Sejumlah petani di Desa Lidung Payau, Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, mengeluhkan nasib hasil panen vanili mereka. Awalnya didorong oleh pemerintah daerah untuk menanam komoditas bernilai tinggi tersebut, kini para petani justru kebingungan mencari pasar penjualannya setelah vanili berhasil dipanen.
Salah seorang warga Desa Lidung Payau, Paris Dusau, mengungkapkan bahwa imbauan untuk menanam vanili (vanilla) datang langsung dari Dinas Pertanian Kabupaten Malinau sekitar tahun 2020 silam. Namun, ketika masa panen tiba pada rentang 2020 hingga 2023, warga mencari pembeli sendiri tanpa adanya pendampingan pemasaran.
"Masyarakat di sini kecewa bahwasannya hasilnya itu tidak laku atau tidak pernah dibantu oleh dinas terkait untuk pemasarannya. Padahal pertamanya itu memang disarankan dari Dinas Pertanian," ujar Paris kepada detikKalimantan, Jumat (10/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paris menyebut ada sekitar 20 Kepala Keluarga (KK) di desanya yang sempat fokus menanam vanili dengan memanfaatkan sela-sela pohon kakao di perkebunan mereka. Karena minimnya kepastian pasar, warga kini tidak lagi melakukan perawatan maksimal agar vanili rutin berbuah.
"Dalam enam tahun terakhir, terkumpul sedikitnya 50 kilogram vanili siap jual. Sebagian kecil panen tersebut sempat laku terjual hingga Rp 1,7 juta per kilogram di Jakarta lantaran dibantu oleh seorang pastor. Namun, setelah pastor tersebut pindah tugas, jalur pemasaran kembali buntu," terangnya.
Ia menuturkan, Dinas Pertanian bahkan tercatat sudah tiga kali turun langsung meninjau lokasi perkebunan di Desa Lidung Payau. Sayangnya, kunjungan tersebut belum membuahkan solusi nyata.
"Kalau untuk pengajuan (bantuan pemasaran) saya rasa tidak perlu lagi karena Kepala Dinasnya langsung datang ke lokasi. Tetapi selalu dikatakan 'nanti tunggu kalau ada penampungnya'. Harapan kami, jangan dulu (menawarkan) bantuan lain, yang penting bantu kami pasarkan hasil panen ini," tegas Paris.
Keresahan warga Desa Lidung Payau ini dibenarkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kayan Selatan, Johanes Paulus Dino. Sebagai perpanjangan tangan dinas di lapangan, Johanes kerap menerima aduan serupa dari para petani.
"Masyarakat bilang percuma tanam ini kalau pembelinya tidak ada dan hilirisasinya tidak jelas. Kami pun tak bisa berbuat banyak karena kami berharap dinas menyambut ini," kata Johanes.
Akibat ketidakpastian pasar vanili dan kerumitan penentuan kualitas harga jual (grade), Johanes menyebut para petani kini lebih memilih mengurus tanaman kakao. Komoditas kakao dinilai lebih menjanjikan karena pembeli langsung datang menjemput hasil panen ke desa dengan harga yang tengah merangkak naik hingga Rp 45 ribu per kilogram.
"Mereka lebih fokus ke tanaman kakao sekarang karena ada penjualnya yang langsung datang ke desa. Jadi vanili ini sekarang sisa-sisa yang dirawat seadanya saja," imbuhnya.
Mengingat wilayah Kayan Selatan masuk dalam kategori daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), Johanes berharap pemerintah daerah segera turun tangan mencarikan investor atau penjamin komoditas agar hasil kerja keras petani tidak sia-sia.
"Pemerintah kan niatnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Nah, sekarang masyarakat sudah menanam tanaman yang bisa menghasilkan ekonomi buat mereka, tapi bingung menjualnya. Tolong ini lebih diperhatikan," pungkas Johanes.
(des/des)
