Biasanya kalau Imlek, tradisi apa sih yang paling sering detikers lakukan bareng keluarga? Kumpul buat makan malam besar, bagi-bagi angpao, foto rame-rame pakai baju merah, atau keliling silaturahmi ke rumah saudara?
Selain angpao, Imlek juga tidak lepas dari sederet makanan khas yang tentunya punya filosofi tersendiri. Mulai dari kue keranjang, jeruk mandarin, lapis legit, mi panjang umur, semuanya dipercaya membawa keberuntungan. Tapi, di beberapa wilayah Asia Tenggara, ada satu hidangan khas Imlek yang cara makannya harus melalui ritual dan doa khusus terlebih dahulu.
Hidangan itu adalah Yusheng. Salad ikan mentah berwarna-warni ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Tionghoa di Singapura dan Malaysia. Uniknya, sebelum menyantap Yusheng, semua orang akan berdiri mengelilingi meja, memegang sumpit, lalu mengaduknya bersama-sama sambil mengucapkan doa dan harapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal Mula Yusheng
Yusheng berasal dari bahasa Mandarin, yaitu Yu yang berarti ikan dan Sheng yang berarti hidup atau mentah. Yusheng adalah salad ikan mentah yang dicampur dengan berbagai sayuran dan biji-bijian.
Seperti yang dikutip dari PIB College, School of Tourism, Digital & Creative Arts, hidangan yang satu ini umumnya menggunakan ikan salmon atau tuna sebagai bahan utama, yang kemudian dipadukan dengan irisan wortel, lobak putih, mentimun, wijen sangrai, kacang tanah tumbuk, kerupuk, serta saus plum yang manis. Saus plum ini konon diperkenalkan oleh chef di Singapura pada tahun 1960-an.
Walaupun mungkin detikers masih asing mendengar hidangan ini di Indonesia, tetapi Yusheng sangat populer di kalangan Tionghoa di Singapura dan Malaysia. Pada awalnya, tradisi makan ikan mentah sudah dikenal di wilayah pesisir Tiongkok selatan sejak ratusan tahun lalu. Ikan segar disajikan sebagai simbol kelimpahan dan keberuntungan.
Namun, bentuk Yusheng seperti yang dikenal sekarang berkembang pesat di Asia Tenggara pada abad ke-20. Di sepanjang Asia Tenggara, masyarakat Tionghoa mengombinasikan tradisi lama dengan bahan-bahan lokal, sehingga lahirlah Yusheng ala Asia Tenggara sebagai simbol keberuntungan dan kebersamaan.
Salah satu keunikan Yusheng terletak pada makna filosofis setiap bahan yang digunakan. Semua unsur dalam hidangan ini dipercaya membawa doa dan harapan baik.
Ikan melambangkan kelimpahan dan kemakmuran. Warna oranye dari wortel melambangkan rezeki dan keberuntungan. Lobak putih mencerminkan kesucian serta awal yang baru. Wijen melambangkan karier yang terus meningkat. Kacang tanah diyakini sebagai pembawa umur panjang. Sementara saus plum menggambarkan kehidupan yang harmonis dan penuh kebahagiaan.
Perpaduan bahan-bahan ini membuat Yusheng sebagai representasi harapan akan kehidupan yang seimbang, sejahtera, dan bahagia.
Ritual Lo Hei: Tradisi Mengaduk Yusheng
Hal paling khas dari Yusheng adalah ritual yang disebut Lo Hei, yang berarti 'mengangkat tinggi-tinggi'. Ritual inilah yang menjadi inti dari penyajian Yusheng saat Imlek.
Dalam prosesi Lo Hei, semua orang yang hadir berdiri mengelilingi meja dan memegang sumpit. Setelah aba-aba, mereka mengaduk dan mengangkat Yusheng bersama-sama setinggi mungkin. Sambil mengaduk, setiap orang mengucapkan doa dan harapan, seperti semoga sukses, sehat, kaya, dan bahagia.
Semakin tinggi Yusheng diangkat, dipercaya semakin besar keberuntungan yang akan diperoleh di tahun baru. Karena tidak dilakukan sendiri, ritual Lo Hei pasti diisi dengan suka cita antaranggota keluarga. Hal ini yang membuat Yusheng dan Lo Hei menjadi media pemersatu ikatan keluarga.
Seiring waktu, Yusheng mengalami banyak inovasi. Beberapa restoran menyajikan Yusheng versi premium dengan tambahan abalon, lobster, atau kerang segar. Ada pula Yusheng versi vegetarian yang isinya hanya berupa sayuran saja, tanpa ikan maupun jenis seafood lainnya..
Walaupun bahan dan penyajiannya semakin beragam, makna utama Yusheng tetap sama, yaitu sebagai doa, harapan akan keberuntungan, dan mempererat kebersamaan. Bagaimana detikers, sudah pernah coba Yusheng, atau tertarik mencobanya?
Simak Video "Video Prabowo: Tahun Baru Imlek Bukan Hanya Perayaan Keagamaan"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/aau)
