Jerit Pedagang Pakaian Pasar Kobar: Sepi Sejak Ada Online, Kini Asap Karhutla

Jerit Pedagang Pakaian Pasar Kobar: Sepi Sejak Ada Online, Kini Asap Karhutla

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 21 Okt 2026 17:00 WIB
Pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)
Pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Pedagang di Pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menghadapi tekanan berlapis. Belum pulih dari persaingan dengan belanja online, pembeli kian sepi terdampak kabut asap karhutla.

Sepinya pembeli menjadi keluhan yang dirasakan sejumlah pedagang. Penurunan penjualan bahkan terjadi pada barang-barang berharga relatif murah, yang biasanya masih diminati masyarakat.

Eni Subiati, pedagang pakaian dan aksesori, mengaku kesulitan mendapatkan pembeli. Kondisi pasar yang sepi membuat barang dagangannya semakin sulit terjual, termasuk aksesori sederhana seperti jepit rambut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sepi banget, cari pembeli satu saja susah. Jangankan beli baju, beli jepit rambut saja sepi," kata Eni, Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat yang semakin terbiasa bertransaksi melalui toko online telah memengaruhi penjualan pedagang pasar tradisional. Situasi tersebut kini terasa semakin berat di tengah persoalan kabut asap karhutla.

"Sejak ada online, penjualan drastis turun. Sekarang ditambah asap karhutla. Pokoknya sedih banget," ujarnya.

Bagi pedagang kecil yang mengandalkan pemasukan dari transaksi setiap hari, berkurangnya pembeli menjadi persoalan serius. Ketika barang dagangan tidak banyak terjual, pendapatan harian pun ikut tertekan, sementara mereka tetap harus menjalankan usaha.

Kondisi berbeda dirasakan Atik Narti, pedagang sayuran di pasar yang sama. Meski mengakui omzetnya menurun di tengah kondisi asap, ia masih mendapatkan pembeli karena sayuran merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

"Kalau sayuran masih ada yang beli, walaupun harganya naik turun. Kalau sayur kan jarang yang beli online," kata Atik.

Pengalaman kedua pedagang tersebut memperlihatkan perbedaan tantangan yang dihadapi pelaku usaha di pasar tradisional. Pedagang pakaian dan aksesori harus bersaing langsung dengan kemudahan belanja online, sedangkan pedagang sayuran masih memiliki pasar dari kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, kabut asap karhutla menjadi persoalan tambahan bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, besarnya pengaruh asap terhadap jumlah kunjungan pembeli maupun penurunan omzet pedagang masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui data pendukung.

Bagi para pedagang Pasar Indra Sari, bertahan di tengah perubahan kebiasaan belanja masyarakat dan situasi karhutla menjadi tantangan yang tidak ringan. Mereka kini harus menghadapi persaingan usaha sekaligus kondisi lingkungan yang menambah ketidakpastian dalam mencari penghasilan setiap hari.



(sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads