Keindahan Bukit Tangkiling di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki legenda atau cerita rakyat yang dikisahkan turun temurun. Jika di Jawa Barat ada kisah Sangkuriang yang berkaitan dengan Gunung Tangkuban Parahu, di Kalteng ada Legenda Bukit Tangkiling.
Dengan kisah yang mirip, keduanya menceritakan cinta terlarang antara ibu dan anak yang tidak disengaja. Simak kisahnya dan nilai moral yang dapat diambil, berdasarkan buku Legenda dan Dongeng dalam Sastra Dayak Ngaju (1998) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Legenda Bukit Tangkiling
Dahulu kala, di tepian Sungai Sabangau yang bermuara ke lautan lepas, hiduplah seorang janda muda yang sangat cantik bernama Bawi Kuwu bersama putra semata wayangnya, Tangkiling. Kehidupan mereka sederhana.
Bawi Kuwu menghabiskan hari-harinya mengurus rumah tangga, sementara Tangkiling yang kala itu masih balita sedang aktif-aktifnya bermain bersama anak-anak desa.
Petaka di Dapur
Suatu hari, setelah kelelahan bermain seharian, Tangkiling pulang dengan perut keroncongan. Ia berlari ke dapur dan merengek meminta makan kepada ibunya. Saat itu, Bawi Kuwu sedang sibuk dan kelelahan menanak nasi.
"Tunggu sebentar, Nak. Nasinya belum matang," bujuk Bawi Kuwu.
Namun, rasa lapar membuat Tangkiling kehilangan kesabaran. Ia menangis sejadi-jadinya dan terus rewel mengganggu ibunya. Karena kalut dan kehabisan kesabaran, Bawi Kuwu refleks mengayunkan suduk (sendok nasi kayu) di tangannya hingga tak sengaja membentur kepala putranya.
Pukulan itu meninggalkan luka yang cukup dalam hingga darah mengucur dari kepala Tangkiling. Terkejut, kesakitan, dan merasa tak lagi disayangi ibunya, bocah malang itu lari meninggalkan rumah. Ia terus berlari sambil menangis menyusuri tepian Sungai Sabangau, tak menghiraukan panggilan ibunya yang tersadar dan dipenuhi penyesalan.
Pelarian ke Negeri Seberang
Di muara sungai, langkah gontai Tangkiling menarik perhatian seorang saudagar Tiongkok yang kapalnya tengah berlabuh. Mendengar cerita sedih sang bocah yang merasa dibuang oleh ibunya, sang saudagar merasa iba. Ia pun membawa Tangkiling berlayar bersamanya menuju Tiongkok.
Tahun berganti tahun. Bawi Kuwu menjalani hari-harinya dalam penyesalan yang mendalam. Untuk menyambung hidup dan mengalihkan kesedihannya, ia menghabiskan waktu dengan menyulam benang hingga menjadi taplak meja, sarung bantal, hingga pakaian, yang kemudian dijual kepada para pedagang yang singgah di desanya.
Meski usianya bertambah, Bawi Kuwu masih merawat dirinya. Kecantikannya tak memudar, bahkan parasnya semakin cantik, seolah diawetkan oleh kesendiriannya.
Sementara di daratan Tiongkok, Tangkiling tumbuh menjadi pemuda yang gagah, cerdas, dan tampan. Sejak dibawa ke Tiongkok, dia diberi nama baru oleh ayah angkatnya. Ia tak hanya mendapat pendidikan yang baik, tetapi juga mewarisi ilmu perniagaan dari ayah angkatnya.
Belasan tahun berlalu, Tangkiling kini telah menjadi saudagar sukses. Dia dipercaya oleh ayahnya untuk memimpin armada kapal dagangnya sendiri menuju Nusantara.
Pertemuan yang Mengubah Takdir
Setelah berlayar mengarungi Laut Cina Selatan hingga Laut Jawa, kapal Tangkiling menyusuri pesisir Kalimantan dan tanpa sadar berbelok masuk ke muara Sungai Sabangau, kampung halamannya sendiri yang telah lama ia lupakan.
Dia benar-benar tidak ingat dengan sungai tempatnya dahulu bertemu dengan ayah angkatnya. Bahkan dia sudah tidak ingat wajah ibunya karena berpisah saat masih sangat kecil.
Kapalnya membuang sauh di sebuah desa pelabuhan yang ramai. Barang dagangan Tangkiling laku keras, memaksanya menetap lebih lama di desa tersebut. Selama berada di sana, ia kerap mendengar bisik-bisik penduduk tentang pesona seorang wanita bernama Bawi Kuwu yang terkenal akan kecantikan dan kehalusan sulamannya.
Rasa penasaran membawa Tangkiling bertamu ke rumah wanita itu. Saat pandangan mereka bertemu, takdir mempermainkan keduanya. Mereka merasa ada suatu ikatan batin. Namun yang seharusnya merupakan ikatan ibu dan anak, tersalahartikan menjadi asmara.
