Desakan agar dokter RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) mengklarifikasi dan mendapatkan sanksi terkait komentar negatifnya di Threads terus bermunculan. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Samarinda pun memberi respons.
Ketua IDI Samarinda, dr Andriansyah mengatakan pihaknya memahami adanya permintaan masyarakat agar dokter yang bersangkutan memberikan penjelasan secara langsung. Hanya saja, kewenangan IDI terhadap dokter tersebut terbatas karena statusnya bukan anggota IDI Samarinda.
"Kalau ditanya apakah beliau anggota IDI atau tidak, jawabannya memang tidak. Makanya kami tidak punya kewenangan untuk memanggil beliau. Sampai saat ini beliau memang belum terdaftar sebagai anggota IDI," ujar Andriansyah saat konferensi pers, Jumat (7/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi tersebut membuat IDI tidak bisa mengambil langkah organisasi seperti memanggil atau meminta pertanggungjawaban langsung kepada dokter tersebut. Meski demikian, Andriansyah menyebut persoalan yang muncul tetap menjadi perhatian secara kesejawatan.
"Tetapi kenapa saya menerima teman-teman untuk datang ke sini? Karena tadi bahasa katanya ini hubungan kesejawatan. Kalau ada teman sejawat yang mengalami masalah, tentu kita punya kepedulian. Jadi kita tetap memberikan perhatian, tetapi bukan berarti kami bisa memanggil karena yang bersangkutan bukan anggota IDI," terangnya.
Terkait tuntutan agar dokter tersebut memberikan klarifikasi kepada publik, Andriansyah mengatakan penjelasan dari sisi institusi seharusnya disampaikan oleh pihak rumah sakit tempat dokter tersebut bekerja. Ia menyebut dokter yang diketahui berinisial RM itu bekerja di RSUD IA Moeis Samarinda.
"Saya yakin klarifikasi itu sudah disampaikan oleh direktur rumah sakit. Jadi kalau mau ditanya siapa yang paling berwenang untuk menjawab klarifikasi dari publik, adalah direktur tempat dokter yang bersangkutan bekerja. Dia sendiri juga bisa memberikan klarifikasi secara pribadi," jelasnya.
Sanksi Harus Melalui Proses
Andriansyah menilai persoalan tersebut tidak bisa serta-merta diselesaikan hanya dengan meminta organisasi profesi memberikan sanksi. Menurutnya, ada mekanisme yang harus ditempuh apabila dokter anggota IDI ditemukan dugaan pelanggaran etik dengan cara diproses melalui Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).
"Kalau ada teman sejawat yang curiga ada masalah etik, biasanya anggota kita akan kita tindak melalui MKEK. Kalau memang nanti terbukti ada masalah, baru MKEK yang memutuskan. Saya sebagai ketua tidak punya kewenangan mengatakan dia salah atau tidak sebelum ada keputusan dari MKEK," tuturnya.
Meski tidak menyebut dokter tersebut harus meminta maaf, Andriansyah mengakui komentar yang ditujukan terhadap orang yang sedang sakit maupun keluarganya merupakan sesuatu yang tidak pantas. Ia menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi pembelajaran bagi dokter dalam menggunakan media sosial.
"Kalau ditanya apakah salah secara etika bersosialisasi, ya sudah salah. Mau siapa pun, mau dokter, kan dokter juga seperti kalian. Manusia biasa saja kalau ada orang sakit atau kecelakaan, itu sudah salah kalau kita mengeluarkan kalimat yang bisa melukai. Apalagi dokter yang sumpahnya untuk menjaga kehidupan manusia," tegasnya.
Ia kemudian mengingatkan dokter di Samarinda agar lebih bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, profesi dokter tetap melekat pada seseorang meskipun komentar disampaikan melalui akun pribadi.
"Teman-teman sejawat, khususnya para dokter di Samarinda, harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial masing-masing. Tunjukkan profesionalisme, tunjukkan etika sebagai seorang dokter yang baik. Karena pada dasarnya dokter itu sahabat pasien, sahabat keluarga pasien. Enggak mungkin kita ingin melukai keluarga kita sendiri," katanya.
Andriansyah juga menyebut IDI Samarinda berencana memperkuat pembinaan etika dokter, termasuk dalam penggunaan media sosial. Langkah tersebut dinilai penting karena ruang digital membuat pernyataan pribadi seorang dokter dapat dengan cepat dikaitkan dengan profesinya.
"Salah satu agenda kita adalah melakukan pelatihan etika, mengingatkan kembali etika kita, khususnya dalam bermedia sosial. Kita juga akan melakukan webinar tentang bagaimana cara beretika, karena kita punya buku panduan, tapi belum tersosialisasi dengan baik. Itu yang mau kita sosialisasikan sekarang," pungkasnya.
Simak Video "Video Persija Vs Persib: Adam Alis Pahlawan Kemenangan Maung Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
