Saat musim durian tiba sepanjang bulan Juni-Juli, masyarakat biasanya berburu buah berduri itu ke pasar atau kebun. Lain halnya dengan masyarakat Dayak di Desa Riam dan Desa Panahan, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Musim durian bagi masyarakat setempat menghadirkan sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, namanya menyandau. Ialah tradisi panen durian bersama di tengah hutan.
"Tradisi ini bukan sekadar mencari buah. Namun jadi perjalanan menyusuri jejak leluhur, bermalam di rimba, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan alam yang telah memberi kehidupan bagi masyarakat setempat selama ratusan tahun," ujar Duhan, warga Dayak di Arut Utara, kepada detikKalimantan, Selasa (16/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat musim panen tiba, warga berbondong-bondong menuju kawasan perbukitan Balang di Desa Riam. Mereka mendirikan pondok sederhana dan bermalam di sekitar pohon-pohon durian tua yang menjulang tinggi.
Sebagian warga terlebih dahulu berkumpul di Camp Harapan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bukit Balang. Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Jalan menanjak dan licin membuat kendaraan tidak bisa menjangkau kawasan tersebut.
Dari titik tertentu, warga harus berjalan kaki menyusuri jalur setapak sejauh sekitar 500 meter menuju area pohon durian yang tersebar di lereng bukit. Di tengah sejuknya udara pegunungan dan suara hutan yang masih alami, warga menunggu buah durian jatuh secara alami.
Berbeda dengan kebun modern yang memanen buah dengan cara dipetik, masyarakat Aruta tetap mempertahankan cara tradisional. Bagi mereka, durian terbaik adalah durian yang matang sempurna dan jatuh dari pohonnya.
Baca juga: Banjir Durian Murah di Pangkalan Bun |
Tidak hanya durian yang menjadi buruan. Di sela-sela pencarian, warga juga menemukan buah kerantungan, kerabat durian berukuran lebih kecil dengan cita rasa manis khas serta isi yang hanya terdiri dari satu hingga tiga biji.
Setelah dikumpulkan, durian hasil menyandau dijual kepada pengepul untuk kemudian dipasarkan ke Kota Pangkalan Bun.
"Harganya bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp40 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitasnya. Bahkan, para pembeli kerap datang langsung untuk memborong durian dengan harga yang relatif terjangkau," cerita Duhan.
Menurut Duhan, tradisi menyandau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Arut Utara sejak lama. Kawasan Bukit Balang juga menyimpan kekayaan plasma nutfah berupa berbagai varietas buah hutan lokal seperti durian, kerantungan, pampaan, dan aneka buah khas lainnya.
Harapan Menjaga Hutan Tetap Lestari
Keunikan tersebut menjadi potensi besar yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan alam. Sensasi berjalan kaki menembus hutan, bermalam di pondok sederhana, hingga menunggu durian jatuh langsung dari pohonnya menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di balik melimpahnya hasil hutan itu, tersimpan pesan penting tentang pelestarian alam. Warga berharap kawasan hutan dan pohon-pohon durian tua yang sebagian telah berusia ratusan tahun tetap terjaga dari ancaman alih fungsi lahan.
"Kita harus menjaga potensi yang ada ini. Kalau perlu, pohon-pohon durian yang sudah tua di-replanting dengan pohon baru. Karena inilah warisan yang tersisa untuk anak cucu kita. Jika hutan beralih fungsi, mungkin generasi mendatang tidak akan lagi bisa menikmati durian asli dari pohon-pohon berusia ratusan tahun," ucap Dunah.
Di Bukit Balang, musim durian bukan hanya soal panen buah. Di dalamnya terdapat kisah tentang tradisi, kebersamaan, dan upaya menjaga warisan alam agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
