Balikpapan yang dijuluki Kota Minyak punya peran penting dalam industri minyak dan gas bumi sejak masa kolonial Belanda. Bahkan, karena kemajuan ekonomi dan infrastrukturnya, Balikpapan jadi sering disangka ibu kota Kalimantan Timur. Padahal ibu kota provinsi itu Samarinda.
Terlepas dari kemajuan industri minyak dan gas, Balikpapan punya sejarah yang menarik soal asal-usul namanya. Menariknya, asal-usul nama Balikpapan tidak hanya memiliki satu versi.
Dalam berbagai sumber, setidaknya ada dua versi yang menjelaskan mengapa wilayah ini dinamakan Balikpapan. Lantas, dari mana nama Balikpapan berasal? Kenapa ada dua kata, 'balik' dan 'papan' yang menyusun nama kota ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau dilihat dari susunan katanya, nama Balikpapan dapat dikategorikan dari rumpun bahasa Melayu. Soal itu juga diperkuat catatan tertulis seorang penulis dan pendeta Belanda, F. Valenijn, dalam karyanya yang terbit pada 1724.
Dalam buku tersebut, F. Valenijn menyebut ada suatu daerah di hulu sebuah sungai yang bermuara ke sebuah teluk, berjarak sekitar tiga mil dari pantai. Daerah tersebut dicatat dengan nama BILIPAPAN.
Nama itu kemudian disambungkan dengan sebuah desa yang berada di wilayah teluk, yang kini dikenal sebagai Teluk Balikpapan. Catatan Valenijn menjadi salah satu rujukan tertulis paling awal, yang pernah menyebut nama yang maknanya memiliki keterkaitan dengan Balikpapan saat ini.
Versi Pertama: Legenda 1.000 Papan pada Masa Kerajaan Kutai
Versi pertama mengenai asal-usul nama Balikpapan bersumber dari legenda yang dikutip dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan.
Menurut legenda tersebut, peristiwa itu terjadi pada tahun 1739, saat wilayah Teluk Balikpapan berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Pada masa itu, Sultan Muhammad Idris memerintahkan para pemukim yang tinggal di sepanjang Teluk Balikpapan untuk memberikan sumbangan bahan bangunan.
Sumbangan itu tidak lain adalah untuk keperluan pembangunan istana baru di Kutai Lama. Bentuk sumbangan yang ditetapkan adalah 1.000 lembar papan kayu.
Papan-papan tersebut kemudian diikat menjadi sebuah rakit dan dibawa menyusuri pantai menuju Kutai Lama. Namun, setelah sampai di tujuan, jumlah papan yang diterima ternyata kurang 10 lembar.
Setelah dilakukan pencarian, diketahui bahwa 10 lembar papan tersebut terlepas selama perjalanan, lalu terhanyut dan akhirnya ditemukan timbul di sebuah tempat yang kini dikenal dengan nama Jenebora. Dari peristiwa itu muncul istilah dalam bahasa Kutai yang bermakna: Baliklah papan itu
Atau bisa juga dimaknai sebagai papan yang kembali, yaitu papan yang tidak sampai ke tujuan dan seolah menolak untuk ikut disumbangkan. Dari ungkapan inilah kemudian muncul penamaan Balikpapan.
Versi Kedua: Legenda Suku Pasir Balik
Versi kedua berasal dari legenda rakyat Suku Pasir Balik yang juga dikenal sebagai Suku Pasir Kuleng. Masih dikutip dari buku 90 Tahun Kota Balikpapan, versi ini adalah yang terkenal dan diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Menurut hikayat suku Pasir Balik, masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai Teluk Balikpapan merupakan keturunan dari sepasang leluhur bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Dari nama kedua leluhur inilah, kampung nelayan yang berada di Teluk Balikpapan kemudian diberi nama Kuleng-Papan.
Dalam bahasa Pasir, 'kuleng' berarti balik, dan papan berarti papan. Sehingga istilah Kuleng-Papan memiliki arti yang sama dengan Balik-Papan.
Berdasarkan cerita itu, nama Balikpapan diperkirakan telah dikenal sejak sekitar tahun 1527, jauh sebelum legenda pada masa pemerintahan Sultan Kutai terjadi. Versi itu pula yang menegaskan bahwa penamaan Balikpapan kemungkinan besar berasal dari bahasa dan budaya masyarakat pesisir, bukan dari pengaruh budaya luar.
Berdasarkan dua versi tersebut, bisa disimpulkan asal-usul nama Balikpapan memiliki akar cerita dan kehidupan masyarakatnya yang dekat dengan pesisir. Baik legenda 1.000 papan maupun kisah leluhur Suku Pasir Balik, sama-sama menunjukkan bahwa Balikpapan merupakan sebuah daerah yang hidup berdampingan dengan perairan.
Simak Video "Bersantai di Malam Ramai Kawasan Tepian Berau, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/bai)
