Bahaya Karbon Monoksida, Silent Killer yang Lagi Intai Indonesia

Bahaya Karbon Monoksida, Silent Killer yang Lagi Intai Indonesia

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 16 Okt 2026 13:30 WIB
Kabut asap di sekitar area Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru.
Kabut asap di sekitar area Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru/Foto: Khairun Nisa/detikKalimantan
Balikpapan -

Karbon monoksida (CO) terlihat menutupi atmosfer Indonesia selama beberapa bulan setelah karhutla melanda Kalimantan. Pantauan NASA per Jumat (16/10/2026) menunjukkan gas CO mengepung Indonesia dengan konsentrasi mencapai 160 ppbv. Bagaimana bahayanya?

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang terbentuk saat bahan bakar mengandung karbon seperti bensin, kayu, arang, atau minyak, terbakar tidak sempurna. Gas ini juga dihasilkan oleh kendaraan bermotor, kebakaran, dan generator. Tidak berwarna dan tidak berbau, CO harus tetap diwaspadai karena bisa menyebabkan keracunan hingga kematian.

Jika terhirup, gas CO akan berikatan dengan hemoglobin (protein dalam sel darah merah). Ikatan keduanya membentuk karboksihemoglobin (COHb) yang mengganggu kerja darah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Akibatnya, organ-organ penting terutama otak dan jantung mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia. Kalau terpapar dalam waktu lama, penderitanya bisa mengalami keracunan berat, kehilangan kesadaran, bahkan kematian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahaya CO karena gejalanya tidak selalu khas. Gejala awalnya bahkan bisa mirip seperti flu atau penyakit ringan lain, sehingga banyak yang tidak sadar jika telah terpapar gas beracun. Gejala keracunan CO antara lain:

  • Sakit kepala dan pusing
  • Tubuh lemas atau kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
  • Gangguan keseimbangan dan penglihatan
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran pada keracunan berat

Karena tidak berbau maupun berwarna, CO disebut silent killer. Orang-orang dengan penyakit bawaan bisa sangat dirugikan dari paparan CO. Kemenkes menyebut paparan gas CO bisa memperparah iskemic miokard (kondisi ketika aliran darah ke jantung berkurang) pada orang dengan penyakit jantung koroner.

Selain itu, bahaya juga mengintai anak-anak, apalagi kasus ISPA di Kalimantan semakin meningkat. Kemenkes mencatat 283 kasus ISPA selama karhutla berlangsung beberapa bulan terakhir. Selain PM 2.5, CO dari karhutla juga punya efek samping yang berbahaya jika terhirup anak-anak. Gejalanya yang paling terlihat adalah sesak, pusing, dan gangguan kesadaran.

Cara Cegah Paparan Karbon Monoksida

Bukan hanya karena karhutla, CO juga berasal dari asap kendaraan atau aktivitas sehari-hari. Agar risiko paparan berkurang, Kementerian Kesehatan dan WHO memberikan langkah pencegahan. Yang pertama, pastikan ventilasi rumah terbuka dan udara dari luar bisa masuk. Kedua, jangan nyalakan alat yang menggunakan bahan bakar di dalam rumah, contohnya generator, pemanas ruangan berbahan bakar gas, atau alat pembakaran lainnya, baik di dalam rumah maupun garasi.

Jika merasakan gejala keracunan CO seperti yang dijelaskan di atas, langsung keluar ruangan dan cari udara segar. Periksakan ke pusat kesehatan terdekat bila mengalami sesak napas, kebingungan, atau penurunan kesadaran. Pantau kualitas udara di sekitar lokasi detikers untuk mengetahui potensi paparan gas berbahaya.

Dengan memahami sumber, gejala, dan dampaknya, semoga kita bisa lebih waspada dan terhindar dari bahaya karbon monoksida yang sedang parah di Indonesia. Selalu jaga kesehatan detikers!



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads