YS, balita berusia 1 tahun 2 bulan, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Ibunya, Sindhy Jumatun (25), mengaku sempat membawa anaknya ke rumah sakit hingga puskesmas sebelum akhirnya dirawat inap dalam kondisi pernapasan yang terus memburuk.
Sindhy mengatakan, gejala sesak napas mulai dialami YS sekitar sepekan sebelum meninggal. Pada Kamis (8/10), warga Kelurahan Bukuan Kecamatan Palaran tersebut membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun, saat itu kondisi YS disebut masih dinilai normal.
"Sesak napasnya itu sejak seminggu yang lalu. Hari Kamis itu sudah saya bawa ke rumah sakit, cuma kan belum parah. Saturasinya masih normal," kata Sindhy kepada detikKalimantan saat ditemui, Jumat (16/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sindhy, saat pemeriksaan pertama belum ditemukan suara tambahan pada pernapasan anaknya. Dokter saat itu menyampaikan kemungkinan YS hanya akan mengalami batuk atau pilek.
Namun, Sindhy melihat kondisi anaknya semakin memburuk dari hari ke hari. Pada Rabu (14/10) lalu, dia membawa putrinya tersebut ke puskesmas untuk kembali diperiksa.
"Karena menurun, akhirnya saya bawa periksa ke puskesmas," tuturnya.
Kata dia, dokter di puskesmas menemukan adanya suara tambahan pada pernapasan YS. Dokter kemudian menyarankan agar anaknya menjalani rawat inap.
Sindhy selanjutnya membawa YS ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit. Namun, dia mengaku mendapat penjelasan bahwa kondisi anaknya masih normal.
"Di IGD, saya sampaikan apa yang disampaikan dokter di puskesmas kalau ini sudah ada tarikan napasnya, sudah ada tambahan suara. Tapi dokter di IGD bilang enggak apa-apa, soalnya bayi 1 tahun itu pernapasannya masih lewat perut," tuturnya.
Meski mendapat penjelasan tersebut, Sindhy mengaku tetap khawatir karena pola napas anaknya terlihat berbeda dari biasanya. Dia kemudian menghubungi dokter puskesmas untuk meminta surat rujukan agar YS dapat diperiksa di poli anak.
"Karena khawatir, saya kembali ke puskesmas untuk minta rujukan ke dokter poli anak. Dokter di poli bilang, 'Bu, ini sudah ada tarikan napasnya. Ini adik harus opname. Kenapa Ibu enggak langsung ke IGD?' Saya jawab, saya dari IGD, tapi kata IGD disuruh rawat jalan," jelasnya.
Setelah kembali ke IGD, YS dipasangi infus dan menjalani nebulisasi sebelum mendapatkan kamar perawatan. Sindhy mengatakan kondisi anaknya sempat membaik setelah menjalani perawatan, tetapi kembali memburuk sejak tengah malam hingga menjelang subuh.
Dia mengaku beberapa kali menekan bel untuk meminta bantuan perawat karena melihat napas anaknya semakin berat. Menjelang pagi, kondisi YS semakin kritis hingga tubuhnya membiru.
"Badannya langsung biru. Perawat bilang didudukkan saja, Bu. Saya dudukkan dan peluk, bibirnya juga membiru. Enggak lama napasnya sudah hilang," kata Sindhy.
Sindhy menuturkan tenaga medis kemudian melakukan tindakan resusitasi hingga YS sempat kembali bernapas, meski kondisinya lemah. Setelah itu, YS dipindahkan ke ruang pediatric intensive care unit (PICU). Namun, upaya penanganan di ruang PICU tidak berhasil menyelamatkan YS. Balita tersebut dinyatakan meninggal dunia pada pukul 06.47 Wita.
"Di PICU itu cuma sebentar, karena penanganan saja. Jadi kalau ada yang menyebutkan anak saya menginap satu malam di PICU itu keliru," kata dia.
Lebih jauh, Sindhy menegaskan anaknya tidak memiliki riwayat asma maupun penyakit bawaan yang berkaitan dengan pernapasan. Dia menyebut YS memiliki keterlambatan tumbuh kembang dan peradangan pada mata yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap dua pekan.
"Anak saya tidak memliki riwayat penyakit pernapasan. Kondisi bawaannya hanya keterlambatan tumbuh kembang dan peradangan di mata. Dari umurnya tujuh atau delapan bulan, setiap dua minggu sekali saya bawa kontrol. Dan selama itu juga tidak pernah ada riwayat keluhan pernapasannya seperti asma atau yang lain," tegasnya.
Di sisi lain, Sindhy juga mengatakan ada asap dan abu diduga dari kebakaran lahan yang kerap sampai ke lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, abu berwarna hitam sering terlihat di sekitar rumah pada pagi hari.
"Ini tiap pagi abu bekas bakaran pasti ada. Anginnya hampir tiap hari ke sini. Asapnya sampai ke rumah. Tapi apakah itu yang menjadi penyebab kondisi anak saya? Saya tidak bisa bicara banyak. Yang jelas anak saya mengalami sesak napas," pungkasnya.
Simak Video "Video: Kemensos Ambil Pelajaran dari Kasus Meninggalnya Balita Raya"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
