Jalanan berlumpur dan akses yang sulit tak menyurutkan langkah para relawan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Seperti yang dilakukan Andi Akell, dia harus menembus hutan untuk mengantar logistik.
Relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) itu menjadi ojek dadakan dengan menggunakan sepeda motor. Kendaraan roda dua itu menjadi penghubung bagi para relawan yang bertugas di lokasi berjauhan, untuk memastikan kebutuhan mereka tetap tersedia saat upaya pemadaman dan penjagaan kawasan terus berlangsung.
Sebagai anggota YOHK, Andi telah berminggu-minggu terlibat dalam penanganan karhutla. Bersama relawan lainnya, ia menghadapi medan yang tidak mudah, mulai dari akses jalan yang kurang memadai hingga titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kawasan Beguruh, sejumlah relawan mendapat tugas menjaga sekat bakar. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengendalikan penyebaran api agar tidak meluas ke area hutan lainnya, termasuk kawasan di sekitar Camp Tanjung Harapan.
Jarak antara Camp Beguruh dan Camp Tanjung Harapan diperkirakan mencapai 5 hingga 8 kilometer. Jarak tersebut bukan persoalan sepele ketika harus ditempuh dengan berjalan kaki, terlebih jika relawan membawa perlengkapan kerja dan kebutuhan logistik untuk bertugas dalam waktu lama.
Di sinilah peran Andi menjadi berarti. Sepeda motor yang digunakannya membantu mempercepat perjalanan antarlokasi, termasuk mengantarkan berbagai kebutuhan bagi relawan yang berjaga dan bermalam di dalam hutan.
"Meski jalannya tidak bagus, motor ini sangat membantu kami melakukan aktivitas sehari-hari di sini," ujar Andi salah satu anggota YOHK yang terlibat dalam penanganan karhutla di Tanjung Puting, Minggu sore.
Bagi sebagian orang, mengantarkan logistik mungkin terlihat seperti pekerjaan kecil. Namun, di tengah situasi darurat, ketersediaan makanan, air minum, dan perlengkapan pendukung menjadi bagian penting agar relawan dapat terus menjalankan tugasnya.
Apalagi, mereka harus berpindah dari satu titik ke titik lain dengan kondisi medan yang menguras tenaga. Sementara itu, perjuangan para relawan belum berakhir. Sejumlah titik api di sekitar Camp Tanjung Harapan masih menjadi perhatian.
"Besarnya api dan sulitnya akses menuju lokasi membuat upaya penanganan tidak bisa dilakukan dengan mudah," katanya.
Para relawan harus membagi tenaga antara membantu pemadaman, memantau kondisi kawasan, dan menjaga sekat bakar. Setiap tugas memiliki peran dalam mengurangi risiko kebakaran meluas ke wilayah lain yang menjadi habitat berbagai satwa liar.
Taman Nasional Tanjung Puting sendiri merupakan kawasan penting bagi kelangsungan hidup satwa, termasuk orang utan. Kebakaran yang melanda kawasan hutan bukan hanya mengancam pepohonan dan vegetasi, tetapi juga berpotensi mengganggu ruang hidup satwa yang bergantung pada hutan sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
Di tengah kondisi tersebut, harapan terhadap turunnya hujan terus disampaikan. Hujan deras yang berlangsung selama beberapa hari diharapkan dapat membantu meredakan api, terutama di lokasi yang sulit dijangkau oleh tim pemadam.
"Saya pribadi berharap semoga turun hujan lebat selama beberapa hari, karena api di sini sangat besar dan susah dijangkau. Kami tetap akan melakukan yang terbaik untuk menjaga hutan dan satwa yang tinggal di Taman Nasional Tanjung Puting," ujarnya.
Harapan itu menjadi gambaran betapa beratnya perjuangan yang sedang dijalani para relawan. Mereka harus menghadapi medan yang sulit, api yang mengancam, serta keterbatasan akses untuk menjangkau lokasi kebakaran. Namun, selama masih ada kawasan yang perlu dijaga, upaya penanganan terus dilakukan sesuai kemampuan di lapangan.
