Purbaya Yakin Pertamax Akan Turun Pelan-pelan

Nasional

Purbaya Yakin Pertamax Akan Turun Pelan-pelan

Tim detikFinance - detikKalimantan
Kamis, 02 Jul 2026 14:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026. Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami penurunan menjadi 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai Rp164,4 triliun pada 30 April 2026. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Samarinda -

Pertamax Turbo dan Pertamina Dex telah mengalami penurunan harga. Sementara Pertamax masih tetap pada harga yang sama sejak naik pada 10 Juni 2026 lalu. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin harga Pertamax akan ikut turun pelan-pelan.

Dilansir detikFinance, Purbaya menilai penurunan harga Pertamax akan terjadi karena harga minyak dunia yang mulai melandai. Penurunan ini akan membantu meredakan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

"Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak dunia kan udah turun pelan-pelan juga kan, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," ungkap Purbaya di Kantor Kemenkeu, Rabu (1/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia sempat melonjak di atas USD 100 per barrel akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Saat ini, minyak dunia seperti Brent diperdagangkan di level USD USD 72,08 per barrel, sementara WTI pada kisaran USD 68,89 per barel.

Purbaya menambahkan, kenaikan inflasi belakangan ini lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat sementara, seperti lonjakan harga pangan dan energi. Inflasi inti atau core inflation masih berada di level yang terkendali, yakni 2,76%. Karena itu, ia memprediksi tekanan inflasi akan segera mereda seiring normalisasi harga komoditas.

"Ya basically gitu, kita liat inflasi core-nya 2,76% kan masih relatif terkendali. Jadi itu karena harga yang fluktuatif aja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan mungkin. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya inflasi sebesar 0,44% secara bulanan (month to month/mtm) pada Juni 2026. Kemudian secara tahunan (year on year/yoy), inflasi menyentuh angka 3,34%. Kenaikan inflasi bulanan tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 111,40 pada Mei menjadi 111,89 pada Juni.

Baca selengkapnya di sini.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads