Potensi tanaman kratom atau yang kerap dijuluki 'emas hijau' rupanya tumbuh subur secara liar di pesisir sungai Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Warga pun berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara turun tangan memberikan bimbingan teknis budidaya agar komoditas ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.
Keberadaan kratom liar ini salah satunya diungkapkan oleh Mahmud Syuyuti, seorang warga di kawasan Bulu Perindu, Jembatan Meranti, Tanjung Selor Hulu. Menariknya, lokasi tumbuh suburnya kratom liar ini hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari Kantor Gubernur Kaltara.
"Barangnya tumbuh secara alami saja, tumbuh liar di pinggir sungai bebas saja, tergenang banjir pun tidak apa-apa malah makin tinggi. Cuma sampai saat ini kan kami menganggap itu bagian dari tanaman berkhasiat," ungkap Mahmud kepada detikKalimantan, Rabu (11/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Mahmud dan warga sekitar hanya memanfaatkan daun kratom sebatas untuk pengobatan tradisional dari mulut ke mulut.
"Kalau kita ada keluhan penyakit dalam, badan kurang fit, atau ada luka luar, kita rebus daunnya lima helai, lalu diminum supaya berkeringat. Kalau luka tempel saja daunnya. Alhamdulillah khasiatnya cukup bagus, memacu semangat etos kerja juga," ceritanya.
Selama ini, Mahmud membagikan daun tersebut secara gratis kepada warga atau kerabat yang membutuhkan pengobatan.
Namun, menyadari tingginya nilai ekonomis kratom di pasar ekspor, Mahmud berharap ada edukasi dan intervensi dari pemerintah daerah agar masyarakat awam tidak kebingungan memanfaatkannya.
Tanaman Kratom yang tumbuh liar di lingkungan masyarakat. (Istimewa) |
"Merawat kratom jauh lebih mudah dan minim risiko dibandingkan kelapa sawit. Itu sebabnya, kita sangat berharap ada bimbingan teknis dari Pemda atau Dinas Kehutanan. Tolong di-cross check data fisik di lapangan, benarkah tanaman ini jenis kratom yang dicari itu. Kalau memang nilai ekonomisnya ada, kita sangat ingin memanfaatkannya dan membudidayakannya," harap Mahmud.
Dikonfirmasi terpisah soal potensi liar dan harapan warga tersebut, Kepala Bidang Penyuluhan, Pemberdayaan Masyarakat dan Hutan Adat Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, Ridwanto Suma menyatakan pihaknya akan segera mengambil langkah konkret di lapangan.
"Dishut akan lakukan ground check lokasi dan potensi tanaman kratom yang tersebar secara alami di wilayah Kalimantan Utara terlebih dahulu. Dengan begitu, kita dapat mengetahui seberapa besar pemenuhan kebutuhan minimal bila ada investor yang tertarik bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, tentu butuh waktu," jelas Ridwanto, Rabu (11/3/2026).
Sebelumnya, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kaltara menyatakan komitmennya untuk menggarap potensi ekspor kratom. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Disperindagkop Kaltara, Heri Siampa, menegaskan bahwa proses telaahan atau kajiannya tengah dipercepat, sembari menyamakan persepsi lintas instansi mengenai status komoditas ini.
"Saat ini, Disperindagkop Kaltara sedang berproses untuk membuat telaahan khusus terkait kratom," kata Heri, Selasa (10/3/2026).
(aau/aau)

