Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober sering kali diidentikkan dengan tokoh-tokoh dari Jawa atau Sumatera. Namun, tahukah Anda bahwa pemuda dari bumi Kalimantan (Borneo) juga turut serta dalam peristiwa bersejarah tersebut?
Salah satu tokoh dalam Sumpah Pemuda adalah George Obos dari Kalimantan Tengah. Selain itu, ada pula sumber yang menyebut adanya kelompok Jong Borneo, meski tak banyak literatur yang menyebut.
Peran George Obos-Jong Borneo
Keterlibatan pemuda Kalimantan dalam pergerakan nasional bermula dari sosok pria asli Dayak kelahiran Kasongan, George Obos (George Obus Umar). Dilansir dari buku Gagasan Persatuan Etnis Dayak Masa Pergerakan Nasional dan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah (1905-1960) dari Kemdikbud, Obos mengenyam pendidikan di Zeevaartschool (Sekolah Pelayaran) Surabaya saat muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Surabaya, dia turut mendirikan Persatuan Pemuda Kalimantan (Borneo), sebuah organisasi kedaerahan yang kemudian bergabung ke dalam Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI). Bersama Masri yang berasal dari suku Banjar, Kalimantan Selatan, George Obos hadir mewakili Kalimantan dalam Kongres Pemuda II.
Kehadiran wakil Kalimantan ini turut dicatat oleh berbagai literatur. Kehadiran George Obos dikonfirmasi melalui tulisan Anggraini Antemas dengan judul Mutiara Nusantara Seri Kalimantan Selatan.
Dalam catatan detikKalimantan, sejarawan Kalsel, Mansyur, menjelaskan keberadaan Jong Borneo dalam peristiwa tersebut. Dia menegaskan Jong Borneo benar-benar eksis.
"Bukti keberadaan Jong Borneo tertulis dalam Koran Soerabaijasch handelsblad 02 Januari 1929, halaman 10," ujar akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tersebut.
Isi dari koran tersebut berbunyi:
"Fusi di bawah kelompok pemuda. Dengan kongres dari Jong Java, yang berlangsung di Djokdja, dibentuk komite, yang bertanggung jawab atas penggabungan klub-klub pemuda (Persatuan Perhimpunan Pemoeda Indonesia). Jong Java, juga Jong Sumatranen Bond dan Pemoeda Indonesia mempelopori penggabungan klub-klub pemuda Indonesia. Asosiasi Jong Ambon, Jong Minahasa dan Jong Borneo akan dimintai pendapatnya kemudian."
Sumpah Pemuda tidak berhenti di situ, melainkan menjadi pelecut para pemuda untuk menyebarkan semangat nasionalisme ke daerah-daerah. Kongres Pemuda II nyatanya membawa dampak besar bagi pergerakan di Tanah Borneo.
"Sejalan dengan perkembangan pergerakan kebangsaan yang terjadi setelah berlangsungnya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, maka beberapa organisasi kepemudaan lokal yang berwatak kedaerahan di Kalimantan Selatan mulai mengembangkan diri ke arah kebangsaan," tutur Mansyur.
Sumpah Pemuda disebut telah mendorong terbentuknya Sarekat Kalimantan menjadi Barisan Indonesia (Bindo), Persatuan Sopir menjadi Bond Indonesische Chauffeur (BIC), Sarekat Islam menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).
Begitu juga di dunia pendidikan dan kepanduan seperti di Marabahan, Selain menjadi murid Taman Siswa mereka juga tetap menjadi anggota Kepanduan Bangsa Indonesia.
Sejarah Singkat dan Isi Sumpah Pemuda
Dirangkum dari buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional terbitan Museum Sumpah Pemuda, serta buku Sejarah Indonesia Kelas XI: Sumpah Pemuda karya Alin Rizkiyan Putra yang diterbitkan oleh Kemdikbud, lahirnya ikrar pemuda ini merupakan hasil perjuangan panjang yang dimulai sejak Kongres Pemuda I pada 1926.
Puncak perumusan terjadi pada Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Di akhir kongres inilah, lagu "Indonesia Raya" ciptaan WR Supratman diperdengarkan untuk pertama kalinya melalui gesekan biola.
Menurut buku Sejarah Hukum Indonesia karya Sutan Remy Sjahdeini, para peserta sebenarnya ingin lagu tersebut dinyanyikan dengan lirik. Theodera Athia Salim (Dolly Salim), putri dari Agus Salim, diminta menyanyikannya untuk pertama kali. Namun, demi menghindari sensor dan represi, kata 'merdeka' dalam lirik diganti menjadi 'mulia'.
Kongres kemudian ditutup dengan pembacaan hasil keputusan yang menjadi ikrar Sumpah Pemuda dengan ejaan masa kini sebagai berikut:
- Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
- Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
- Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Nah, itulah sejarah singkat mengenai George Obos dan Jong Borneo dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Dengan keberadaan mereka, tentu pemuda Kalimantan tidak boleh dilupakan dalam sejarah perjuangan Indonesia.