Tangkiling terpesona oleh keanggunan Bawi Kuwu, dan Bawi Kuwu pun terpikat oleh ketampanan dan kegagahan pemuda di hadapannya. Waktu belasan tahun dan perubahan fisik membuat mereka sama sekali tidak mengenali wajah satu sama lain. Apalagi Tangkiling memperkenalkan diri dengan nama barunya.
Tanpa membuang waktu, Tangkiling melamar Bawi Kuwu. Lamaran itu diterima, dan pesta pernikahan digelar secara besar-besaran selama berhari-hari dengan memotong banyak sapi dan kerbau. Seluruh warga desa dari hulu hingga hilir bergembira merayakan penyatuan dua insan yang tampak serasi tersebut.
Terungkapnya Rahasia Masa Lalu
Beberapa hari setelah pesta pernikahan usai, Tangkiling tengah bersantai di pangkuan istrinya. Ia meminta Bawi Kuwu untuk mencari kutu di rambutnya. Saat jemari Bawi Kuwu menyibak rambut suaminya, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Matanya tertuju pada sebuah bekas luka yang sangat khas di kulit kepala Tangkiling. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Kanda, dari mana asal luka di kepalamu ini?"
Tangkiling tersenyum getir, lalu menceritakan kejadian masa kecilnya. Meski ada banyak hal yang terlupa, kejadian nahas di hari itu masih menempel di pikirannya.
"Ini luka masa kecilku. Seingatku, dulu aku sangat nakal. Suatu hari, aku menangis meminta makan padahal ibuku sedang repot memasak. Karena marah, ibuku memukul kepalaku dengan sendok nasi hingga berdarah. Aku pun lari dan sudah tak ingat lagi apa yang terjadi."
"Ayah angkatku bercerita dia membawaku dari tepi sungai karena aku menangis seorang diri hingga membawaku ke negeri Tiongkok. Sampai sekarang, aku tidak tahu apakah ibuku masih hidup atau sudah tiada. Aku juga tidak ingat wajahnya."
Mendengar itu, tangis Bawi Kuwu pecah. Dia lalu menanyakan apakah suaminya bernama asli Tangkiling. Tangkiling pun membenarkan. Dunia pun seakan runtuh menimpanya.
"Duhai, ini aku... Aku adalah ibu kandungmu, Nak," rintihnya dengan penuh keputusasaan.
Murka Alam dan Kutukan
Kenyataan bahwa ia telah menikahi ibu kandungnya sendiri membuat Tangkiling terguncang hebat. Dalam tradisi masyarakat setempat, hubungan sedarah adalah pantangan terbesar (Pali) yang akan mengundang malapetaka dari Yang Maha Kuasa.
Dalam upaya putus asa untuk membersihkan dosa tersebut dan menolak bala, Tangkiling memerintahkan Bawi Kuwu membuat sesajen tujuh ketupat dan tujuh telur rebus. Ia lalu bergegas masuk ke hutan, menyumpit kaki hewan-hewan tanpa membunuh mereka, untuk dijadikan persembahan.
Sekembalinya ke desa, Tangkiling memerintahkan warga untuk mendirikan Sangkaraya (tiang persembahan sakral) dan mengikat hewan-hewan persembahan di sekelilingnya. Ia lalu meminta seluruh penduduk desa untuk manganjan (menari ritual) mengelilingi Sangkaraya.
Namun, dosa yang telah terjadi terlalu besar untuk dihapus. Alam semesta murka. Di tengah dentuman tarian, langit mendadak gelap gulita. Badai dahsyat datang menerjang, disusul suara guntur dan petir yang menyambar-nyambar dengan beringas. Bawi Kuwu yang ketakutan berlari mencari perlindungan ke arah kapal Tangkiling.
Tepat saat kilat paling terang membelah langit, kutukan turun seketika. Seluruh penduduk desa yang sedang menari, hewan-hewan persembahan, dan Tangkiling sendiri mengeras menjadi batu.
Sangkaraya yang menjulang di tengah desa itu berubah wujud menjadi sebuah bukit batu raksasa yang kini dinamakan Bukit Tangkiling. Sementara kapal beserta seluruh isinya yang membatu menjelma menjadi Batu Banama.
Kisah yang Tertinggal
Kini, Bukit Tangkiling berdiri tegak di tepian Sungai Rungan, Kecamatan Bukit Batu. Desa di kaki bukitnya masih membawa nama sang pemuda malang, Desa Tangkiling. Tempat berdirinya kutukan masa lalu itu kini telah menjadi kawasan wisata yang indah, berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Palangka Raya.
Dari atas puncak bebatuannya, para pendaki dapat melihat hamparan hutan Kalimantan yang luas dan lekukan Sungai Rungan, sebuah keindahan alam yang menyimpan ironi dan tragedi dari masa silam.
(bai/des)