Tersembunyi di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Desa Liagu adalah 'surga' yang baru saja mencuri perhatian dunia.
Dengan luas wilayah 10.000 hektare, meliputi kebun (616 ha), tambak (5.000 ha), laut (4.000 ha), hutan (5.607 ha) dan permukiman (227 ha), desa ini dikelilingi hamparan mangrove yang memukau.
Baru-baru ini, delegasi dari Sri Lanka berkunjung untuk mempelajari pengelolaan mangrove alami ala Indonesia, yang menjadikan Liagu sebagai inspirasi global. Namun, di balik keindahan alamnya, kisah masyarakat Liagu terutama ibu-ibunya, adalah cerita tentang keterampilan, tradisi, dan semangat memanfaatkan alam secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tikar Pandan Duri: Sentuhan Tangan Siti yang Menawan
![]() |
Di tengah hiruk-pikuk kunjungan internasional, Siti, seorang perajin lokal, asyik menganyam tikar dari daun pandan duri (Pandanus tectorius). Dengan alat sederhana, ia menunjukkan kepada detikKalimantan bagaimana mengolah daun pandan yang ditanamnya di belakang rumah.
"Pandan ini tumbuh subur di sini," ujarnya sambil menarik helai daun dengan cekatan.
Proses dimulai dengan merebus daun, menjemurnya di bawah matahari, lalu menganyamnya dengan penuh ketelitian hingga diberi variasi motif sebagai sentuhan akhir.
Tikar sepanjang 2 meter buatan Siti dijual seharga Rp 200.000. Ia membutuhkan waktu tujuh hari untuk menyelesaikannya.
"Pelanggan biasanya datang langsung ke rumah. Kadang keluarga bantu promosi di kota," katanya.
Tikar pandan bukan hanya kuat dan lembut, tetapi juga ramah lingkungan dan memiliki estetika alami yang elegan. Dengan variasi helai daun lebar hingga kecil, tikar ini menjadi produk serbaguna yang diminati banyak orang, sekaligus mencerminkan potensi ekonomi dari tanaman lokal.
Atap Nipah: Warisan Siti Nurbaya yang Abadi
![]() |
Di sudut lain desa, Nurbaya (80) tetap setia melestarikan tradisi membuat atap dari daun nipah, tanaman palem yang tumbuh melimpah di hutan bakau Liagu.
Dengan tangan yang masih lincah, ia menceritakan bahwa keterampilan ini diwariskan turun-temurun. "Dulu, atap nipah adalah kebutuhan utama warga. Awet sampai 2-3 tahun," ujarnya.
Kini, ia hanya membuat atap berdasarkan pesanan, terutama dari tetangga atau pekerja tambak yang membutuhkan atap untuk pondok. Satu bilah atap nipah berukuran 2 meter dibuat dalam waktu satu jam dan dijual seharga Rp 8.000. Meski usianya tak lagi muda, semangat Nurbaya tak pudar.
Nipah tak hanya dimanfaatkan untuk atap, buahnya, yang kenyal dan mirip kelapa, menjadi hidangan favorit, terutama saat bulan puasa.
"Orang kota banyak yang belum tahu buah nipah bisa dimakan. Di sini, tinggal ambil, berlimpah di sekitar mangrove," tuturnya sambil tersenyum.
Kopi Rempah Zaine: Cita Rasa yang Menghangatkan Jiwa
![]() |
Sementara itu, Zaine, warga lain di Liagu, mempersembahkan keunikan kuliner lokal melalui kopi rempahnya. Biji kopi dari Kota Tarakan digoreng dan dicampur dengan jahe, kayu manis, merica, dan cengkeh, menciptakan aroma dan rasa yang khas.
"Kopi ini menghangatkan badan, sangat baik untuk ibu yang baru melahirkan," ujar Zaine.
Minuman ini bukan hanya sekadar kopi, tetapi juga simbol kreativitas warga dalam mengolah hasil alam menjadi produk yang bernilai tinggi.
Desa Liagu adalah bukti nyata bagaimana masyarakat dapat hidup selaras dengan alam. Dari tikar pandan yang ramah lingkungan, atap nipah yang tahan lama, hingga kopi rempah yang menghangatkan. Warga Liagu menunjukkan bahwa tradisi dan sumber daya lokal dapat menjadi pilar ekonomi.
Kunjungan delegasi Sri Lanka bukan hanya pengakuan atas keberhasilan pengelolaan mangrove, tetapi juga sorotan pada kearifan lokal yang terus hidup melalui tangan-tangan terampil warganya.
(sun/aau)