Pemerintah Malaysia berencana menurunkan harga solar bersubsidi. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan solar bersubsidi di negaranya akan turun menjadi RM2,10 atau sekitar Rp9.061 per liter. Harga baru ini direncanakan berlaku mulai Juli 2026.
Dilansir detikFinance, harga solar tanpa subsidi di Malaysia sempat menembus harga RM6 atau Rp25.890 per liter pada April lalu. Harga tersebut kemudian mengalami penyesuaian sehingga turun menjadi RM4,37 atau setara Rp18.856 per liter.
Rencana turunnya harga solar subsidi ini berkaitan dengan reformasi program subsidi solar tepat sasaran di Malaysia. Program ini akan berjalan seiring dengan program Budi RON95 yang menggunakan verifikasi MyKad, kartu identitas resmi warga negara Malaysia yang digunakan untuk berbagai keperluan administrasi dan layanan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Menteri Keuangan II Malaysia Amir Hamzah Azizan akan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai pelaksanaan kebijakan tersebut. Anwar Ibrahim mengatakan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga menjadi salah satu faktor yang membantu menurunkan harga solar.
"Saya mengumumkan subsidi solar bersasar bukan berupa kenaikan, tetapi penurunan harga, meskipun situasi masih tidak menentu," ujar Anwar, dikutip dari The Star, Selasa (23/6/2026).
Anwar mengaku mendapat informasi dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang terlibat dalam proses negosiasi bahwa krisis di kawasan Asia Barat diyakini dapat mereda.
"Hal itu akan membantu kami dari sisi harga solar," ujarnya.
Penerapan subsidi solar bersasar di Semenanjung Malaysia ini dilakukan lebih lambat dibandingkan Sabah dan Sarawak dengan mempertimbangkan tingginya konsumsi solar di kedua wilayah tersebut. Selain Brunei, harga bensin RON95 di Malaysia masih menjadi salah satu yang paling rendah di dunia, bahkan lebih rendah dibandingkan sejumlah negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Baca selengkapnya di sini.
