Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya tak hanya membayangi kesehatan manusia, tetapi juga hewan ternak dan peliharaan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) meminta pemilik hewan untuk terus memantau kondisi kesehatannya.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, DPKP Palangka Raya meningkatkan pemantauan langsung melalui tim medis dan paramedik veteriner, terutama ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
"Kami menurunkan tim medik dan paramedik untuk pemantauan lapangan, terutama saat ISPU masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya," ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak DKPP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno, Rabu (28/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemantauan diprioritaskan di sentra peternakan sapi, kambing, dan unggas yang berada di wilayah rawan karhutla. Tiga kecamatan yang menjadi sasaran pengawasan meliputi Jekan Raya, Sebangau, dan Pahandut.
"Selain peternakan, pemilik anjing dan kucing juga diminta membatasi aktivitas hewan di luar rumah selama kabut asap menyelimuti wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi paparan asap secara langsung," katanya.
Peternak juga diingatkan menjaga kebersihan pakan dan air minum agar tidak tercemar abu pembakaran. Kandang perlu dilindungi dari arah datangnya asap, tetapi tetap memiliki sirkulasi udara yang memadai.
Ganjar mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila hewan menunjukkan gejala batuk, iritasi mata, kehilangan nafsu makan, atau terlihat lemas. Pemilik dapat membawa hewan ke Pusat kesehatan hewan (Puskeswan) Palangka Raya atau menyampaikan laporan melalui call center dan media sosial resmi dinas.
Pelaporan juga bisa dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) di wilayah masing-masing untuk diteruskan kepada tim medis hewan. Dinas menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan, termasuk pembagian vitamin gratis serta edukasi pengelolaan kandang saat kondisi darurat karhutla.
"Upaya penanganan turut melibatkan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), klinik hewan swasta, dan komunitas pecinta hewan melalui pendekatan one health. Kolaborasi tersebut diharapkan membantu menyelaraskan data dan memperkuat penanganan kesehatan hewan di lapangan," ujarnya.
Terkait pendataan masalah kesehatan yang dialami hewan akibat kabut asap, pihaknya merasa kesulitan karena minimnya laporan warga. Saat ini hanya sedikit laporan masuk dari warga, namun diperkirakan ada banyak kasus di lapangan yang tidak terdata.
Menurutnya, masih banyak pemilik hewan dan peternak yang belum memahami hubungan antara paparan asap dengan gangguan kesehatan. Gejala seperti batuk, flu, dan tubuh lemas kerap dianggap sebagai penyakit biasa akibat perubahan cuaca.
"Pemilik hewan kerap menganggap gejala flu, batuk, dan lemas sebagai efek pancaroba biasa. Mereka belum menyadari bahaya paparan partikel halus asap," kata dia.
Ganjar menjelaskan, keluhan yang sejauh ini diterima Puskeswan didominasi ternak unggas dan mamalia kecil. Gejala yang dilaporkan meliputi penurunan nafsu makan, iritasi mata, hingga batuk ringan.
"Kondisi tersebut menjadi perhatian karena gangguan kesehatan yang tidak segera dikenali dapat membuat hewan terlambat mendapatkan penanganan. Akibatnya, jumlah kasus yang tercatat dalam laporan resmi berpotensi tidak mencerminkan seluruh kejadian di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, penanganan satwa liar yang terdampak kebakaran berada di bawah kewenangan BKSDA Kalimantan Tengah dan pengelola Taman Nasional Sebangau. Meski demikian, Ganjar menyatakan pihaknya siap membantu penanganan medis apabila terdapat satwa liar terluka yang masuk ke kawasan permukiman.
"Jika kabut asap berlangsung dalam waktu lama, DPKP menyiapkan langkah lanjutan berupa layanan kesehatan hewan keliling atau mobile clinic, penyediaan stok obat, serta pembagian vitamin gratis untuk memperluas jangkauan pelayanan," ungkapnya.
Ganjar menegaskan, keterlibatan masyarakat sangat penting untuk mendeteksi gangguan kesehatan hewan sejak dini.
"Pemilik hewan dan peternak diharapkan lebih aktif melaporkan gejala yang ditemukan agar dampak karhutla terhadap kesehatan hewan tidak luput dari perhatian," pungkasnya.
Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: OTT KPK di BNPB-Langit Oranye di Palangka Raya"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
