Airlangga Ungkap Alasan Bikin BUMN Ekspor: Cegah Manipulasi

Nasional

Airlangga Ungkap Alasan Bikin BUMN Ekspor: Cegah Manipulasi

Ilyas Fadilah - detikKalimantan
Kamis, 21 Mei 2026 21:45 WIB
Foto udara susunan peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (8/2/2026). Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara mencatat nilai ekspor wilayah itu pada Desember 2025 mencapai US$328,08 juta atau naik 3,09 persen dibanding ekspor Desember 2024 yang tercatat US$318,26 juta yang didominasi oleh kelompok Komoditas besi dan baja senilai US$7,32 juta. ANTARA FOTO/Andry Denisah
Ilustrasi ekspor. Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan alasan pemerintah membentuk BUMN khusus ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis. Salah satunya untuk mengurangi manipulasi nilai transaksi.

Pembentukan BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia ini dipicu oleh perbedaan data ekspor-impor Indonesia dengan negara mitra dagang. Dengan demikian pengawasan ekspor lebih kuat sekaligus mengurangi risiko missinvoicing atau manipulasi nilai transaksi perdagangan.

Airlangga menjelaskan hal itu di hadapan para pengusaha dari berbagai asosiasi seperti, Asosiasi Pertambangan (IMA), Asosiasi Pertambangan Batu Bara, Forum Industri Nikel Indonesia, Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Bijih Besi, Asosiasi Eksportir Timah, Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional, Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia, Asosiasi Penambang Nikel, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, GAPKI, GIMNI, Asosiasi Oleochemical, dan Indonesia Petroleum Association.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tahu bahwa data ekspor Indonesia dan data impor dengan negara terkait itu ada perbedaan," ujar Airlangga dalam rapat dengan Asosiasi Pengusaha di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).

Airlangga mencontohkan perbedaan data perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat. Menurut data Indonesia, defisit perdagangan AS terhadap sekitar US$ 16-17 miliar. Namun berdasarkan data AS, angkanya mencapai sekitar US$ 20 miliar.

Perbedaan data juga terjadi dengan China. Airlangga mengatakan nilai perdagangan Indonesia-China menurut data Indonesia sekitar US$ 110-115 miliar. Sementara menurut data China, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 130-140 miliar.

"Nah oleh karena itu ini kita perlukan agar kita juga bisa mendorong stabilitas nilai tukar, pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi serta mendorong bargaining position ataupun nilai tawar Indonesia terhadap pasar-pasar di luar negeri," jelas Airlangga.

Menurutnya, kebijakan tersebut juga bertujuan menjaga stabilitas harga komoditas strategis nasional. Adapun tiga komoditas utama yang diatur oleh BUMN ekspor yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy atau paduan besi seperti feronikel dan ferromolibdenum.

Baca artikel selengkapnya di sini.



(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads