Awan Minim Bikin OMC di Kobar Tak Maksimal, Hujan Diharapkan Turun November

Kalimantan Tengah

Awan Minim Bikin OMC di Kobar Tak Maksimal, Hujan Diharapkan Turun November

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Sabtu, 24 Okt 2026 16:30 WIB
Ilustrasi hujan
Ilustrasi hujan. Foto: Ferdi Almunanda/detikcom
Kotawaringin Barat -

Upaya mendatangkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, belum berjalan maksimal. Minimnya awan potensial dan kondisi atmosfer yang kurang mendukung membuat penyemaian awan tidak bisa dilakukan sesering yang diharapkan, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman.

Kabar baiknya, musim hujan diperkirakan mulai datang secara bertahap dari wilayah utara Kobar pada akhir Oktober hingga November 2026. Hujan diharapkan membantu membasahi lahan kering yang selama ini rentan terbakar.

Forecaster on Duty BMKG Kobar, Maulidianto, mengatakan keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai serta kondisi atmosfer saat operasi berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awal musim hujan di wilayah Kotawaringin Barat diperkirakan terjadi secara bertahap dari wilayah bagian utara pada akhir Oktober hingga bulan November," kata Maulidianto, Sabtu (24/10/2026).

Menurut dia, selama pelaksanaan OMC, frekuensi penyemaian awan tidak banyak dilakukan. Kondisi tersebut disebabkan terbatasnya awan potensial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.

"OMC sendiri bukan teknologi yang bisa menciptakan hujan dalam segala kondisi. Penyemaian hanya dapat dilakukan apabila terdapat awan yang memenuhi persyaratan dan kondisi atmosfer mendukung proses pembentukan hujan," katanya.

Saat ini, posko OMC di Pangkalan Bun juga sedang tidak beroperasi. Namun, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kapan kegiatan tersebut akan kembali dilaksanakan.

BMKG mencatat tren penurunan jumlah titik panas atau hotspot harian selama periode pelaksanaan OMC. Meski demikian, penurunan tersebut tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan operasi modifikasi cuaca semata.

Maulidianto menjelaskan, penanganan karhutla secara terpadu oleh berbagai pihak turut berperan dalam mengendalikan kebakaran. Pemadaman di lapangan dan langkah pencegahan tetap menjadi bagian penting untuk menekan jumlah titik api serta mencegah kebakaran meluas.

"Kondisi cuaca yang kering juga menjadi tantangan tersendiri. Curah hujan yang rendah, suhu udara tinggi, dan kelembapan yang rendah membuat vegetasi serta lahan lebih mudah terbakar. Ketika angin bertiup, api dapat menjalar lebih cepat ke area sekitarnya," ujarnya.

Karena itu, kedatangan musim hujan menjadi salah satu hal yang paling dinantikan dalam upaya menekan risiko karhutla di Kobar. Namun, perkiraan awal musim hujan tidak berarti seluruh wilayah akan langsung diguyur hujan secara merata.

Pemantauan cuaca juga menjadi penting untuk menentukan peluang pelaksanaan OMC, mengingat efektivitas penyemaian sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial.

"Dengan kondisi tersebut, hujan yang diperkirakan mulai turun pada akhir Oktober hingga November diharapkan dapat membantu mengurangi kekeringan. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan kerja terpadu dan tidak bisa hanya mengandalkan operasi modifikasi cuaca," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads