Dirilisnya Avatar: Fire and Ash memantapkan waralaba karya James Cameron ini menjadi yang paling cuan di antara sederet trilogi legendaris. Avatar kini menjadi mesin pencetak uang paling efisien yang pernah ada di Hollywood.
Dikutip detikPop berdasarkan laporan Deadline pada 30 Desember, trilogi Avatar kini memegang rekor pendapatan kolektif yang tak tertandingi. Dari dua film pertamanya, Avatar (2009) dan Avatar: The Way of Water (2022), total pendapatannya telah menembus USD 5,23 miliar atau sekitar Rp 83,68 triliun.
Dengan kehadiran Avatar: Fire and Ash (2025), para analis memperkirakan total pendapatan waralaba ini akan segera melewati USD 7,5 miliar atau sekitar Rp 120 triliun. Angka ini melebih waralaba besar lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai perbandingan, trilogi sekuel legendaris Star Wars hanya mampu mengumpulkan USD 4,48 miliar (sekitar Rp 71,6 triliun), kemudian trilogi Jurassic World dengan USD 3,98 miliar (Rp 63,6 triliun), trilogi Spider-Man versi Tom Holland dengan USD 3,96 miliar (Rp 63,3 triliun), serta trilogi legendaris Lord of the Rings yang memperoleh USD 2,96 miliar (Rp 47,3 triliun).
Analis industri menilai strategi rilis ulang yang dilakukan Cameron setiap beberapa tahun juga berkontribusi besar dalam menjaga arus kas tetap mengalir, sekaligus memperkenalkan keajaiban Pandora kepada generasi baru sebelum film berikutnya dirilis.
Dalam artikel Slash Films (30/12), para ahli strategi media menekankan betapa besarnya pengaruh ekonomi dari waralaba tersebut.
"Apa yang dicapai oleh James Cameron bukan hanya keberuntungan box office. Ini adalah hasil dari kontrol kualitas yang ekstrem dan pemahaman mendalam tentang teknologi visual. 'Avatar' bukan lagi sekadar film; ini adalah aset keuangan yang nilainya setara dengan perusahaan Fortune 500."
Baca artikel selengkapnya di sini.
(bai/bai)
