Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas warga yang menikmati Car Free Day (CFD) di Pangkalan Bun Park, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah pada Minggu (11/10) pagi. Sejumlah pengunjung memilih mengakhiri kegiatan lebih awal karena kondisi udara yang semakin tidak nyaman.
Padahal, kawasan tersebut tetap dipadati masyarakat yang ingin berolahraga, berburu kuliner, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga pada akhir pekan. Namun, asap yang menyelimuti lokasi membuat sebagian warga tidak bisa menikmati kegiatan seperti biasanya.
Salah seorang pengunjung, Erni (33), mengaku sempat bimbang saat hendak membawa anak-anaknya ke CFD. Ia sudah mengetahui adanya kabut asap, tetapi memperkirakan kondisinya tidak akan terlalu parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena anak-anaknya ingin menikmati suasana CFD, Erni akhirnya tetap berangkat bersama keluarga. Mereka sempat berolahraga dan menikmati sejumlah jajanan sebelum memutuskan pulang.
"Sudah tahu kalau mulai ada kabut asap, tapi saya kira tidak terlalu tebal. Tadi sempat berolahraga sebentar, tapi memutuskan untuk pulang karena asapnya cukup tebal," kata Erni, Minggu (11/10/2026).
Bagi masyarakat, CFD bukan sekadar tempat berolahraga. Kawasan itu juga menjadi ruang berkumpul bersama keluarga, tempat anak-anak bermain, sekaligus lokasi berburu kuliner pada Minggu pagi.
"Namun, kabut asap akibat karhutla membuat kegiatan sederhana tersebut ikut terganggu. Warga yang datang untuk menikmati akhir pekan justru dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan aktivitas atau meninggalkan lokasi demi mengurangi paparan asap," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, angka partikel halus PM2.5 di Pangkalan Bun mencapai 592,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Sabtu (10/10). Kondisi udara ini masuk dalam kategori berbahaya.
Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardino, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar disarankan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 dengan pemasangan yang rapat agar perlindungannya lebih optimal. Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang semakin parah.
"Bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian khusus selama kondisi udara memburuk. Jadi harus waspada," katanya.
