Ratusan titik panas masih terdeteksi di wilayah Kumai, Kotawaringin Barat (Kobar), yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kobar, sebanyak 426 titik panas terpantau di wilayah Kotawaringin Barat dalam pembaruan data selama 24 jam terakhir. Sebanyak 408 titik di antaranya berada di wilayah Kumai.
Banyaknya titik panas tersebut menjadi perhatian di tengah kabut asap yang mengurangi jarak pandang di sejumlah bagian kota. Kawasan Bundaran Pancasila, Pangkalan Bun, menjadi salah satu lokasi yang terlihat diselimuti asap pada Kamis pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prakirawan BMKG Iskandar Pangkalan Bun, Afif Rowina Khairi mengatakan, tingginya jumlah titik panas berkaitan dengan kondisi asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
"Betul adanya, asap ini dikarenakan titik hotspot yang masih banyak terjadi di sekitar wilayah Kotawaringin Barat. Wilayah Kumai menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, wilayah tersebut berdekatan dengan TNTP, kawasan konservasi yang sebelumnya juga dilanda kebakaran," kata Afif, Kamis (22/10/2026).
Namun, banyaknya titik panas di Kumai belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh kabut asap yang menyelimuti Pangkalan Bun berasal dari kebakaran di dalam kawasan TNTP. Diperlukan pencocokan titik panas dengan lokasi kebakaran aktif, disertai analisis arah angin dan pergerakan asap.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kobar masih perlu diwaspadai. Titik panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan api dan mencegah kebakaran meluas.
Selain mengganggu jarak pandang, kabut asap juga berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap dapat memicu iritasi mata, batuk, dan gangguan saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan.
"Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap menebal. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai dan mengurangi paparan asap sebisa mungkin," katanya.
Pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan kondisi cuaca menjadi penting untuk mengetahui potensi penyebaran asap. Informasi dari petugas lapangan juga diperlukan guna memastikan lokasi kebakaran yang masih aktif, terutama di wilayah Kumai dan kawasan sekitarnya.
