Asap Karhutla Kalimantan Sampai Malaysia-Singapura, Risiko Masih Tinggi

Asap Karhutla Kalimantan Sampai Malaysia-Singapura, Risiko Masih Tinggi

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 11 Okt 2026 09:00 WIB
Formula One F1 - Singapore Grand Prix - Marina Bay Street Circuit, Singapore - October 8, 2026 General view of the circuit ahead of the race REUTERS/Edgar Su
Kabut asap di Singapura. Foto: REUTERS/Edgar Su
Samarinda -

Kabut asap akibat karhutla di Kalimantan terpantau meluas hingga ke negeri tetangga. Laporan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), kabut asap sedang hingga pekat menyelimuti sebagian Kalimantan, Sarawak, Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Sumatra bagian selatan pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Terlihat dalam pantauan ASMC pada 10 Oktober pukul 19.52 Wib, cuaca kering masih mendominasi sebagian besar kawasan ASEAN bagian selatan. Hotspot terdeteksi tersebar di Kalimantan dan Sumatra, sementara sejumlah titik lainnya terpantau juga di Jawa dan Sulawesi.

Kabut asap pekat terpantau di Kalimantan dan Sumatra bagian selatan. Dari kedua titik itu, asap bergerak ke arah Malaysia dan Singapura. Kualitas udara juga terpantau dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya di Semenanjung Malaysia, Singapura, Kalimantan, dan Sumatra.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam prakiraan beberapa hari ke depan, ASMC memperkirakan kondisi kering masih terjadi di banyak wilayah ASEAN bagian selatan. Hujan diprakirakan turun di bagian utara dan tengah Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan sebagian wilayah Borneo. Angin di kawasan ASEAN bagian selatan bertiup dari timur-tenggara menuju selatan. Kondisi angin ini yang memengaruhi pergerakan asap antar daerah di ASEAN.

Pantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC).Pantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Foto: Dok. ASCM

El Nino Berpotensi Perpanjang Kondisi Kering

Risiko kabut asap juga dipengaruhi oleh kondisi iklim beberapa bulan ke depan. Dalam publikasi Seasonal Forecast for October-December 2026, ASMC memprediksi curah hujan di bawah normal berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Maritime Continent Asia Tenggara.

El Nino yang sedang berlangsung diprediksi menguat pada Oktober-November 2026. Fenomena ini memicu penurunan curah hujan di sebagian besar kawasan Maritim Asia Tenggara, termasuk beberapa wilayah di Indonesia. Penurunan curah hujan juga berdampak pada peningkatan titik panas dan kabut asap di kawasan ASEAN bagian selatan. Risiko kabut asap lintas negara tetap ada selama kondisi angin mendukung pergerakan asap.

Walaupun risiko kabut asap diperkirakan masih tinggi di kawasan yang mengalami cuaca kering, ASMC juga menyebut bahwa perubahan pola musim akan dimulai menjelang akhir Oktober. Peralihan dari Monsun Barat Daya menuju periode peralihan (inter-monsoon) diperkirakan membawa hujan ke selatan ASEAN. Perubahan ini terjadi seiring bergesernya awan hujan ke arah khatulistiwa.

Informasi cuaca dan kabut asap di ASEAN bisa dipantau melalui https://asmc.asean.org/. Sementara itu, untuk perkembangan titik panas, karhutla, dan kualitas udara di masing-masing daerah Indonesia bisa dipantau di laman https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/ dan https://iklim.bmkg.go.id/id/kualitas-udara-indonesia/.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads