Petani tambak di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, menyuarakan keluh kesah di tengah himpitan ekonomi akibat harga jual udang yang dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional. Kondisi itu membuat para pembudi daya kerap mengalami kerugian atau hanya mendapatkan hasil panen yang pas-pasan.
Salah satu petani tambak setempat, Rai Guni, mengungkapkan harga jual udang di wilayahnya tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Kalimantan Timur (Kaltim). Di Kaltim, harga udang bisa mencapai Rp 280 ribu, sementara di desanya berkisar antara Rp 220 ribu hingga Rp 240 ribu.
"Ya ini nggak imbang lah kan. Kasihan juga kita bertambak, kita nunggunya lama, kemudian harganya sama gitu kan," ujar Rai kepada detikKalimantan, Rabu (14/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain persoalan harga, beban petani semakin berat akibat membengkaknya biaya operasional harian. Biaya sewa transportasi perahu untuk keluar masuk tambak saja bisa mencapai Rp 500.000 hingga Rp 600.000 per perjalanan.
"Belum lagi harga pupuk dan kebutuhan tambak seperti jenis 'kupu-kupu' yang mahal, biaya pembelian bibit per ekor, biaya konsumsi, hingga upah penjaga tambak. Dalam sekali siklus pemeliharaan, pengeluaran petani bisa menyentuh angka belasan juta Rupiah, sehingga hasil panen sering kali tidak menutup modal ketika harga jual sedang tidak bersahabat," keluhnya.
Upaya para petani tambak untuk memperjuangkan perbaikan serta kejelasan harga melalui audiensi hingga aksi demonstrasi di tingkat kota dan provinsi juga belum membuahkan hasil nyata. Hal ini dikarenakan persoalan harga bukan sepenuhnya wewenang pemerintah daerah, melainkan mekanisme pasar dan perusahaan.
"Kami berharap agar pemerintah dapat meninjau kembali standar harga serta memberikan subsidi atau bantuan terhadap biaya pokok produksi," jelasnya.
Menyikapi berbagai tantangan di sektor budidaya ini, Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Penguatan Daya Saing, dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PDSKP) DKP Provinsi Kaltara, Hasan Basri, menyatakan bahwa udang tradisional asal Kaltara sebenarnya memiliki keunggulan kualitas yang sangat baik dan diminati di pasar nasional karena sifatnya yang alami.
"Kendati demikian, dari segi kuantitas produksi, wilayah Kaltara masih kalah dibandingkan daerah lain. Kami terus berkomitmen memberikan pendampingan bersama lembaga non-pemerintah (NGO) guna mengedukasi pembudidaya untuk menerapkan metode yang ramah lingkungan, meski diakuinya mengubah pola pikir yang telah terbentuk puluhan tahun membutuhkan proses yang bertahap," pungkasnya.
