Terdapat sejumlah ciri khas dalam setiap hari perayaan. Seperti Natal, yang identik dengan pohon cemara yang hijau, interior berwarna merah dan hijau, hingga sejumlah ornamen lainnya.
Setiap simbol ternyata punya cerita dan sejarahnya sendiri, melintasi berbagai budaya, tradisi, dan agama, dari praktik pagan kuno hingga perayaan Kristen modern. Lalu, kenapa Natal identik dengan warna merah dan hijau?
Dikutip detikEdu dari Reader's Digest, setiap perayaan memiliki warna khas seperti halloween identik dengan warna hitam dan oranye, lalu lebaran dengan warna putih dan hijau muda. Kombinasi merah dan hijau pada Natal kerap menghadirkan nuansa hangat dan kenangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah warna Natal klasik ini bermula dari kartu Natal era Victoria pada 1800-an dan populer kembali lewat ilustrasi seniman pada 1920-an. Namun, akar penggunaannya lebih tua, berasal dari masyarakat Celtic kuno yang menghormati tanaman holly (Ilex sp) berwarna merah dan hijau karena selalu hijau, sebagai simbol perlindungan dan keberuntungan di musim dingin.
Di gereja-gereja abad pertengahan, merah dan hijau juga kerap digunakan pada layar roods untuk menghias altar. Selain faktor ketersediaan pigmen, kombinasi ini kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus. Tradisi ini berlanjut hingga era Victoria, diterapkan pada dekorasi dan kartu Natal, memadukan simbolisme musim dingin dan religius.
Secara khusus, warna merah melambangkan darah Yesus, cinta, keberanian, dan keceriaan, sekaligus identik dengan pakaian Santa Claus. Sementara hijau, seperti pada holly dan mistletoe, merepresentasikan kehidupan Kristus dan sifat-Nya yang abadi. Pada masa pagan, hijau juga mengingatkan manusia bahwa alam tetap hidup meski di musim dingin.
Hijau juga mengingatkan dengan warna pohon cemara sebagai dekorasi wajin pada natal. Pertama kali pohon cemara hijau abadi digunakan sebagai pohon Natal adalah di Tallinn, Estonia atau Riga, Latvia.
Legenda lain menyebutkan bahwa pada abad ke-8, biarawan Benediktin Inggris, Boniface, menebang pohon ek di Jerman untuk menghentikan praktik penyembahan dewa pagan. Dari lokasi pohon ek yang ditebang itu, tumbuh pohon cemara yang kemudian dijadikan simbol Kristus. Bentuk segitiga pohon cemara melambangkan Tritunggal Mahakudus sekaligus kehidupan baru.
Pada abad ke-16, orang Kristen Jerman membawa pohon-pohon itu ke dalam rumah mereka sebagai simbol Natal kehidupan abadi. Ketika berita menyebar bahwa Ratu Victoria meminta suaminya yang berkebangsaan Jerman, Pangeran Albert, untuk memasang pohon Natal di istana mereka, praktik tersebut tiba-tiba menjadi puncak simbolisme Natal di Inggris dan Amerika.
Umat Kristen menghiasnya dengan kacang, apel, dan kue jahe. Ada juga yang membuat piramida kayu dan menempatkan cabang cemara beserta lilin sebagai pengganti pohon. Seiring migrasi orang Jerman ke berbagai wilayah di dunia, tradisi menghias pohon Natal menyebar dan berkembang, hingga menjadi simbol Natal yang populer dan dikenal luas hingga saat ini.
(aau/aau)
