Pemerintah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing hujan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah, yang terdampak karhutla. Penyemaian awan dijadwalkan berlangsung pada 15-16 Oktober 2026, di tengah kendala operasional penerbangan dari sejumlah bandara di Kalteng.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan berbagai upaya terus dilakukan untuk mengendalikan kebakaran di kawasan konservasi tersebut. Pemerintah pusat dan daerah bersama TNI, Polri, BMKG, serta BNPB dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla.
"Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat. Tidak akan cuci tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan kita lakukan akan kita lakukan," kata Raja Juli, Rabu (14/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, OMC menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat membantu pemadaman. Melalui penyemaian awan, pemerintah berupaya memicu hujan agar kondisi lahan yang terbakar dapat lebih mudah dikendalikan.
Namun, pelaksanaan operasi tersebut menghadapi kendala karena pesawat pendukung tidak dapat diterbangkan dari Bandara Tjilik Riwut dan Lanud Iskandar di Pangkalan Bun. Sebagai alternatif, penerbangan untuk mendukung OMC direncanakan berangkat dari Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan.
"Kita terbangkan dari Bandara Syamsudin Noor, Kalsel, untuk OMC. Awan hujan kita semai. Mudah-mudahan pada tanggal 15 dan 16 akan ada awan hujan," ujarnya.
Selain mengupayakan modifikasi cuaca, pemerintah juga menyiapkan tambahan kekuatan untuk pemadaman langsung di lapangan. Personel darat dan dukungan pemadaman dari udara diharapkan mulai digeser dari Banjarmasin pada Kamis (15/10/2026), dengan mempertimbangkan kesiapan operasional dan kondisi di lokasi kebakaran.
"Apabila pengerahan dari Banjarmasin belum memungkinkan, pemerintah akan mencari alternatif dari wilayah lain yang kondisi karhutlanya mulai membaik. Daerah dengan jumlah titik panas yang menurun dan kepulan asap yang tidak terlalu pekat menjadi pertimbangan untuk mendukung operasi di TN Tanjung Puting," katanya.
Kuala Pembuang juga disebut sebagai salah satu wilayah yang berpotensi menjadi titik dukungan pengerahan personel. Pemanfaatan sumber daya dari daerah tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kemungkinan mobilisasi pasukan.
Raja Juli menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kombinasi berbagai langkah, mulai dari rekayasa cuaca hingga pemadaman langsung melalui jalur darat dan udara. Koordinasi lintas instansi diperlukan agar personel dan peralatan dapat dikerahkan secara efektif.
"Meski demikian, keberhasilan operasi masih bergantung pada kondisi awan, cuaca, akses penerbangan, serta perkembangan kebakaran di lapangan," pungkasnya.
