Siapa yang tidak tahu Balikpapan? Kota yang terkenal karena minyak dan gas itu merupakan salah satu kota besar di Kalimantan Timur.
Bukan hanya minyak bumi, Balikpapan juga disibukkan sebagai pusat industri kelapa sawit, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi yang melesat tinggi di Kalimantan.
Walau saat ini sudah maju, sejarah pembentukan dan perkembangan Balikpapan memiliki cerita panjang yang menarik untuk ditelusuri. Jauh sebelum dikenal sebagai kota industri, Balikpapan hanyalah sebuah desa nelayan di Teluk Balikpapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Mula Pembentukan Balikpapan
Pada akhir abad ke-19, wilayah Balikpapan masih berupa kawasan pesisir yang sepi. Aktivitas masyarakat kala itu berdagang memperjualbelikan hasil tangkapan laut di sekitar Teluk Balikpapan.
Seperti yang dijelaskan dalam buku Sejarah Daerah Kalimantan Timur, Balikpapan semula merupakan bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara, sebuah kerajaan besar yang pernah menguasai bagian besar Kalimantan Timur. Pada akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mendapatkan hak konsesi pertambangan dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dalam perjanjian itu, Belanda memperoleh hak untuk melakukan eksplorasi di bidang kehutanan, kelautan, dan pertambangan minyak bumi di wilayah tersebut. Di momen itulah kemudian ditemukan potensi hasil bumi.
Pada 10 Februari 1897, tim pengeboran Belanda yang dipimpin Jacobus Hubertus Menten dari Firma Samuel & Co, mengebor sumur minyak pertama di kaki Gunung Kemendur, sisi timur Teluk Balikpapan.
Sumur itu dinamakan Mathilda, diambil dari nama anak Menten sendiri. Penemuan minyak itulah yang kemudian dijadikan sebagai titik awal sejarah Balikpapan sebagai pusat industri minyak.
Sebenarnya belum ada tanggal resmi pembentukan Kota Balikpapan. Namun, untuk menegaskan hal tersebut, pemerintah daerah bersama para sejarawan sepakat menyelenggarakan Seminar Sejarah Balikpapan pada 1 Desember 1984.
Seminar itu bertujuan untuk mengkaji dan menetapkan dasar sejarah berdirinya kota Balikpapan. Diruntut secara kronologis, ditetapkanlah 10 Februari 1897 sebagai hari di mana Balikpapan lahir melalui Surat Keputusan Nomor 6 tahun 1985 tanggal 25 November 1985.
Perkembangan Ekonomi dan Migrasi Penduduk
Penemuan minyak tentu membawa perubahan besar bagi Balikpapan. Industri minyak yang berkembang pesat pada awal abad ke-20 menarik gelombang migrasi besar-besaran ke daerah ini. Pekerja dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa, Bugis, Banjar, hingga Sulawesi mulai berdatangan untuk bekerja di berbagai sektor industri, seperti yang dijelaskan dalam buku Sejarah Kota Balikpapan.
Pendatang kemudian membentuk sebuah desa baru di sekitar Balikpapan. Kawasan seperti Tukung (Klandasan) dan Jumpi (Kampung Baru) menjadi awal mula pemukiman bagi sebagian besar warga Balikpapan.
Selain itu, pedagang dari Kerajaan Banjar di Banjarmasin dan daerah Bone di Sulawesi Selatan juga banyak singgah dan berdagang di Balikpapan karena aktivitas ekonomi yang terus meningkat.
Dengan meningkatnya eksplorasi dan produksi minyak, Balikpapan pun dikenal sebagai Kota Minyak dan julukan itu melekat sampai sekarang karena perannya sebagai pusat produksi dan pengolahan minyak di Indonesia.
Periode Penjajahan dan Perang Dunia II
Yup, Balikpapan menjadi salah satu kota penting dalam Perang Dunia II. Seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar pada masa itu, Balikpapan berubah menjadi wilayah yang sangat strategis karena kilang minyaknya. Hal itu membuat kota ini menjadi sasaran perebutan kekuasaan.
Pada 23-24 Januari 1942, terjadi peristiwa Pertempuran Balikpapan antara pasukan Belanda yang didukung Sekutu melawan tentara Jepang. Jepang memenangkan pertempuran tersebut dan kemudian menguasai Balikpapan beserta fasilitas minyaknya, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung mesin perang Jepang di kawasan Pasifik.
Pendudukan Jepang di Balikpapan berlangsung sejak 1942 hingga 1945. Selama periode itu, kilang minyak tetap dijaga ketat karena nilainya yang fantastis, meskipun sebagian fasilitas mengalami kerusakan akibat perang.
Menjelang akhir Perang Dunia II, kekuatan Jepang mulai melemah. Pada 1 Juli 1945, pasukan sekutu yang didominasi oleh tentara Australia melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali Balikpapan dari Jepang.
Operasi itu dikenal sebagai bagian dari Oboe-2, dan memukul mundur pasukan Jepang dari wilayah tersebut. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, Balikpapan berada di bawah kendali militer Sekutu, khususnya Australia.
Tugas utama pasukan Australia saat itu adalah melucuti tentara Jepang, mengamankan wilayah, serta melindungi objek vital seperti pelabuhan dan kilang minyak. Meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Balikpapan belum langsung berada di bawah pemerintahan Republik Indonesia karena masih berada dalam pengawasan Sekutu.
Sekutu kemudian membuka jalan bagi kembalinya pemerintahan sipil Belanda melalui NICA. Pada periode 1945-1949, Balikpapan secara de facto berada di bawah pengaruh Belanda. Kondisi itu berakhir setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Desember 1949, ketika Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia.
RDMP Balikpapan/ Foto: dok. Pertamina |
Sejak saat itu, Balikpapan masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia Serikat dan kemudian menjadi bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.
Wah, menarik sekali untuk ditelusuri perkembangan Balikpapan dari hanya sekadar desa nelayan kecil, kemudian nasibnya berubah menjadi tanah yang diperebutkan.
Hingga sekarang, kilang minyak Balikpapan yang dikelola PT Pertamina (Persero), khususnya melalui Kilang Balikpapan dan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) menjadi tulang punggung industri energi minyak di wilayah timur Indonesia.
Simak Video "Bersenang-senang dan Piknik Kuliner di Pantai Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)

