Pekerjaan yang Tergantikan dan Tertolong AI Menurut Peneliti Harvard

Pekerjaan yang Tergantikan dan Tertolong AI Menurut Peneliti Harvard

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 28 Apr 2026 16:01 WIB
Pekerjaan yang bisa digantikan oleh AI
Ilustrasi pekerjaan yang bisa digantikan oleh AI/Foto: Istimewa (dok Gemini AI)
Balikpapan -

Sejak akhir 2022, kemunculan generative AI seperti ChatGPT membuat perubahan yang cukup signifikan. Bukan hanya di dunia kerja, tapi dalam keseharian pun semua orang memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

Hingga saat ini di tahun 2026, banyak pekerjaan yang perlahan telah digantikan oleh AI. Seperti customer service, penerjemah, proofreading, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Apa pekerjaan paling rentan, yang bisa sepenuhnya digantikan oleh AI, alias tidak butuh tenaga manusia lagi? Pertanyaan ini coba dijawab tim peneliti dari Harvard Business School melalui riset pasar tenaga kerja terbaru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi yang dipimpin Suraj Srinivasan bersama Wilbur Xinyuan Chen dan Saleh Zakerinia menemukan bahwa AI memang mulai menggeser jenis pekerjaan tertentu. Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya menghilangkannya.

Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang bersifat terstruktur, repetitif, dan berbasis pola menjadi yang paling terdampak. Sejak peluncuran generative AI, lowongan kerja di kategori ini tercatat menurun sekitar 13 persen.

Jenis pekerjaan seperti administrasi data, input data, layanan kepada pelanggan, sampai beberapa fungsi back-office di sektor keuangan dan teknologi mulai berkurang kebutuhannya. Hal ini terjadi karena AI mampu melakukan tugas-tugas tersebut dengan cepat, konsisten, dan biayanya lebih rendah dibanding harus menggaji karyawan.

Di sektor keuangan misalnya, banyak proses yang sebelumnya dilakukan manusia, seperti pengolahan laporan atau analisis data, kini bisa diotomatisasi oleh AI. Begitu pula di bidang teknologi, beberapa pekerjaan dasar machine learning mulai tergantikan sistem berbasis AI.

Pekerjaan yang Tumbuh karena AI

Namun menariknya, tidak semua pekerjaan mengalami penurunan. Riset yang sama justru menemukan bahwa permintaan terhadap pekerjaan yang lebih kompleks, analitis, dan kreatif meningkat hingga 20 persen.

Profesi seperti analis keuangan, mikrobiolog, neuropsikolog klinis, dan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan riset klinis menjadi contoh pekerjaan yang tidak tergantikan, tapi justru sangat tertolong oleh AI. Dalam praktiknya, AI digunakan untuk membantu mengolah data atau mempercepat proses analisis, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu berperan sebagai pengganti, melainkan sebagai alat bantu yang memperluas kemampuan manusia dalam bekerja.

Dalam temuan tersebut, para peneliti juga menekankan konsep penting yaitu augmentasi. Artinya, banyak pekerjaan tidak hilang, tetapi berubah bentuk karena adanya kolaborasi antara manusia dan AI.

AI mengambil alih tugas-tugas teknis dan repetitif, sementara manusia tetap dibutuhkan untuk hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin, seperti penilaian, empati, komunikasi, serta pengambilan keputusan.

Penurunan dan Peningkatan Skill oleh AI

Transformasi ini juga berdampak pada keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Penelitian menemukan bahwa pekerjaan yang mudah diotomatisasi mengalami penurunan kebutuhan skill hingga 7 persen, karena tugasnya semakin disederhanakan oleh teknologi.

Sebaliknya, pekerjaan yang berpotensi berkembang justru membutuhkan keterampilan baru, terutama yang berkaitan dengan AI. Kemampuan seperti menggunakan tools AI, memahami cara memberi instruksi (prompt), dan berkolaborasi dengan AI menjadi penting.

Karena itu, para peneliti menyarankan perusahaan untuk fokus pada pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling), supaya kita bisa bertransisi ke peran yang lebih relevan di era AI.

Dari hasil penelitian ini, jelas bahwa AI memang akan menggantikan beberapa jenis pekerjaan, terutama yang repetitif dan mudah diprediksi. Namun di saat yang sama, AI juga menciptakan peluang baru bagi pekerjaan yang lebih kompleks dan bernilai tinggi.

Bagaimana, apakah pekerjaan detikers termasuk yang bisa digantikan AI?



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads