Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah sepakat untuk membuka lagi Selat Hormuz. Meskipun kesepakatan ini belum ditandatangani, pasar langsung bereaksi. Harga minyak mulai turun dan dolar AS terpantau melemah.
Dikutip detikcom dari Anadolu Agency pada Senin (25/5), kabar tersebut disampaikan oleh New York Times, mengutip seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya. Pejabat tersebut mengatakan proses persetujuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei akan berlangsung beberapa hari.
Ia menambahkan, kesepakatan tersebut tidak membahas soal pasokan rudal Iran atau moratorium pengayaan uranium. Masalah-masalah ini diharapakan akan ditangani pada pembahasan selanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat tersebut juga menegaskan penolakan AS terhadap gagasan mekanisme "tarif tol" di Selat Hormuz. Menurutnya, peratusan semacam ini belum diusulkan oleh kedua pihak dan tidak dapat diterima.
Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan penasihat serta menantu Trump, Jared Kushner, dikabarkan telah terlibat dalam pembicaraan tersebut. Namun, sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai kesepakatan awal tersebut. Otoritas Iran juga belum memberikan tanggapannya.
Sementara itu, harga minyak dunia dan dolar AS terpantau melemah seiring munculnya sinyal perdamaian AS dan Iran untuk membuka Selat Hormuz ini. Dikutip detikFinance, Reuters melaporkan harga minyak mentah Brent turun lebih dari 4% menjadi USD 98,83 per barel. Penurunan 4% juga terjadi pada minyak mentah Texas Intermediate Barat AS CLc1 yang kini berada di level USD 92,03 per barel.
Kemudian, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang, antara lain Euro yang naik 0,37% menjadi USD 1,1646 dan Yen Jepang yang menguat jadi 158,85 per dolar AS.
Kepala Analis Pasar di ATFX Global, Nick Twidale memperkirakan pasar akan lebih banyak mengambil risiko pada Senin ini. Namun, lonjakan tidak akan terlalu tinggi sampai ada konfirmasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali.
"Kita perlu melihat kesepakatan yang berlaku dalam sesi mendatang karena kita tahu masih ada beberapa poin penting yang masih diperdebatkan," kata Twidale.
Para ahli strategi Commonwealth Bank of Australia juga menyebut masalah terpenting bagi pasar keuangan adalah kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali.
"Dalam kondisi apa Selat akan dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas produksi dan infrastruktur untuk meningkatkan produksi energi dan barang lainnya ke tingkat sebelum perang," jelas mereka.
Baca selengkapnya di sini dan di sini.
