Malaysia Ancang-ancang Krisis BBM Mulai Juni

Internasional

Malaysia Ancang-ancang Krisis BBM Mulai Juni

Anisa Indraini - detikKalimantan
Selasa, 14 Apr 2026 10:00 WIB
SPBU Malaysia
Ilustrasi SPBU Malaysia. Foto: Doc. Shutterstock
Balikpapan -

Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah Mohd Nasir mengumumkan negaranya akan menghadapi potensi krisis bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Bulan Juni-Juli 2025 menjadi fase yang krusial.

Dilansir detikFinance, krisis BBM ini merupakan imbas gangguan pasokan energi global akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Akmal mengatakan Juni-Juli menjadi fase kritis dalam menjaga ketersediaan energi di Malaysia.

"Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis dalam memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia," ujar Akmal dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahan baku lain yang berbasis minyak dan gas juga akan terkena imbasnya, seperti industri farmasi dan alat kesehatan. Akmal menyebut ketersediaan bahan baku untuk industri-industri tersebut perlu dijaga.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim juga sempat menyinggung tentang ketidakpastian pasokan energi. Pemerintah setempat menyebut pasokan energi masih dalam kondisi aman untuk April-Mei 2026. Namun, imbasnya baru akan benar-benar terasa mulai Juni 2026.

Memastikan pasokan mulai Juni tetap tersedia menjadi tantangan yang harus dijawab pemerintah Malaysia. Di beberapa daerah, telah terjadi peningkatan permintaan BBM. Permintaan tersebut menyebabkan gangguan di beberapa SPBU. Meski demikian, pemerintah memastikan terus mengupayakan langkah-langkah pemulihan pasokan.

"Saya ingin menekankan bahwa posisi pasokan bahan bakar negara masih stabil dan mencukupi," jelas Wakil Menteri Perdagangan Dalam Negeri Malaysia, Fuziah Salleh.

Pemerintah Malaysia menepis laporan media asing yang menyebut adanya ekspor solar dari Malaysia ke Filipina sebesar 329 ribu barel. Perusahaan energi nasional Petroliam Nasional (Petronas) menegaskan tidak memiliki perjanjian pasokan dengan pihak Filipina dan tetap memprioritaskan kebutuhan domestik.

"Pasokan utama tetap memastikan pasokan bahan bakar yang andal dan berkelanjutan untuk Malaysia," ucap Petronas.

Baca selengkapnya di detikFinance.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads