Samarinda punya warisan budaya berupa kain tenun, yang diproduksi secara manual di Kampung Tenun Samarinda Seberang. Namun, produksinya kini terhambat karena ketersediaan benang sutra yang semakin menipis.
Dilansir detikFinance, penenun di kampung tersebut masih berupaya bertahan memproduksi sarung tradisional khas Samarinda di tengah keterbatasan ini. Produk yang paling terdampak yakni tenun premium.
Penenun Kampung Tenun Samarinda dikenal dengan hasil kerajinannya yang dibuat secara manual menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Produksi secara tradisional ini dilakukan untuk menjaga kualitas serta nilai budaya sarung tenun Samarinda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterbatasan benang sutra ini secara tidak langsung berdampak pada upaya pelestarian warisan budaya di Samarinda. Penenun berharap agar krisis ini dapat segera diatasi dan mereka bisa berproduksi seperti biasanya.
Berdasarkan catatan detikKalimantan, sarung tenun Samarinda tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tradisional, tetapi juga memiliki makna filosofis yang kuat. Setiap motif yang ditenun di dalamnya mencerminkan nilai-nilai kehidupan, seperti kesabaran, ketekunan, dan harmoni dengan alam.
Motif-motif tertentu sering kali mengandung harapan, doa, serta hubungan antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Sarung ini juga menjadi simbol status sosial di kalangan masyarakat. Semakin rumit motif dan semakin berkualitas bahan yang digunakan, semakin tinggi pula nilai pemakainya.
Baca selengkapnya di sini.
(des/des)
