Buat Gen Z yang Ingin Jadi Pelukis, Ini Pesan Rokhyat 'Tikus Dalam Garuda'

Buat Gen Z yang Ingin Jadi Pelukis, Ini Pesan Rokhyat 'Tikus Dalam Garuda'

Ayuningtias Puji Lestari - detikKalimantan
Kamis, 13 Nov 2025 08:29 WIB
Seniman Rokhyat di Galeri Seni Eko Yes Palangka Raya.
Seniman Rokhyat di Galeri Seni Eko Yes Palangka Raya. Foto: Ayuningtias Puji Lestari/detikKalimantan
Palangka Raya -

Rokhyat, pelukis kontroversial dengan karya berjudul 'Tikus Dalam Garuda' memberikan tips dan pesan bagi pemuda atau generasi Z yang ingin menjadi seorang pelukis. Yang utama, pemula harus mengikuti semua tahapan periode belajar melukis.

"Yang pasti harus mengikuti tahapan periodenya," ujar Rokhyat kepada detikKalimantan, saat ditemui di Galeri Seni Eko Yes, Palangka Raya, Rabu (12/11/2025).

Pria kelahiran 1965 asal Kalimantan Selatan ini menekankan pentingnya tahapan belajar nirmana. Menurutnya, belajar nirmana adalah kunci untuk menguasai seni lukis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nirmana itu mengenal elemen seni rupa. Jaman saya dulu nirmana itu sampai tiga semester. Kalau orang lulus dia menguasai nirmana, semua elemen seni rupa apapun ia bisa kuasai," kata lulusan Seni Rupa Murni itu.

"Kalau dia tidak selesai belajar nirmana, biasanya susah untuk menilai karya rupa yang agak ekspresif, apalagi abstrak," imbuhnya.

Menurutnya, kunci saat belajar nirmana yaitu tidak boleh menentukan bentuk. Alih-alih pada bentuk, Rokhyat menyarankan fokus pada pola.

"Kunci dalam belajar nirmana adalah tidak boleh menentukan bentuk, misalkan saya bikin 100 komposisi garis lengkung, itu tidak boleh ada tujuan untuk menjadi sesuatu," terangnya.

Ada aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam nirmana. Seperti komposisi dan irama.

"Yang jadi pijakannya dalam nirmana itu ada di komposisinya, ada di iramanya, ada gelap terang, ada kontrasnya. Misal bagian sini dominan sebelahnya kosong. Ada garis besar ada garis kecil," ucapnya.

Rokhyat sempat meluruskan pemahaman yang kurang tepat tentang nirmana. Seharusnya, nirmana tidak boleh terpaku pada bentuk yang realistis.

"Nah ini yang perlu diluruskan, kalau saya boleh kritisi pelajaran nirmana di akademisi sekarang itu sudah agak berubah. Sekarang orang tahunya nirmana itu repetisi bentuk, yang akhirnya membentuk sesuatu kan. Nah, itu sebenarnya kurang tepat," ungkapnya.

Bagi Rokhyat, tujuan belajar membuat nirmana adalah melatih kejujuran dan keberanian mengekspresikan sesuatu yang ada dalam diri seseorang. Tanpa takut dihakimi.

"Nirmana itu melatih kejujuran dan keberanian kita mengekspresikan apa yang ada didalam pikiran kita. Tanpa takut dinilai jelek atau salah oleh orang lain," tegasnya.

Nirmana juga memiliki banyak manfaat ketika seseorang benar-benar terjun dalam dunia lukis ke depannya. Bermanfaat bagi pelukis hingga kritikus seni rupa.

"Nirmana juga nantinya bermanfaat untuk kita ketika membuat karya. Sedangkan bagi kurator atau pengamat seni sekaligus kritikus gunanya nirmana untuk menimbang atau menilai sebuah karya seni itu," terangnya.

Rokhyat juga mengingatkan hal penting dalam belajar lukis adalah kemandirian dan kreativitas.

"Ketika anak-anak kecil diajari untuk melukis, itu kan dia sebenarnya punya potensi bakat lain. Ada yang besarnya nanti jadi pedagang, pengusaha, pengajar, atau apa sajalah macam-macam. Sebenarnya seni itu menumbuhkan kemandirian dan kreativitasnya," ungkapnya.

Tahapan Periode Melukis

Ada beberapa tahapan periode melukis yang harus dipelajari, di antaranya sebagai berikut:

1. Nirmana

Hal pertama yang harus dipelajari yakni belajar nirmana. Di dalam nirmana akan diajari elemen-elemen seni rupa.

"Nirmana itu paling penting dan paling mendasar dalam dunia seni rupa.
Coba anak-anak kalau ngelukis apa yang dilukis? Coreng moreng kan? seni juga itu," ungkap Rokhyat.

2. Ash Grey

Tahapan periode belajar yang kedua adalah belajar ilmu Ash Grey. Menurut Rokhyat, teknik Ash Grey masih menggunakan perspektif anak-anak. Artinya tidak harus mengikuti logika orang dewasa.

"Nanti kalau sudah selesai tahap coreng morengnya (nirmana), lanjut lagi tahapannya ada namanya Ash Grey, itu tembus pandang," ujarnya.

"Misalkan kita bikin wajah orang dari sisi samping itu keliatan semua dua mata. Kenapa? Karena itu masih di tahapan logika anak-anak," imbuhnya.

3. Dekoratif

Periode belajar yang ketiga adalah decoratif. Menurut Rokhyat, tahapan ini menjadi gerbang menuju periode perspektif realisme. Bentuknya mirip realis tetapi belum menggunakan perspektif orang dewasa.

"Periode berikutnya sebelum realis itu dekoratif. Salah satu tekniknya tidak memiliki perspektif. Jadi, kalau mendekat itu dibawah, kalau menjauh itu di atas, dibalik," ujarnya.

4. Realisme

Terakhir, tahapan Realisme. Di sini sudah menggunakan perspektif logika orang dewasa. Pada tahapan ini ditekankan untuk membuat gambar serealistis mungkin.

"Nah nanti setelah dekoratif ini baru realis, disini sudah pakai perspektif. Yang dekat itu besar, yang jauh itu kecil, itu realis namanya. Nah itu masa-masa dia sudah memakai logika," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Membuat Gerabah di Museum Seni Rupa dan Keramik Kota Tua"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads