Ritual Nyobeng, Tradisi Memandikan Tengkorak Dayak Bidayuh

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 17 Apr 2026 18:00 WIB
Ritual adat Nyobeng Suku Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat/Foto: Istimewa
Bengkayang -

Satu-satunya tradisi Nyobeng yang masih bertahan ada di tengah masyarakat Suku Dayak Bidayuh , Kampung Sebujit, Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Digelar setiap 15-17 Juni, warisan budaya ini di dalamnya terdapat prosesi memandikan dan membersihkan tengkorak manusia hasil tradisi ngayau atau mengayau, yang dilakukan oleh leluhur Dayak Bidayuh pada masa lalu.

Bagi masyarakat luar, ritual ini mungkin terdengar menyeramkan. Tetapi bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Nyobeng justru merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, rasa syukur atas panen padi yang melimpah, sekaligus doa agar desa tetap diberi perlindungan, keselamatan, dan kesuburan.

Nyobeng berasal dari kata nibakng atau sibankg yang berarti ritual besar yang tidak bisa dilakukan sembarangan. Ritual ini dianggap sebagai kegiatan adat terbesar dalam satu tahun bagi masyarakat Dayak Bidayuh. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap tengkorak hasil mengayau, inti utama ritual ini adalah ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Tipaiakng dalam bahasa Dayak Bidayuh.

Asal-usul Ritual Nyobeng

Asal muasal ritual Nyobeng adalah dari tradisi mengayau atau berburu kepala musuh. Dulunya suku Dayak Bidayuh yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia seringkali terlibat peperangan antarkelompok. Kepala musuh yang berhasil dibawa pulang dianggap sebagai bukti kekuatan, keberanian, dan pelindung desa dari gangguan roh jahat.

Tengkorak-tengkorak hasil ngayau itu kemudian disimpan di rumah adat yang berada di tengah kampung. Setiap tahun, tengkorak tersebut dimandikan dan dibersihkan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dan roh penjaga desa.

Namun setelah adanya perjanjian damai Tumbang Anoi, tradisi berburu kepala dihentikan. Sejak saat itu, Nyobeng berubah menjadi ritual perdamaian dan penghormatan. Tengkorak-tengkorak yang dulunya berasal dari musuh jadi dianggap sebagai penjaga desa yang harus dihormati.



Simak Video "Ikut Main Barongsai Seru bersama Artis di Pontianak "


(sun/bai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork