Kalimantan Selatan punya banyak jenis rumah adat, ada Rumah Lanting, Rumah Balai Laki, Rumah Gajah Baliku, dan lainnya. Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu rumah adat tertua di Kalimantan Selatan khususnya suku Banjar.
Dulunya Bubungan Tinggi merupakan hunian kalangan bangsawan serta keluarga Kesultanan Banjar. Tetapi seiring berjalannya waktu, bentuknya diadopsi oleh masyarakat biasa yang kaya karena dianggap mencerminkan kemegahan dan status sosial.
Salah satu contoh Rumah Bubungan Tinggi yang masih bertahan berada di Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Rumah itu dibangun pada tahun 1867 oleh saudagar batu permata H.M. Arif dan istrinya, Hj. Patimah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun usianya sudah lebih dari 150 tahun dan beberapa kali direnovasi, keaslian bentuk fasad dan arsitekturnya tetap dijaga. Pada 2021, bangunan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Banjar.
Filosofi Atap Menjulang Tinggi
Ciri khas dari rumah adat Banjar ini adalah bentuk atapnya yang sangat tinggi. Dari bentuk inilah nama Bubungan Tinggi berasal.
Secara filosofis, bentuknya melambangkan pohon hayatatau pohon kehidupan di alam semesta. Pohon hayat menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam satu kesatuan yang direpresentasikan oleh bentuk atap Bubungan Tinggi.
Penghuni Bubungan Tinggi dianggap berada di tengah-tengah antara dunia atas dan dunia bawah. Dalam kepercayaan Banjar, kesatuan kedua dunia tersebut melambangkan Mahatala dan Jata atau suami istri.
Selain itu, kemiringan atap yang lebih dari 45 derajat juga bermakna payung kebesaran yang dahulu digunakan untuk menaungi raja dan kaum bangsawan. Di sisi lain, bentuk atap yang dibuat tinggi berfungsi agar sirkulasi udara lebih baik sehingga rumah tetap sejuk di tengah iklim tropis Kalimantan.
Dirancang Khusus untuk Lingkungan Rawa
Rumah adat suku Banjar, Bubungan Tinggi. Foto: Rumah Bubungan Tinggi (Dok. Kemdikbud) |
Karena Kalimantan sebagian besar tanahnya berupa rawa dan gambut, Rumah Bubungan Tinggi dirancang dengan desain seperti panggung. Tiang-tiang besar dari kayu ulin menopang bangunan agar tetap kokoh di atas tanah yang tidak stabil. Material yang digunakan sebagian besar berasal dari hutan di sekitar, antara lain:
- Kayu ulin untuk tiang, rangka bangunan, pintu, jendela, dan atap
- Kayu galam dan kapur naga sebagai pondasi
- Kayu lanan untuk dinding
- Kayu damar putih untuk balok dan gelagar
- Bambu untuk area dapur
- Daun rumbia atau sirap ulin sebagai penutup atap
Rumah Bubungan Tinggi dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kaki, badan, dan kepala bangunan. Tiang-tiang ulin sebagai pndasi tingginya bisa mencapai 12 meter.
Tata Ruang Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi memiliki susunan ruang yang sangat teratur. Secara umum bangunan terbagi menjadi empat zona utama, yaitu zona publik, semi-publik, privat, dan untuk pelayanan.
1. Pelataran atau Surambi
Bagian paling depan rumah ini berfungsi sebagai ruang publik. Pelataran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu surambi muka (teras depan), surambi sambutan (area untuk menerima tamu), dan lapangan pamedangan (pelataran dalam).
2. Ruang Tamu
Setelah melewati pintu utama atau lawang hadapan, pengunjung memasuki ruang tamu yang terdiri atas beberapa bagian seperti pacira, panampik kecil, panampik besar, dan panampik basar.
Di area ini terdapat tawing halat, yaitu dinding pembatas yang bisa dibongkar-pasang. Saat acara pernikahan adat Banjar berlangsung, bagian ini biasanya menjadi tempat duduk pengantin.
3. Ruang Hunian
Zona privat berada di bagian tengah rumah yang merupakan ruangan untuk beristirahat. Ruang utama juga disebut paledangan yang berfungsi sebagai ruang keluarga. Di sisi kanan dan kiri terdapat anjung yang biasanya digunakan sebagai kamar tidur orang tua atau anggota keluarga penting lainnya
4. Ruang Pelayanan
Bagian paling belakang Bubungan Tinggi digunakan untuk aktivitas rumah tangga. Area ini terdiri atas panampik pandu atau ruang makan, padapuran (dapur), dan jorong (gudang). Di area ini, lantai dapur dibuat lebih rendah dibanding ruangan lainnya.
Ukiran pada Bubungan Tinggi
Keindahan Rumah Bubungan Tinggi juga bisa kita lihat dari aneka ukiran kayu yang menghiasi hampir seluruh bagian bangunan. Masyarakat Banjar mengenal teknik ukiran yang disebut tatah, yang terdiri dari:
- Tatah Surut (relief)
- Tatah Babuku (ukiran tiga dimensi)
- Tatah Baluang atau Bakurawang (ukiran tembus)
Motif yang paling dominan adalah motif flora seperti sulur-suluran, kambang barapun, kambang malayap, dan berbagai bentuk bunga dan tanaman lainnya.
Pengaruh Islam juga terlihat sangat kuat pada ragam hias rumah ini. Pada bagian tawing halat terdapat ukiran kaligrafi bertuliskan Laa ilaaha illallaah. Karena kuatnya pengaruh Islam, penggunaan motif manusia hampir tidak ditemukan di rumah ini.
Jika ingin melihat langsung Rumah Bubungan Tinggi, detikers bisa berkunjung ke Teluk Selong. Di sana, rumah adat itu telah menjadi cagar budaya dan masing terawat mempertahankan bentuk aslinya sampai sekarang.
Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)

