Kaltara menegaskan posisinya sebagai produsen udang unggulan di tingkat nasional. Meski kalah secara kuantitas dibandingkan wilayah lain, udang hasil budidaya tradisional berbasis ekosistem alami di Kaltara dinilai memiliki kualitas fisik superior dan nilai jual yang sangat bersaing di pasar nasional.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Penguatan Daya Saing, dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PDSKP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Utara, Hasan Basri.
"Dari segi kuantitas, banyaknya kita mungkin kalah sama daerah lain. Tetapi dari segi kualitas, kita masih yang terbaik karena sistem kita alami. Kualitas pakan alami dari ekosistem mangrove yang terjaga memiliki minat dan pasar tersendiri, sehingga harganya di tingkat nasional masih sangat bagus," ujar Hasan saat ditemui di lokasi tambak, Selasa (13/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hasan, keunggulan udang asal Kaltara terletak pada pola budidaya ramah lingkungan yang memanfaatkan pakan alami tanpa mengandalkan zat kimia. Budidaya tradisional yang menyatu dengan lingkungan ini menjadikan udang Kaltara kerap dijadikan kiblat dan contoh nasional.
"Guna mempertahankan serta meningkatkan potensi kualitas tersebut, DKP Kaltara gencar mendukung program revitalisasi tambak terintegrasi mangrove, salah satunya melalui metode Associated Mangrove Aquaculture (AMA)," ungkapnya.
Program kolaborasi bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan mitra lingkungan ditujukan untuk mengembalikan fungsi ekologi pesisir yang sempat terdegradasi akibat ekspansi lahan. "Luas lahan tambak di Kaltara membengkak dari sekitar 50 ribu hektare pada 20-30 tahun lalu menjadi lebih dari 100 ribu hektare saat ini," bebernya.
Perkembangan tersebut berisiko mengurangi fungsi mangrove sebagai penyangga lingkungan jika tidak ditata secara terukur. "Mengubah pola pikir petambak yang sudah puluhan tahun tentu tidak gampang dan butuh proses. Kita buka wawasan mereka perlahan-lahan agar paham ada hubungan erat antara kesehatan lingkungan mangrove dengan produktivitas tambak mereka," terangnya.
"Keberhasilan panen perdana di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, kini dijadikan sebagai pilot project percontohan. Pemerintah Provinsi Kaltara berharap model budidaya terintegrasi mangrove ini dapat direplikasi oleh kelompok petambak lain di seluruh wilayah Kaltara guna menjamin keberlanjutan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," pungkasnya.
