"Begitu mereka mencoba, ternyata mereka senang. Tantangannya sekarang adalah bagaimana permainan tradisional ini bisa dimainkan secara rutin, bukan hanya saat festival atau peringatan hari besar," katanya.

Adut mengaku ambisinya ini memang tak mudah untuk diwujudkan. Ia berharap pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dapat bersama-sama memberikan ruang bagi permainan tradisional untuk terus berkembang.

"Tawa anak-anak yang berlari mengejar gasing, adu strategi saat bermain balogo, hingga ketelitian membidik sasaran dalam menyipet menjadi bukti bahwa warisan budaya Dayak masih memiliki tempat di hati masyarakat Kalimantan Tengah," pungkasnya.

Dengan demikian, warisan budaya Dayak tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi tetap hidup dan dimainkan oleh generasi penerus. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, permainan tradisional menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari layar gawai.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads